Kamis, 21 April 2011

Aku dan Kompor Gas Quantum

Oleh : Imla Wifra Ilham


Bermula kisah dari Andre “Stinky” Taulani. Iklan Kompor Gas merk Quantum yang ditayangkan di beberapa TV swasta, menarik perhatian dua kecil putri mungil saya, Iffa Ilham dan Malika Ilham. Andre Taulany yang merupakan salah seorang personil “Opera van Java” – yang juga menjadi tontonan favorit keluarga saya – menjadi bintang iklannya. Kebetulan, beberapa bulan lalu, saya dan suami berencana ingin “bermetamorfosis” dalam urusan kompor. Selama ini, kami lebih merasa nyaman menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah. Mengingat borosnya pemakaian minyak tanah, ditambah lagi asap kompor minyak tanah ini membuat loteng dan dinding dapur menghitam, akhirnya saya dan suami berencana menggunakan kompor gas. Ketika kami berdua sepakat, suami saya bertanya, “apa merk kompor gas yang elegan, hemat dan tidak berbahaya” (hehehehe …. permintaannya three in one). Langsung dengan spontan, dua putri mungil kami menyela, “kompor Quantum saja ibu”. Suami saya bertanya, “kenapa harus Quantum ?”. Si bungsu menjawab, “tidak panas dan hemat gas” (belakangan kami-pun tahu, “tidak panas dan hemat gas” merupakan bagian dari kata-kata yang diucapkan Andre Taulany dalam iklan kompor gas Quantum tersebut). Klop-lah. Saya dan suami bersepakat untuk membeli kompor gas ber-merk Quantum. “Tidak panas dan hemat gas” setidaknya mengakomodir permintaan three in one suami saya, walaupun hanya two in one, sekaligus mengabulkan rekomendasi dua putri mungil kami.

Melalui seorang kenalan yang orang tuanya mempunyai toko alat-alat elektronik, yang tentunya juga menjual kompor gas berbagai merk, saya kemudian memesan kompor gas Quantum ini. Setelah di cek merk kompor gas merk Quantum tidak ada di toko elektronik orang tua kenalan saya ini. “Quantum ini merk yang berkualitas sehingga harganya agak mahal sehingga tidak banyak dijual di pasaran, tapi saya bisa mengusahakannya”, kata orang tua kenalan saya ini. Ia kemudian mencari ke distributor resmi di kota Padang. Akhirnya kompor gas merk Quantum ini dapat dan kemudian diantar kerumah kami oleh kenalan saya tersebut. Sesampai di rumah, kompor gas ini kemudian dipasang dan selanjutnya dinyalakan. Namun kompor gas ini tidak menyala. Petunjuk-pun sudah dibaca. Kenalan saya ini sudah biasa menggunakan kompor gas “merk lain”, jadi dia sudah terbiasa menggunakan “prosedur tetap” agar kompor gas bisa menyala. Tetangga-pun sudah saya hubungi dengan harapan mereka bisa membantu. Maklum, banyak diantara mereka yang sudah lama menggunakan kompor gas. Tapi tetap, ikhtiar ini tak membuahkan hasil …. kompor gas bermerk Quantum ini tidak bisa menyala. Kenalan saya ini langsung menghubungi orang tuanya dan menceritakan kondisi ini. “Lho kenapa tidak menyala ? Waktu saya beli di distributor, kompor ini sudah saya tes, hidup !”, kata orang tua kenalan saya ini melalui handphone. Praktis, hari itu kompor Quantum tidak bisa menyala.


Besoknya, orang tua kenalan saya ini langsung menyuruh anak laki-lakinya datang ke rumah saya. Anak laki-laki ini adalah adik laki-laki dari kenalan saya tadi. Ucok, namanya. Setelah di coba, di utak-atik, buku penuntun kembali dilihat, si-Quantum ini tetap juga tidak menyala. “Iyolah paniang wak ma, lah banyak kompor nan den pasang, tibo di Quantum koa mati kutu wak !” (pusing saya, sudah banyak saya memasang peralatan kompor gas, baru kali ini saya mati kutu!), kata si Ucok. Saya lihat, Ucok mulai kebingungan. Kemudian ia menelepon distributor tempat Quantum ini di pesan. Diceritakan keadaan kompor gas Quantum yang tidak bisa menyala ini. Oleh pihak distributor disarankan agar teknisinya dijemput. Si Ucok kemudian berangkat ke kantor distributor yang jaraknya lebih kurang 15 kilometer dengan sepeda motor. Pulang pergi, 30 kilometer. Hampir satu jam, si Ucok bersama dengan seorang teknisi, tiba ke rumah saya. Teknisi ini kemudian langsung ke dapur dan melihat kondisi kompor. Sesaat kemudian, ia langsung membalikkan posisi “kembang api” yang telah terpasang (sebelumnya posisi “kembang api” tersebut, wadah yang bergerigi menghadap ke atas). Setelah dibalikkannya, wadah “kembang api” yang tidak bergerigi menghadap ke atas. Seterusnya dinyalakan ……… nyala deh !. Kemudian saya tertawa, tepatnya terbahak-bahak. Teknisinya heran, “mengapa ibu tertawa ?”. “Saya beranggapan ada kerusakan berarti pada kompor gas Quantum ini. Sejak kemaren saya dan kenalan saya ini, bahkan tetangga saya, mengutak-atik si Quantum ini. Bahkan buku petunjuk telah kami baca. Tak hidup jua. Rupanya, gara-gara posisi letak kembang api yang tidak tepat, Quantum tak menyala”. Kami semua-pun tertawa. Gara-gara posisi “kembang api” yang sebenarnya terkesan simple, membuat kenalan saya, tetangga dan si-Ucok pusing serta “menyerah”.

Ketika suami saya pulang dari kampus, saya ceritakan kejadian “kembang api” nan lucu ini. Ia-pun tertawa sambil berjalan ke arah dapur. Saya lihat, ia merasa puas melihat texture dan performance Quantum ini. “Gagah dan elegan”, katanya. Saya merasa senang. Dua putri kami menyela, “Quantum, tidak panas dan hemat gas”. Three ini one suami saya nampaknya terkabul sudah. Dan hingga hari ini, sudah tiga bulan, kompor gas Quantum masih menyala. Memang hemat !. Terima kasih putri mungilku yang telah memperkenalkan Quantum pada saya. Dan meneer Andre, setiap kali iklan Quantum anda keluar, putri kami senang dan spontan berkata, “Quantum, tidak panas dan hemat gas !”. Biasanya si-bungsu meningkahinya dengan ucapan, “minta jagungnya dong !”. Rupanya, si Andre ini diatas mobil Quantum sedang makan jagung rebus.

(Alhamdulillah, artikel ini menjadi Pemenang II Penulisan di Tabloid GENIE tentang topik "Aku dan Kompor Gas Quantum").

Sabtu, 09 April 2011

Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia Muslim

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Kisah macam ‘Kancil Mencuri Timur’ juga dikenal di dunia Arab. Salah satu buku dongeng binatang yang dikenal Muslim sejak lama ialah “Kalila wa Dimna”. Buku ini adalah salah satu karya terlaris selama dua ribu tahun dan hingga kini masih digemari banyak orang di dunia Arab. Buku yang berarti Kalila dan Dimna–dinamai dari dua anjing hutan yang menjadi karakter utama–ditulis sebagai panduan dan instruksi pelayanan sipil. Kisah-kisahnya begitu menghibur hingga diterima di setiap kelas, menjadi dongeng rakyat di dunia Muslim. Orang Arab membawa kisah-kisah itu ke Spanyol, di sana buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Spanyol Tua, pada abad ke-13. Saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, itu merupakan kali pertama buku tampil dalam versi cetak, setelah mesin cetak ditemukan. Kalila dan Dimna aslinya ditulis dalam Bahasa Sansekerta, diperkirakan dari Kashmir pada abad ke-4. Dalam Sansekerta buku ini disebut Panchatantra atau “Lima Wacana”. Buku tersebut sebenarnya ditulis untuk tiga pangeran muda yang telah membuat guru mereka putus asa dan sang ayah terganggu.

Raja takut memercayakan kerajaannya ke para putranya yang tak mampu menguasai pelajaran paling mendasar. Raja mendatangi wazirnya yang bijaksana untuk meminta bantuan dan si wazir pun menulis Panchatantra. Buku itu mengungkapkan kebijaksanaan besar dalam kisah-kisah fabel binatang yang mudah dicerna. Enam bulan kemudian para pangeran sudah berada di jalan kebijaksanaan. Ketika raja mangkat, mereka menggantikan kepemimpinan ayahnya dengan penuh keadilan. Dua ratus tahun kemudian, seorang shah Persia mengutus dokter pribadinya, Burzoe, ke India untuk menemukan jenis herbal tertentu yang konon mampu menghadirkan kehidupan abadi bagi mereka yang memakannya. Alih-alih, Burzoe malah membawa satu salinan Panchatantra, yang ia klaim sama baiknya dengan herbal ajaib karena ia menghadirkan kebijaksanaan besar ke pembacanya. Shah memerintahkan Burzoe mengalihbahasakan ke Pehlavi, bentuk kuno Bahasa Persia. Ia begitu menyukai buku itu hingga menyimpannya dalam satu ruang khusus di dalam istananya. Tiga ratus tahun berselang, setelah Muslim menguasai Persia dan Timur Dekat, seorang Persia yang telah memeluk Islam, bernama Ibnu al Mukaffah, menemukan buku itu dalam bahasa Pehlavi terjemahan Burzoe. Ia pun mengalihbahasakan lagi ke Arab dengan gaya penuturan begitu mengalir hingga sampai sekarang orang masih menganggapnya model prosa asli Arab.

Keberadaan buku tersebut menyebar ke berbagai negara termasuk Yunani, yang menjadi cikal sumber terjemahan versi berbagai bahasa di Eropa, mulai Latin, Slavia dan Jerman. Sementara versi Bahasa Arabnya juga diterjemahkan ke Bahasa Ethopia, Suriah, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Laos dan Siam. Pada abad ke-19 Kalila wa Dimna diterjemahkan ke Hindustan, dengan demikian melengkapi siklus yang dimulai 1.700 lalu di Kashmir. Tidak semua versi adalah terjemahan sederhana. Buku itu sudah diperluas, diperpendek, mengalami modifikasi, penambahan dan penghilangan figur serta dipermak oleh sejumlah penerjemah dengan jumlah tak terhitung. Salah satu kisah di bawah ini tidak termasuk dalam versi Sansekerta, juga tak ada di sebagian besar manuskrip Arab salinan Ibnu al Mukaffah, namun yang menarik ia telah memasuki daratan Eropa–masih dianggap dongeng dari Arab–dan menjadi kisah cukup terkenal di sana, berjudul “Memasang Bel ke Leher Kucing. Cerita serupa mungkin bisa ditemukan di antologi dongeng lain, juga dalam Brothers Grimm. Bedanya, tikus-tikus Arab menyelesaikan masalah mereka jauh lebih tajam ketimbang sepupu mereka di barat. Berikut kisahnya.

“Dahulu di tanah para Brahma terdapatlah sebuah rawa bernama Dawran yang membentang di semua penjuru dengan jarak ribuan kilometer. Di tengah rawa tersebut ada sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak daya tarik, keistimewaan dan penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau. Dalam kota ada seekor tikus bernama Mahraz, ia memimpin seluruh tikus yang hidup di kota itu dan juga desa-desa di pinggir kota. Ia memiliki tiga wazir yang siap memberi nasehat untuk bermacam urusan. Suatu hari para wazir berkumpul di hadapan raja tikus untuk mendiskusikan berargam masalah. Di tengah perbincangan, raja berkata, “Apakah mungkin membebaskan diri kita dari teror turun-menurun yang kita dan juga nenek moyang kita rasakan terhadap kucing?” “Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan kita terhadap Kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian pikir harus kita lakukan?”

“Saran saya,” ujar wazir pertama, “adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang kita.” Raja menoleh ke wazir kedua dan berkata,” Bagaimana menurut kamu saran kolegamu?” “Saya kira itu saran buruk,” ujar wazir kedua. “Setelah mengumpulkan semua bel yang dibutuhkan, lalu siapa yang berani memasang ke leher bahkan anak kucing terkecil sekalipun, apalagi tipe kucing jalanan veteran?” “Dalam opini saya, kita harus bermigrasi dari kota dan tingga di desa selama setahun hingga orang-orang kota berpikir bahwa mereka dapat mulai mengeluarkan kucing karena tak punya sumber buruan. Orang-orang akan menendang mereka keluar, atau mungkin membunuh para kucing. Mereka akan tersebar dan hidup liar dan tak lagi cocok untuk kucing rumahan. Lalu kita dapat pulang kembali dengan aman ke kota dan hidup selamanya tanpa cemas terhadap kucing.” Raja, sepertinya masih tak puas dengan jawaban wazir kedua menolah lagi ke wazir ketiga, yang terbijak. “Bagaimana dengan ide tersebut?” “Gagasan yang sangat menyedihkan,” balas wazir ketiga, “Jika kita meninggalkan kota dan tinggal di desa bagaimana kita pastikan bahwa kucing-kucing itu akan menghilang dalam satu tahun? Bagaimana pula dengan kesulitan yang akan kita alami? Kehidupan di alam penuh dengan binatang liar yang juga suka makan tikus, dan mereka bisa melakukan hal lebih buruk ketimbang yang dilakukan kucing.”

“Kamu benar tentang itu,” ujar sang raja. “Jadi apa yang kamu pikir seharusnya dilakukan?”

“Saya dapat menyarankan satu rencana yang paling masuk akal. Raja harus memanggil seluruh tikus di kota dan kawasan sub urban dan memerintahkan mereka membangun lorong di dalam rumah-rumah orang terkaya yang menghubungkan ke semua ruang dalam rumah,” ujar wazir ketiga.

“Lalu kita akan masuk ke terowongan itu, tapi kita tak akan menyentuh makanan manusia. Alih-alih kita konsentrasi merusak pakaian, tempat tidur dan karpet mereka. Ketika melihat kerusakan itu, ia akan berpikir. ‘Wah satu kucing sepertinya tak bisa mengatasi banyak tikus di sini!’ Dan ia pasti akan menambah satu lagi kucing piaraan,” ujar Wazir.

“Begitu kucing ditambah, kita pun menambah jumlah kerusakan, benar-benar merobek pakaian-pakaian mereka. Ia pasti akan menambah satu lagi kucing, lalu kita tambah lagi kerusakan hingga tiga kali lipat. Itu seharusnya membuat mereka berhenti dan berpikir ‘Hei, kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki satu kucing. Makin banyak kucing, semakin banyak tikus,’ seolah-olah itulah yang terlihat” ujar wazir ketiga lagi.

“Jadi ia akan mencoba sebuah eksperimen. Ia akan menyingkirkan satu kucingnya. Saat itu pula kita akan turunkan jumlah kerusakan, menjadi dua pertiga saja. Si pemilik pasti berpikir, ‘Aneh sekali,’. Ia lalu menyingkirkan satu lagi kucing lain. Lagi, kita pun kurangi kerusakan hingga hanya sepertiganya. Ia pun akan terdorong untuk menyingkirkan satu lagi kucing tersisa.

Saat itu pula kita hentikan aksi dan tidak merusak apa pun. Ia akan menemukan hal besar. ‘Wah ternyata bukan tikus,’. Ia pasti bakal pergi ke para tetangga kaya lain untuk memberi tahu itu. Karena ia adalah orang terkaya dan dihormati maka semua akan mempercayainya dan mulai membuang kucing-kucing mereka ke jalan atau bahkan membunuh mereka. Kemudian setiap kali melihat kucing, mereka akan mengejar dan membunuhnya.”

Raja Mahraz pun mengikuti saran wazir ketiga. Butuh waktu tak terlalu lama hingga tidak satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.

Kini, jika tu terjadi, mereka pasti berkata, “Seekor kucing pasti menyelinap ke rumah tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam.” Alhasil, dengan strategi itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari warisan rasa takut turun-temurun terhadap kucing.

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Muslim Heritage (Republika.co.id)

Jumat, 08 April 2011

Dari Pelatihan Tenaga PAUD Se-Kabupaten Pasaman Barat

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Pasaman Barat (Sumbar), BAKINNews. Didukung oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Dewan Pengurus Kabupaten Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Yayasan Citra Al-Madina Pasaman Barat menyelenggarakan Pelatihan dan Seminar Tenaga Pendidik PAUD se Pasaman Barat di Simpang Empat Kec. Pasaman Kab. Pasaman Barat. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 4-5 Februari di Hotel Gucci dan Gedung Pemda Pasaman Barat ini dihadiri oleh lebih kurang 100 orang guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Pasaman Barat, Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat, Asisten I Pemda Pasman Barat, Kepala Dinas Pendidikan Kab. Pasaman Barat serta pengurus KNPI Pasaman Barat. Pada kesempatan tersebut, Hj. Emma Yohanna selaku Ketua Yayasan Citra Al-Madina sekaligus merupakan salah seorang Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Daerah Pemilihan Sumatera Barat menyampaikan sambutannya.

Dalam rangka meningkatkan kemajuan pendidikan pada usia dini, maka dirinya secara pribadi sekaligus termasuk elemen pemerintahan merasa terpanggil untuk melakukan pelatihan dan seminar bagi para guru-guru PAUD. Hal ini dikatakannya mengingat besarnya harapan bangsa pada dunia pendidikan. Oleh karena itu, menurut Emma Yohanna, untuk memajukan nila-nilai pendidikan bagi para anak-anak usia dini perlu terlebih dahulu memantapkan mutu tenaga pendidiknya. Dalam konfirmasinya kepada BAKINNews, Sabtu (5/2) Hj. Emma Yohanna didampingi sekretaris pribadinya, Febri S.P mengatakan, “acara ini dapat terselenggara atas kerjasama Kementerian Pendidikan Nasional dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pasaman Barat. Selain itu, kita sama-sama berharap, semoga apa-apa yang diperoleh oleh para guru-guru peserta Pelatihan dan Seminar Tenaga Pendidik PAUD ini dapat terealiasi dilapangan nantinya. Sehingga akan menghasilkan anak-anak usia dini yang intelektual dan kreatif cara berfikir dan belajarnya,” jelas Hj. Emma Yohanna.

Sedangkan yang menjadi narasumber pada acara Pelatihan dan Seminar Tenaga Pendidik PAUD se Pasaman Barat itu adalah Petro Alexi dari Jakarta dan Drs. Johni Nurdin dari Dinas Pendidikan Prop. Sumatera Barat. Selain itu juga hadir narasumber dari Yayasan Citra Al-Madina Padang, Imla Wifra, S.Ag., dan Eriyanti, A.Md. Selaku Panitia, Ketua KNPI Pasaman Barat, Adrianto, S.Ag., mengatakan, dalam sambutannya, “semoga acara ini dapat bermanfaat khususnya bagi kalangan pendidikan anak usia dini.” Selain itu, dirinya juga berharap agar acara yang seperti ini dapat dilakukan secara continiu. Hal ini dikatakannya demi mensukseskan cita-cita bangsa dalam memajukan pendidikan khususnya didaerah pedesaan.

Jumat, 01 April 2011

Biasakan Anak Minum Air Putih Sejak Kecil

Ditulis ulang : Imla W. Ilham

Jika disodorkan dua gelas jenis minuman yakni segelas air putih (air mineral) dan segelas minuman berwarna dan berasa (contoh air sirup), kebanyakan anak pasti akan memilih minuman yang berwarna ketimbang air putih. Meskipun tidak ada larangan untuk mengkonsumsi air yang berwarna dan berasa, namun mengkonsumsi air putih jauh lebih baik, karena mineral pada air sangat baik untuk menjaga kesehatan. Seperti yang dikutip dari buku 'Air Bagi Kesehatan', air minum yang aman untuk dikonsumsi harus memenuhi semua persyaratan kualitas air minum, yang meliputi persyaratan fisik (jernih, tidak berbau, dan tidak berasa), mikrobiologi (tidak boleh mengandung mikroba patogen, virus, bakteri, parasit) , kimiawi (mengandung garam mineral namun tidak boleh mengandung zat kimia berbahaya), dan radioaktif (bebas dari zat radioaktif). Supaya si kecil gemar minum air putih (air mineral), mulailah ajarkan anak untuk terbiasa minum air putih setiap ia merasa haus atau minimal satu gelas air putih setiap satu jam.

"Mulailah kenalkan kebiasaaan minum air putih pada anak sejak dini. Karena ketika anak sudah mengenal jenis variasi minuman, maka anak akan lebih tertarik untuk minum minuman yang berwarna dan berasa," jelas DR. dr. Saptawati Bardosono, MSc, ahli gizi dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), dalam acara 'Hydration and Health', beberapa waktu lalu, di Jakarta. Dr. Saptawati pun memberikan tips agar anak gemar minum air putih. Namun demikian, orangtua harus sabar karena anak yang sudah terlanjur menyukai minuman yang berwarna dan berasa biasanya akan sedikit sulit untuk meningalkan kebiasaannya tersebut dan beralih menggemari air putih.
  • Hidangkan air putih dalam gelas yang dapat menarik perhatian anak, seperti gelas yang bergambar tokoh idolanya atau gelas yang berwarna-warni.
  • Berikan variasi dalam segelas air putih yaitu dengan memberikan potongan buah-buahan, seperti strawberry, pepaya, apel atau buah yang menjadi kesukaan si kecil.
  • Berikan sedotan warna-warni didalam gelasnya.
Sumber : http://www.hanyawanita.com/

Selasa, 29 Maret 2011

Sholat ... Bro !


Dimanapun di muka bumi Allah ini, Sholatlah bila waktunya tiba !










Sumber foto : www.google.picture.com

Minggu, 20 Maret 2011

Fenomena Alam Supermoom : "Purnama yang Bulat Indah"

Ditulis ulang : Imla W. Ilham

Peristiwa alam yang langka pada malam 19 atau 20 Maret di Indonesia, akan membuat purnama tampak lebih besar. Saat itu, bulan akan terlihat 7 persen lebih gemuk dari biasanya. Pakar astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin mengatakan, pembesaran bulan itu akan tampak biasa saja jika dilihat dengan kasat mata. Tapi dengan teleskop, perbedaan ukuran bulan itu akan terlihat. "Sekitar 7 persen lebih besar dari purnama biasa," ujarnya, Rabu (16/3). Fenomena itu akibat bulan yang tengah mencapai puncak purnama sedang dalam jarak terdekatnya dengan bumi. Dalam istilah astrologi, kejadian itu disebut super moon. Kejadian langka itu hanya berulang setiap 18 tahun sekali.

Berdasarkan data astronomi, pada Sabtu, 19 Maret pukul 19.10 GMT atau Ahad, 20 Maret pukul 02.10 WIB, jarak bulan dengan bumi sejauh 356.577 kilometer. Jarak terjauh bulan dengan bumi yang terjadi pada Desember mendatang terentang 364 ribu kilometer. Adapun puncak purnama akan terjadi satu jam sebelumnya, pada 19 Maret pukul 18.11 GMT atau 20 Maret pukul 01.11 WIB. Selain terkesan seperti membesar, fenomena supermoon perlu diwaspadai karena efek pasang surut laut akan menguat. Nelayan dan warga pesisir diminta berhati-hati karena potensi banjir pasang (rob) diperkirakan bakal lebih besar dari biasanya. Djamaluddin meminta nelayan tidak melaut jika pasang tinggi yang disertai cuaca buruk.

............ Alam tak pernah kehilangan potensi untuk memancarkan keindahan. Allahu Akbar !







Sumber tulisan : www.tempointeraktif.com/Foto : www.google.picture.com

Andai Hari ini Aku Dimakamkan !


Perlahan, tubuhku ditutup tanah.
Perlahan, semua pergi meninggalkanku.
Masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
Aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang, Sendiri, menunggu keputusan... Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apa lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat, rekan bisnis, atau orang lain,
Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka, kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
Tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin. Tobat tak lagi dianggap.
Dan ma'af pun tak bakal didengar, aku benar-benar harus sendiri...

Ya .ALLAH...
(entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya, tiba-tiba saja aku ingin menyebut-Nya)
Jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
Jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu, beberapa hari saja...
Aku akan berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
Yang selama ini telah merasakan zalimku, yang selama ini sengsara karena aku,
Yang tertindas dalam kuasaku, yang selama ini telah aku sakiti hatinya
Yang selama ini telah aku bohongi...

Aku akan kembalikan, semua harta kotor ini,
Yang kukumpulkan dengan wajah gembira, yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
Yang kumakan, bahkan kutelan yang sudah jelas haram...
Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yang sering kuumbar dulu

Dan ALLAH...
Beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
Untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,
Teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka ,

Maafkan aku ayah dan ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu
Beri juga aku waktu, untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
Untuk sungguh-sungguh beramal soleh ...

Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu, bersama mereka...
Begitu sesal diri ini karena hari-hari telah berlalu tanpa makna
Penuh kesia-siaan ...

Kesenangan yang pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali
Mengapa kusia-siakan saja waktu hidup yang hanya sekali itu

Andai aku bisa putar ulang waktu itu ...

Aku dimakamkan hari ini, dan semua menjadi tak terma'afkan,
Dan semua menjadi terlambat, dan aku harus sendiri,
Untuk waktu yang tak terbayangkan ...



Catatan :
Artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik,
- edisi : 019/th.02/Syawal-DzulQoidah/1426H/2005M
Ditulis Kembali Oleh : H. Adek A Krydanto
Dipublikasikan kembali Oleh : Muhammad Ilham

Sabtu, 19 Maret 2011

Membenci Rokok Sejak Usia Kanak-Kanak





Anak-anak di IRAN, diajarkan - tepatnya : didoktrin - membenci ROKOK. Jelang masuk kelas, mereka diberi waktu untuk sekedar melakukan tendangan KUNGFU pada "Rokok"

Sumber foto : FB Muhammad Ilham & FARS New Agency

Minggu, 06 Maret 2011

Melawan Rasa Takut Anak Terhadap Hantu

Oleh : Imla Wifra Ilham

"Bu, Ifa takut sendirian jalan ke Musholla !", demikian kata sulung saya Ifa pada suatu maghrib. Sebagaimana biasa, ia dan adiknya, Adek, selalu diajak ayahnya, sholat berjamaah ke Musholla di komplek kami. Bila ayahnya lambat pulang dari kampus, Ifa akan pergi tanpa "kawalan" ayahnya. Akhir-akhir ini, Ifa sering mengutarakan ketakutannya bila sendirian berjalan ke arah musholla. Kebetulan musholla tersebut berada di pinggiran sawah. Hantu !, itulah konsep abstrak yang selalu diutarakannya kepada saya ketika saya tanya apa yang ditakutkannya. Saya berusaha menerangkan dengan pendekatan agama. Ifa nampaknya menerima. Tapi tetap, sifat manusiawi manusia, rasa takut pasti ada. Secara perlahan-lahan, saya berusaha untuk mengajaknya diskusi tentang bagaimana seharusnya mensikapi sumber ketakutannya tersebut.

Anak sebenarnya tidak punya rasa takut terhadap hantu tetapi tertular oleh orang-orang sekitarnya. Orangtua perlu memberikan pengertian soal makhluk-makhluk halus seperti hantu agar anak bisa melawan rasa takutnya. Dari beberapa literatur yang saya baca, anak kecil sebenarnya tidak mengenal konsep bahwa hantu itu menakutkan, tapi lingkunganlah yang menciptakan konsep tersebut. Biasanya anak kecil akan takut hantu bila melihat orangtua atau orang-orang di sekitarnya ketakutan dan teriak-teriak saat menonton film atau iklan yang menunjukkan sosok hantu. "Karena orangtuanya teriak-teriak lihat hantu, jadi anak membuat penilaian bahwa hantu itu menyeramkan, akhirnya dia juga takut," demikian satu penggal kalimat yang saya kutip dari detik.health.com. Anak-anak itu belajar secara konkret. Kalau orangtuanya bilang hantu itu tidak menyeramkan tapi ternyata teriak-teriak pas nonton film hantu ya sama saja. Caranya jangan berlebihan kalau lihat sosok hantu di TV, jadi anak juga tidak tahu bahwa hantu itu seram. Selanjutnya, memang semuanya tergantung kepada orang tua.

Sabtu, 05 Maret 2011

Jilbab Nan Tetap Elegan

Oleh : Imla Wifra, S.Ag

Yang Maha Agung lagi Maha Indah memberikan anjuran kepada perempuan untuk berjilbab. Sebagai sebuah kewajiban dalam ketentuan syar'i/fiqh, juga memberikan nilai tambah. Apapun yang dikatakan orang, baik yang phobie ataupun tak suka, lihatlah dengan mata hati, betapa foto-foto dibawah ini memberikan kepada kita jawaban apakah jilbab menghambat kreatifitas perempuan. Bahkan dalam dunia olah raga yang identik dengan paha mulus bagi perempuannya, justru atlit yang menggunakan jilbab memberikan keanggunan yang elegan. Bila kita menonton film klasik sejarah pada zaman Victoria di Inggris, lihatlah perempuannya yang menggunakan pakaian yang secara fisik membuat perempuan tersebut dihiasi pakaian yang beragam rupa dengan pinggang yang sangat ketat dan rok yang mengembang dan topi kepala yang cantik. Lihatlah bagaimana perempuan Jepang berkimono yang berat itu, tidakkah aura kecantikan dan mantaginya tersebut muncul. Lalu bandingkanlah dengan artis-artis kita yang dengan begitu mudah memperlihatkan rona muls ketiaknya pada penonton serta begitu sulitnya mereka mengatur posisi duduk bila diwawancarai karena selalu meletakkan tangan mereka diantara paha yang hampir terbuka, bahagiakah kita melihatnya. Katakanlah kaum Adam begitru syur melihatnya, tapi tanyakanlah kembali, mengapa mereka senang melihat pemandangan seperti itu, pasti mayoritas menjawab cantik yang dibumbui sesak napas dan dibungkus syahwat. Seperti inikah yang diinginkan, ketika kita tanyakan kembali, hampir akan mereka jawab, hanya untuk sesaat, mana mungkin pula dijadikan teman hidup berpanjangan.













Sumber foto : Muhammad Ilham Fadli Facebook

Rabu, 16 Februari 2011

Bank Century, Alanda, Ibu dan Makna Keadilan Hukum

Ditulis ulang : Muhammad Ilham

Setiap peristiwa memiliki ceritanya sendiri, setidaknya demikian kata Ernest Hemingway. Tak terkecuali "mega-skandal" Century-Gate. Cerita politik-nya tak usahlah saya paparkan, biarlah "angin" yang membawa bau ceritanya. Saya hanya tertegun pada sosok wanita kecil sedang menuju gadis. Alanda namanya. Gadis pintar yang tak ditakdirkan lahir seperti "Puan Maharani" ini ingin meninju "angin" dan berteriak ...... "Sungguh, sistem hukum Indonesia tak mampu memberikan kepada saya untuk menghargainya". Teriakan ini berawal dari pembelaannya pada sang ibu, wanita yang dihormatinya, telak-kalah karena sistem hukum Indonesia yang tak rasional. Gadis dengan segudang prestasi itu mengaku lebih bersemangat mendampingi ibunya hari ini. Dukungan publik pembaca blognya menambah keyakinan Alanda bahwa ibunya akan mendapat keadilan. "Semoga apa yang terjadi sekarang juga bisa bermanfaat untuk perkembangan kasus Ibu," katanya. Dia juga mengaku tidak menyangka bahwa dukungan publik terhadap apa yang dituliskannya tentang ibunya itu sangat besar. "Gak pernah kebayang kalau bakal kayak gitu karena cuma nulis aja, tapi ternyata banyak yang respons, mayoritas responsnya positif," tuturnya.

Curhatan Alanda Kariza dalam blognya mengenai masalah hukum yang melilit ibunya menyedot perhatian masyarakat dunia maya, terutama yang aktif dalam microblogging Twitter. Alanda mengaku tidak mengerti masalah politik dan tak paham masalah hukum. Yang dia tahu kasus Century yang melilit ibunya telah merampas mimpi dan kedamaian keluarganya. Dalam ceritanya, Alanda berseru tentang ketidakadilan dalam kasus yang menjerat ibunya. Ia menyebut ibunya dituntut 10 tahun penjara dengan denda Rp 10 miliar. Dia protes karena tuntutan tersebut lebih tinggi daripada tuntutan pemilik Bank Century, Robert Tantular. Selain menyedot perhatian masyarakat dunia maya, cerita Alanda juga menjadi perhatian kalangan media. Pagi ini saja, Alanda sudah dikerubuti insan pers saat tiba di pengadilan. Belasan kamera stasiun televisi yang beragam menyoroti wajahnya yang lugu itu. "Terima kasih buat semua yang sudah doain, komentar, bahkan kasih bantuan lebih, termasuk teman-teman media," ungkapnya.

Berikut curahan hati Alanda dalam Blog-nya

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu persatu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau. Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi. Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century. Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.

Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya jarang bertemu beliau. Bahkan ketika saya berulangtahun ke 18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali, karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulangtahun tanpa Ibu. Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.

Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak – agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa. Ibu sempat menjadi broker property, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibupun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional. Saya lupa kapan… tapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka. Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang? Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.

Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu. Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Supir diberhentikan, dan hanya punya satu pembantu di rumah. Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.

I can live with that. I’m willing to work part time, do internships, and work my ass off to publish more and more books if it would help my parents, especially my mother. Although I don’t have my own car and I can’t shop luxurious stuff just like my friends do, I’m happy, and I’m willing to live like that. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan. Saya memilih beasiswa dari BINUS International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les Bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangkan kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi. Awalnya pun berat bagi Ibu, tapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya – selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah mempercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal. “Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua, karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan tandatangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens. Oleh karena itulah, saya optimis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja, karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum. Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap. Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.

Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti. Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama. Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apapun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.

Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara maupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal. Gayus – kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya – divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apapun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik? Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.

“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan – mungkin – untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu. Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik – di rumah kami yang tidak besar tapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal tapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan. Saya mau ada Ibu di ulangtahun saya yang keduapuluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya – seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya. Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisa yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikan seperti ini.

Saya mau Ibu ada di rumah, Indonesia. Tidak di penjara, tidak di tempat lain, tapi di rumah, bersama saya, Papa, Aisya, dan Fara.

Hari Kamis, Ibu akan membacakan pledooi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini.

Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.

Even if I have to let Indonesian Youth Conference go, even if I have to work hard 24/7 to live without having to ask for allowances from my mother… I’m willing to do so.

I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here.

I love you, Mum. I do…

Sumber : http://alandakariza.com/ibu/

Selasa, 01 Februari 2011

Filsafat Anak Tangga

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga.” Demikian kata pepatah, yang pasti sudah akrab di teling kita. Susu diibaratkan sebagai kebaikan, sementara nila diibaratkan keburukan ataupun kerusakan. Perbuatan baik yang sudah berjalan sekian lama, dapat rusak dan dilupakan orang, akibat perbuatan buruk, kendati dilakukan hanya sekali. Makna pepatah ini dapat pula dianalogikan dengan orang yang berjalan menaiki anak tangga yang tidak diketahui puncaknya. Setelah berusaha dengan keras, pada ketinggian tertentu kita memutuskan untuk putus asa. Padalah kita tidak tahu bahwa selangkah lagi kita sudah tiba di puncak anak tangga tersebut. Sangat disayangkan, usaha yang sudah dilakukan, sia-sia akibat keputusan asaan kita, akibat ketidaksabaran kita untuk menderita selangkah lagi.

Sebagai analogi dari pepatah di atas, saya akan mengisahkan sebuah cerita tentang seorang ahli bangunan yang telah bekerja berpuluh tahun dengan seorang Tuan Kaya. Tuan kaya ini adalah pembrong terkenal dinegri mereka. Mereka sangat banyak mendapatkan pesanan terutama dari kalangan elit di negri itu. Begitu menyelesaikan setiap bangunan, si pemesan selalu mengacungkan jempol atas kualitas dan estetika bangunan yang mereka buat. Pada suatu saat, si ahli bangunan sudah merasa jenuh, ingin menikmati hari tuanya, dan ingin berhenti bekerja. Maka ia pun menghadap boss-nya, “Tuan, sudah sekian lama saya bekerja untuk tuan, sudah ratusan pula bangunan rumah yang telah saya buat untuk pelanggan kita. Sudah saatnya saya berhenti.” Mendengar penuturan ahli bangunan andalanya itu, sang Tuan pun agak keberatan, karena sebenarnya masih banyak pesanan yang harus mereka selesaikan.

Tapi apa boleh buat, sang ahli bangunan tetap “ngotot” untuk tetap berhenti bekerja. Sehingga dengan setengah memaksa, Tuan kaya mengajukan sebuah permohonan padanya, “ Baiklah kalau kamu tetap ingin berhenti, tapi saya ingin kamu memenuhi permintaah saya yang terakhir kalinya.” Mendengar permintaan terakhir Tuannya itu, sang ahli bangunan pun tak kuasa menolaknya, walaupun sebenarnya setengah hati. “Biklah Tuan, saya akan penuhi permintaan terakhir anda.” Sambil memegang dagu dan mengernyitkan dahi, sang tuan bangkit dari kursinya seraya berkata, “Tolong buatkan sebuah bangunan lagi ,” seraya menunjukkan lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. “Buatlah bangunan yang sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya untuk terakhir kalinya, setelah itu kamu boleh berhenti bekerja dengan saya,” ujar Tuan kaya dengan nada tegas sekaligus bercampur sedih. Ia sedih karena sebenarnya si ahli bangunan masih dapat bekerja sama denganya untuk mengerjakan order yang demikian banyaknya. Sang ahli bangunan,belum terlalu tua untuk menjalani masa pensiun. Ia masih pantas untuk berkarya dengan bangunan-bangunan yang membuat orang mengacungkan jempolnya, setiap kali serah terima diadakan dengan pemesan.

Sang ahli pun memulai mengerjakan bangunan pesanan tuanya yang terakhir kalinya. Tidak seperti perintah tuan tersebut, bangunan yang ia buat hanya berukuran kecil, dan kualitasnya pun tidak sebaik bangunan yang biasanya ia kerjakan. Jangka waktu pembangunanya saja hanya setengah dari waktu yang biasanya dilakukan. Semua komponen bangunan dibuat dengan apa adanya, dan terkesan tidak rapih. Selama mengerjakan bangunan ini, yang ada di benak sang ahli bangunan hanyalah secepat mungkin menyelesaikan bangunan itu. Setelah itu ia kan bisa berhenti bekerja, dan menikmati masa tuanya. Singkat cerita bangunan pun selesai, dan diserahkan pada Tuanya. Pada saat serah terima bangunan dilakukan, sang Tuan bukanya menyimpan kunci yang diberikan padanya, namun menyerahkanya kembali kepada ahli bangunan tersebut. “Ambillah kunci ini, karena bangunan ini saya berikan padamu sebagai penghargaan untuk pengbdian kamu pada saya selama puluhan tahu.” Mendapati kenyataan ini, sang ahli bangunan pun menyesal karena jika ia tahu bangunan itu akan diserahkan padanya, maka ia akan membuatnya dengan ukuran yang sangat besar, dan dengan design paling baik dan kualitas bangunan yang paling baik. Pembaca sekalian, dalam menyudahi sebuah pekerjaan ataupun sebuah perjalanan hidup, hendaknya kita mawas diri, jangan-jangan kita telah mendekati garis FINISH, namun kita sudah putuskan untuk berhenti. Bersabarlah sedikit lagi.

Sumber : kompasiana.com

Minggu, 02 Januari 2011

Cinta itu ada di Rumah

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala PAUD Unggulan Citra Al Madina Padang)

" ....... cinta itu tak mahal dan tak perlu jauh dicari ..!"

Cinta adalah kekuatan magis yang membakar semangat manusia. Siapapun yang mendapatkan bara cinta dari orang-orang dekatnya maka ia akan bangkit dari keterpurukannya dan kemudian menemukan jalan hidupnya. Orang yang frustasi adalah orang yang kehilangan cinta. Cinta adalah jembatan yang dilalui anak manusia untuk mendapatkan kesempurnaan jiwanya. Tanpa cinta, manusia akan menjalani hidup yang basa-basi dan menoton alias menjemukan. Cintalah yang membuat manusia survive dalam mengatasi pelbagai problema dan derita. Rumah adalah tempat pertama dan terbaik untuk menuai cinta. Manusia yang sukses adalah manusia yang memetik embun cinta dan menghisap hembusan angin cinta di rumah nya. Anak yang gagal meneguk secawan cinta dari kedua orang tuanya akan menjadi anak yang terpaksa memburu cinta di luar rumahnya. Orang tua yang gagal menjadi sumber cinta bagi anak-anaknya akan membuat suasana rumah tegang, tak nyaman dan kehilangan fungsi sebagai tempat peristirahatan fisik dan spiritual. Akibatnya, si anak yg tidak menghirup angin cinta di rumah maka bahkan di saat tidur pun pikirannya ke mana-mana. Ia justru merasa tenang saat keluar dan jauh dari rumah.

Memandang wajah orang tua yang kata Nabi SAW. adalah ibadah dan adakalanya saat orang tua gagal menjadi teladan bagi anaknya malah membuat anak ketakutan, gelisah dan salah tingkah. Maka, adakalanya kenakalan remaja didahului oleh kenakalan orang tuanya. Anak yang nakal adalah anak yang gagal meniru orang tuanya, karena orang tua tidak mampu memberikan contoh yang baik bagi anaknya. Sehingga ada dua kemungkinan bagi anak ini: pertama, ia akan mencari contoh di luar. Bila ia mendapatkan teman/pembimbing yang baik maka ia akan menjadi anak yg baik. Atau bila ia menemukan contoh yangg buruk di luar rumah maka boleh jadi ia lebih “nakal” daripada orang tuanya.

Insert : Foto Ifa kala usia 1 tahun (2004) dari kecil disamping "kuat" minum ASI, sangat suka minum susu Milo sambil memeluk boneka atau siku ibunda.... dengan ini biasanya cepat tidur. Memandang wajah mereka, menjadi vitamin tersendiri kala letih. Anak memang simpuls cinta. Mereka membawa pesan bahwa cinta bisa mereka hadirkan, melalui diri mereka. Benar apa yang dikatakan Tagore bahwa kehadiran anak merupakan pesan bahwa Tuhan tak pernah bosan pada manusia. Melihat tumbuhkembang anak, dengan segala dinamika tingkah polahnya, justru tidak membosankan kita.

Senin, 13 Desember 2010

Cinta Amniotik : Buat IFA dan ADEK

Ditulis ulang : Imla W. Ilham

" ..... Buat anakku Ifa dan Adek !!"

Beberapa hari lagi sebelum kehadiranmu, atau bahkan beberapa jam? Aku tak persis tahu. Banyak yang ingin kuucapkan, tapi sepertinya kaulah yang sudah tahu. Sekian lama kita bernapas bersama, bergerak bersama, merasa bersama. Kau begitu dekat bahkan bersatu dengan tubuhku, tapi tetap saja, di sini aku menanti kehadiranmu. Perjalananmu kelak hanyalah dari perutku menuju dekapanku. Namun itulah perjalanan yang akan mengubah kita berdua. Mengubah dunia. Saat kau tiba, aku tak lagi menjadi manusia yang sama. Dan kau juga akan melihat dunia yang berbeda: terra firma. Selapis kulit saja tabir yang membatasi kita, tapi sungguh berkuasa. Perjalananmu, kata kau dulu, adalah perjalanan yang akan mengingatkan mereka yang lupa. Termasuk aku. Keterpisahan adalah ilusi. Dunia jasad dan dunia roh, dunia materi dan dunia energi; hanyalah dua sisi dari koin yang sama. Hidup tak pernah berakhir mati. Hidup hanya berganti wujud. Dan sepanjang perjalanan bernama hidup, kau dan aku, kita semua, hanya berjalan menembusi satu tabir itu saja. Membolak-balik koin yang sama. Menyeberangi selapis kulit dan daging sebagaimana yang membatasi kita kini.

Kau datang, dengan segala kegenapanmu. Kau datang, bahkan sudah dengan nama. Kau datang, dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan. Namun kau juga akan sejenak lupa, katamu dulu. Sama seperti kita semua yang dibuat lupa saat menyeberangi tabir itu. Tolong ingatkan aku, pintamu. Aku memilihmu karena kita pernah sama-sama berjanji pada satu sama lain, lanjutmu lagi. Saat kita berdua masih sama-sama ingat. Saat kita berdua masih sama-sama di sisi lain dari koin ini. Entah bagaimana aku harus mencintaimu. Kau lebih seperti guru sekaligus sahabat. Waktu kau tiba dalam bentuk mungil dan rapuh nanti, biarlah alam yang mengajarkanku untuk mencintaimu lagi dari nol. Seolah kita tak pernah bertemu sebelumnya, seolah kita tak pernah bercakap-cakap bagai dua manusia dewasa, karena dalam bahasa jiwa semua “seolah” yang kusebut barusan tiada guna. Waktu, usia, dan perbedaan jasad kita, lagi-lagi hanyalah hadiah dari sisi koin di mana kita sekarang tinggal. Hadiah yang harus direngkuh dan diterima.

Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang mengandungku. Seorang ibu yang mengandung anak di rahimnya sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi. Dalam rahim itu, sang ibu dibentuk dan ditempa. Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh, dan hidupnya. Terima kasih telah mengandungku; menempatkanku dalam rimba amniotik di mana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup, untuk berserah dan menerima apa pun yang kau persembahkan. Kini dan nanti. Manis, pahit, sakit, senang, kau ajari aku untuk berenang bersama itu semua, sebagaimana kau tengah berenang dalam tubuhku dan merasakan apa yang kurasa, mengecap apa yang kumakan, menghirup udara yang kuendus—tanpa bisa pilih-pilih. Kau terima semua yang kupersembahkan bagimu. Terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk pilihanmu datang melalui aku. Untuk pilihanmu hadir di tengah keluarga mungil ini. Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah.

Sumber : (c) Dewi Lestari

Foto (IFA ketika AQIQAH - usia 21 hari/Agustus 2003)

Kamis, 09 Desember 2010

ASI yang Terpinggirkan

Ditulis ulang : Imla W. Ilham

" Ya dunk, kita beri anak susu bubuk terbaik. Pokoknya, susu kualitas terbaik. Kalau kita menyusui anak kita, kita juga harus perhatikan bodi kita dunk. Takut nggak kenceng lagi !" (Seorang selebritis wanita, kala ditanya tentang ASI dan menyusui di sebuah TV Swasta)


Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah
Atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu
Ibu telah membekali hidupmu
Dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu
Didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

(Dikutip dari Bila Ibu Boleh Memilih, kumpulan puisi hati Ratih Sanggarwati)



Badan PBB untuk anak-anak, Unicef menilai Indonesia sebagai target utama penjualan susu formula. Agar bayi-bayi tetap memiliki kesempatan untuk mendapat ASI eksklusif, pemerintah perlu bertindak. "Indonesia merupakan salah satu target dari perusahaan susu formula karena pangsa pasarnya yang prospektif. Dan ini adalah masalah yang serius sehinga butuh regulasi," ujar David Clark, pakar nutrisi dari Unicef (United Nations Children Fund) dalam acara Oneasia Breastfeeding Partners Forum 7, di Hotel Grand Flora Kemang, Selasa (9/11/2010). David menuturkan susu formula merupakan produk yang dapat memberikan keuntungan besar dengan harga jual yang tinggi. Karenanya perusahaan susu formula tidak menyukai adanya regulasi di setiap negara, karena regulasi ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat penjualan.

Berdasarkan data Euro Monitor Report, produsen susu formula menargetkan peningkatan sebesar 37 persen dalam jangka waktu 2008-2013. Target tersebut meliputi negara-negara di Asia Pasifik terutama China dan Indonesia. Padahal seperti yang telah diketahui, bayi yang tidak mendapatkan ASI punya risiko gangguan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan. Dampaknya, anak menjadi gampang sakit-sakitan, mengalami obesitas yang nantinya memicu berbagai penyakit misalnya jantung,diabetes atau penyakit kardiovaskuler. Indonesia sedang memproses peraturan pemerintah yang diharapkan bisa meningkatkan pemberian ASI ekskusif pada bayi. Kemenkes saat ini juga sudah mulai melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rumah sakit dan klinik dalam hal mencegah promosi susu formula di pusat pelayanan dan juga petugas kesehatan. Kampanye ASI eksklusif bagi ibu-ibu menyusui juga perlu digalakkan kembali agar penjualan susu formula berkurang dengan sendirinya, sehingga diharapkan anak-anak menjadi lebih sehat serta cerdas (Sumber : www.detikhealth.com)

Angka NOL dan Angka SATU

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Cobalah sebutkan angka terbesar yang kita ketahui, dan kalikanlah dengan angka nol, kita akan mendapatkan hasil selalu Nol. Cobalah sebutkan angka terkecil yang kita ketahui, dan bagilah dengan angka Nol, kita akan mendapatkan hasil tidak terhingga. Sedang angka 1, berapapun angka yang kita sebutkan, dibagi ataupun dikali hasilnya selalu sama dengan bilangan itu sendiri. Angka Nol adalah representasi dari KEIKHLASAN. KEIKHLASAN selalu membawa/ membuahkan KEBERKAHAN. Angka Satu adalah representasi kebalikan dari KEIKHLASAN. Dan KETIDAK IKHLASAN tidak pernah membawa keberkahan. Manusia dengan kehidupannya, pada awalnya dan masa kanakkanaknya berada pada posisi angka Nol. Semakin dewasa, dengan segala pengalaman hidupnya dia akan bergerak naik turun ke arah 1 atau ke arah 0. Orang yang mengikuti hawa nafsunya, akan semakin mendekati ke angka 1. Pada saat mencapai angka 1, dia akan menuhankan dirinya. Dia akan merasa bahwa dunia sudah digenggamnya dan itu atas usaha dan jerih payahnya. Tampak sekali kesombongan selalu muncul dari tingkah lakunya. Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, dia akan bergerak ke arah Nol, menuju ke fitrahnya kembali. Orang seperti ini selalu rendah hati (bukan rendah diri), selalu tawadlu, berserah diri dan bertawakal, baik pada saat diberi kelebihan maupun kekurangan.

Dari sisi rizki, orang yang berada pada angka 1, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka itulah uang yang diperolehnya, tidak lebih dan tidak kurang. Nilai keberkahannya adalah 1 juta rupiah dibagi 1 sama dengan 1 juta rupiah. Orang yang berada pada angka 0, apabila misalnya mendapatkan rizki Rp. 1.000.000,-, maka nilai keberkahannya adalah tak terhingga. Berapapun rizki yang diperoleh, dia mendapatkan rizki yang berkah tidak terhingga. Orang dengan angka Nol ini derajat keikhlasannya sudah tertinggi, sehingga berapapun yang diperoleh, selalu dapat mencukupi dirinya, bahkan mampu menolong orang lain. Orang dengan angka 0 hanya terdapat pada para Nabi. Semakin ikhlas seseorang, semakin mendekat ke arah 0. Misalnya 0.2, maka nilai keberkahannya adalah 1 Juta dibagi 0.2 = Rp 5.000.000,-. Sebaliknya, pada saat orang mendapatkan halangan dan cobaan. Orang-orang yang ikhlas, yang memiliki angka 0, berapapun bilangan halangan dan cobaannya, dikalikan dengan 0 akan sama dengan 0. Dia tidak pernah merasakan beban apapun terhadap halangan dan cobaan yang menimpanya. Sedangkan pada orang yang berbilangan 1, dia akan merasakan sakit, stress dan bahkan sakit jiwa atau berputus asa, karena dia selalu merasakan gejolak jiwa sesuai dengan besar dan kecilnya cobaan.

Itulah keikhlasan yang terkait dengan keberkahan. Keikhlasan adalah dari hati, dan hanya hati kita sendiri dan Allah saja yang mengetahui. Maka, seorang penjual es keliling yang menyumbangkan Rp 2.000,- ke kotak Masjid secara ikhlas, sangat jauh nilainya di depan Allah dibanding dengan seorang Jutawan yang menyumbangkan uang Rp 1 Juta ke kotak Masjid karena niat yang lain. Untuk itu, setiap manusia perlu mengupayakan kembali atau mengarah ke titik Nol. Maka akan diperoleh ketenangan dan kecukupan yang telah dijanjikan Allah.

:: Dikutip dari buku Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi.

Rabu, 01 Desember 2010

Puisi untuk Anakku IFA


“Anakku Sayang"

1 Desember 2010


(Aura Izzatul Afifa Ilham)


Anakku
Tadi malam
Dalam tidurmu
Kau mengigau
Menanam kembang
Di halaman

Esoknya
Bermekaran
Di hatiku

Sajak Putih
H. Amang Rahman Jubair
Prolog : Rusdi Zaki


Anakku Ifa, putri ibunda
Suatu waktu, ayahmu pernah memberikan potongan puisi Gabriela Mistral
Begini bunyinya :

Kita melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan, tapi kelalaian kita yang utama
Adalah mengabaikan anak, menyepelekan mata air kehidupan
Banyak kebutuhan kita dapat ditunda, tapi anak tak dapat menunggu
Kini saat tulang-tulangnya dibentuk, darahnya dibuat, dan nalurinya dikembangkan
Padanya kita tak dapat menjawab “Besok”, sebab ia dijuluki “Hari ini”
(Ibunda akan selalu ingat itu !)

(Buat Anakku IFA yang sudah dua hari demam)
Cepat sembuh nak, karena kamu ingin mentunaikan nazarmu
Mengajarkan sang Adek, belajar sepeda
Dengan hanya dua roda
Yang selalu kamu katakan pada teman-teman kecilmu
Ayahmu telah perbaiki rantai sepeda mungilmu
Di bengkel pertigaan jalan arah rumah kita.