Selasa, 30 Juli 2013

Sahabat Lintas Agama Malika Ilham



Sang Bungsu beta yang rajin mengaji, Malika Ilham, (8 Tahun, pakai jilbab) dengan sahabat karib-nya boru Nainggolan dan boru Sagala, dua sahabat kebanggaannya yang beragama Protestan.



Walau ia tak bisa merangkai kata, tapi dalam setiap diskusi saya dengannya tentang dua sahabatnya ini, sang Bungsu yang pernah Juara II MTQ anak-anak se Kecamatan Kuranji ini ingin mengatakan : "Persahabatan yang tulus dan hangat itu, bisa terjalin tanpa adanya sekat agama dan suku ".

:: Saya sayang padanya !

Kamis, 18 Juli 2013

Malam & Purnama


Sumber foto : (c) Erison J. Kambari
Lokasi di Bukittinggi, Sumatera Barat














Sabtu, 29 Juni 2013

Don't Hate Me Mom : "Saya Ibu Terburuk di Dunia Ini"


Ditulis ulang : Imla Wifra Ilham
Sumber (c) planetmotivasi @ Marry Scheleery

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh.Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.  Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah… Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. 

Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Eric yang tertidur lelap. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun…, 2 tahun…, 5 tahun…, 10 tahun… telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Ia adalah seorang pastor di gereja St. Maria. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam… Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak… Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali… Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy!” 

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?” 

“Nama saya Elic, Tante.” “Eric…? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???” 

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar di kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric… Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?” “Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu,” tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak… Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric… Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. 

Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu… Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apapun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau, “Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!” 

Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! 

Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…” Sayapun membaca tulisan di kertas itu… “Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…” 

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan…!!!” Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. “Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum Nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!” 

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

:: Sebuah kisah inspiratif dari Irlandia

Sabtu, 01 Juni 2013

Sang Sulung Beta (Nan) Ayu

Oleh : Imla W. Ilham

Tanpa terasa, Afifa Ilham, sudah menginjak usia 10 tahun. Saya dan suami masih menganggapnya sebagai anak kecil mungil kami. Namun, pada hari Rabu (22 Mei 2013) yang lalu, kala Iffa mengikuti acara perpisahan kakak kelasnya di sekolah, semuanya menjadi berubah.  Kebetulan hari itu, Iffa didaulat gurunya untuk menjadi salah seorang penari yang menarikan tari persembahan.  Saya dan suami tercengang. Ia begitu anggun dalam balutan pakaian adat Minangkabau. Ia bukan lagi anak kecil kami yang mungil, tapi sudah bermetamorfosis menjadi anak gadis kami nan ayu.  Ada terbersit rasa bangga yang teramat sangat, melihat Iffa begitu gemulai menari di pentas yang ditonton banyak orang. Ia begitu percaya diri. Tampilan Iffa pada hari itu, membuat saya dan ayahnya menjadi berfikir, "kita sudah mulai menua".




Afifa Ilham dan Sang Bungsu, Malika Ilham


Jumat, 31 Mei 2013

Kidung Anak : "Ketika Tak Sesuai Usia"

Ditulis ulang : Imla W. Ilham
Sumber (c) Pelangi Anak

“Kawin...kawin...minggu depan bakal kawin”...
“Kawin...kawin...tidur ada yang nemenin”...

Atau lagu berikut :

“Ku mencintaimu lebih dari apapun, meskipun tiada satu orangpun yang tahu”...
“Ku mencintamu sedalam-dalam hatiku, meskipun engkau hanya kekasih gelapku”...

Sebagian besar dari kita mungkin sudah tidak asing lagi, ketika syair-syair tersebut singgah menyapa gendang telinga kita. Tak hanya kita sebagai orang dewasa saja yang tersihir oleh syair tersebut, anak-anak pun juga mengalami hal serupa. Mereka seolah terbawa arus oleh derasnya kata-kata manis syair lagu tersebut. Menurut pengakuan seorang dosen di sebuah PTN, di sekitar tempat tinggalnya, beliau kerap mendengar lagu semacam “Batal Kawin” didendangkan oleh anak-anak yang terbilang masih dini. Atau coba kita pikirkan, anak-anak belajar tentang makna dari kata “Kekasih Gelapku”. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala, ketika membayangkannya. 

Beberapa pihak yang terkait dengan dunia anak dan pemerhati anak, mungkin saja hanya bisa mengurut dada dengan kondisi anak-anak, yang dibombardir dengan lagu-lagu orang dewasa. Seperti yang kita tahu, lagu orang dewasa yang berisi tentang cerita cinta dan bumbu asmara beserta adegan mesra sebagai pelengkapnya disajikan sebagai menu yang setiap harinya hampir disantap oleh sebagian besar anak-anak. Padahal isi dari lagu-lagu tersebut, hanyalah fantasi, rekaan, dan bersifat sebagai hiburan semata. Ibarat baju, lagu-lagu tersebut sungguh tak pas dipakaikan pada anak-anak. Tentu saja kelonggaran, karena lagu-lagu tersebut memang selain tidak cocok untuk anak, lagu itu juga tidak diperuntukkan untuk usia dini.

(c) Pelangi Anak
Tapi kenyataanya sungguh mencenggangkan. Tengok saja ajang pencarian bakat menyanyi seperti "IDOLA CILIK". Saya juga heran, peserta idola cilik adalah anak-anak usia sekitar 7-11 tahun, dimana pada usia itu anak masih dalam masa perkembangan yang butuh asupan pendidikan moral dan budi pekerti, tapi sudah dicekoki dengan lagu-lagu orang dewasa. Lucunya saat pentas di panggung mereka juga menyanyikan lagu orang dewasa dengan gaya orang dewasa juga, sehingga gaya asli anak-anaknya hilang. Gaya mereka seolah sudah disetel dan diarahkan oleh koreografi, tidak ada kebebasan dan kreativitas untuk menciptakan gaya mereka sendiri yang khas anak-anak. Atau coba tengok acara "Happy Song Holiday", dimana pesertanya yang anak-anak juga fasih menyanyikan lagu-lagu orang dewasa ketimbang lagu anak anak. Mereka bahkan hapal di luar kepala, ketika menebak judul lagu yang diputarkan. Bagaimana tidak, hampir semua stasiun televisi setiap waktu menghidangkan acara pemutaran klip lagu orang dewasa.

Dewasa ini jarang bahkan nyaris tak ada lagi penyanyi lagu anak-anak yang menggantikan penyanyi yang telah pensiun karena telah beranjak remaja. Saat ini pun jarang terdengar lagu anak-anak, demikian juga penyanyinya, bisa dikatakan amat minim. Pencipta lagu anak-anak juga tidak sebanyak dulu. Mungkin pasar industri hanya sedikit tertarik untuk memasarkan lagu anak-anak. Karena disamping sepi pendengar, juga takut tak laku dijual. Sebab anak-anak sekarang lebih tertarik mendengar lagu dewasa ketimbang lagu yang sesuai dengan umurnya. Kalau begini terus lama-kelamaan anak-anak akan menganggap lagu anak-anak itu kampungan dan kuno. Padahal lagu anak-anak dirancang khusus dan diciptakan untuk anak-anak yang sesuai dengan perkembangannya. Selain itu mengandung pesan yang berisi tentang ajaran moral dan budi pekerti.

Bukan salah bunda mengandung. Kira-kita itulah ungkapan yang tepat, bahwa sejatinya memang orangtua tidak bisa disalahkan 100%, ketika mereka sudah berusaha membatasi atau menyeleksi tontonan dan lagu-lagu orang dewasa, apabila lingkungan sekitar tidak berperan serta dalam mendukung. Bisa jadi mereka bergaul dengan anak-anak yang sudah terkontaminasi dengan tontonan dan lagu-lagu orang gede. Lantas kalau sudah begini, mau dikemanakan generasi penerus bangsa kita? Apakah mereka akan melenggang dengan fantasi cinta-cintaan ditengah makin ketatnya persaingan prestasi yang membutuhkan keunggulan tinggi? Yang bukan hanya sekedar cinta-cintaan belaka. 

Minggu, 17 Maret 2013

Serenande Ayah buat Iffa dan Malika Ilham

Oleh : Ayah Iffa & Malika Ilham 

Nak, Ayah kalian barangkali tak kan pernah bisa menjadi orang kaya. Jadi, pandai-pandailah menempatkan diri kalian sebagai anak orang biasa. Nak, Ayah kalian barangkali tak selalu mampu menyediakan pangan terbaik, tapi jangan terlalu khawatir Nak, itu tak berarti ayah tak selalu berusaha penuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang kalian. Percayalah Nak, banyak orang hebat di dunia ini yang terlahir, tumbuh, dan berkembang, hanya dengan mengkonsumsi penganan sederhana. Nak, kelak ayah kalian barangkali tidak bisa menyekolahkan kalian di sekolah-sekolah unggulan, tapi jangan terlalu risau Nak, Sekolah unggulan bukanlah jaminan untuk bisa menjadi orang baik kelak. Percayalah Nak, banyak orang mencapai kejayaan hidupnya tanpa bersekolah disekolah-sekolah unggulan nan mahal itu. 

Nak, kelak ayah kalian barangkali tak mampu penuhi kebutuhan kalian untuk gaul, tapi jangan ragu Nak, banyak orang-orang rendah hati di luar sana yang dengan tulus mau berteman dengan kalian, meski kalian tak punya modal untuk dicap gaul. Nak, kelak andai kalian merasa tak memiliki intelejensi di atas rata-rata, jangan terlalu cemas akan masa depan kalian. Yakinlah, dengan tekad dan keuletan, masa depan gemilang tak mustahil tetap dapat kalian raih - tapi ingat Nak, kalian tak akan mampu tanpa DOA... Nak, andai kelak banyak orang meremehkan kalian atas apa yang cuma mampu kalian raih dan lakukan, tak usah bersedih Nak, Sepanjang hidup, Ayah kalian juga mengalami banyak perlakuan tidak simpatik, diremehkan bahkan dilecehkan, Tapi yakinlah Nak, Semua itu tak akan mempengaruhi rencana Tuhan atas diri kalian, Sejuta pelecehan manusia atas diri kalian, tak akan mampu mengalahkan kuasa Tuhan jika Dia ingin memuliakan kalian. Maka dari itu Nak, cuma pada Nya respek tertinggi perlu kalian berikan. Nak, tak perlu gamang menjalani kehidupan, tak perlu terlalu risau dengan segala atribut dunia yang barangkali tidak akan pernah bisa kalian miliki, karena kalian hanya butuh hati yang bersih dan hasrat yang kuat untuk mengarungi anugrah kehidupan ini.....!!.




Kugendong kalian berdua, sepulang dari Musholla, kemudian kita bertiga duduk di depan rumah bercerita tentang HIDUP yang SEDERHANA tapi bermakna, sambil memakan JAGUNG rebus yang sore tadi baru ayah beli di Pinggiran Jalan dari seorang Ibu Tua, 6 buah 10.000,- dan kubiarkan kalian memakan JAGUNG yang pernah dimakan oleh HATTA dan SYAHRIR di Pembuangan mereka. Mungkin Jagung Rebus adalah batas kemampuan ayah hari ini "menyayangi" kalian, tapi MAKAN dengan HATI jauh lebih BERGIZI... !! ... 

(Inspired : Zone Forester)

Jumat, 01 Maret 2013

Afifa Ilham & Tan Malaka

Oleh : Ayah Iffa dan Malika Ilham

(1). Setelah pulang dari mengaji di Musholla dan menyerap materi kaji tentang baik-buruk, kiri-kanan dan seterusnya. (2). Setelah ibunya mengatakan bahwa Tan Malaka adalah pejuang dan pahlawan Indonesia dari kelompok kiri.

(1) dan (2) digabungkannya, jadilah kemudian ia bertanya pada saya : 
"Ayah, Tan Malaka itu Jelek ... ya ?". 
 
"Memangnya mengapa ?", tanya saya sambil menyeruput teh manis yang tak hangat betul.


"Kata guru ngaji, apabila kita menerima catatan amal nantinya di akhirat dari tangan kiri, berarti kita akan masuk neraka. Tadi ibu bilang, Tan Malaka yang gambarnya ada di kamar belakang itu berasal dari kelompok kiri", jawabnya. 
 

Saya (kemudian) diam, dan dalam hati saya (hanya) bergumam, "tak harus saya jelaskan tentang pertanyaannya itu !". 

Lalu saya ambil tustel dan berkata, "Iffa, selalu yang Kiri untuk membersihkan kotoran. Mari kita berfoto di depan-nya !".


Afifa Ilham, putri sulung terkasih saya
Tak juara kelas
Tapi pintar dari kacamata saya
Penyenang hati, pelipur lara
Penyuka belimbing yang ditanam ibundanya di samping rumah
Saya sayang padannya
Teramat nian

Rabu, 26 Desember 2012

Liburan Iffa dan Malika Ilham di Kampung Halaman



Aku seorang anak kecil,
guruku adalah Cinta,
tentu guruku takkan biarkan
ku tumbuh jadi seorang bodoh.

Iffa dan Malika Ilham (Adek), memasuki liburan. 
Melalui ayah, mereka berdua ingin ucapkan terima kasih terbening dan terdalam, 
buat guru mereka yang mengajarkan cinta dan tak membiarkan mereka bodoh. 
Selamat berjumpa di semester yang akan datang)

Iffa dan Adek liburan di kampung halaman
dari tanggal 22 s/d 31 Desember 2012
Dengan Paman (adik ibu), berangkat ke Air Bangis
Negeri tepi laut nan elok



Iffa dan Adek berangkat ke Kampoeng Halaman Tertjinta, Air Bangis
Liburan bersama nenek dan ongku.
Liburan a-la Kampoeng Halaman Tertjinta








Sumber Foto : Sarwo Hakim (cc : heningrumahhati)

Kamis, 20 Desember 2012

Aceng, Jenderal David Petraeus & Lembaga Perkawinan

Oleh : Muhammad Ilham (Ayah Iffa & Malika) 

Ada dua hal yang kontradiktif : 

(c) luv-islam.com
Pertama, Direktur CIA David Petraeus mundur sebagai pimpinan CIA, sebuah jabatan prestisius-strategis, pimpinan agen mata-mata terdepan AS. Tak ada apa-apanya dibandingkan dengan BIN, KGB ataupun Mossad. Jenderal pintar ini mengatakan (bahwa) ia terlibat perselingkuhan dan mengakui telah melakukan kesalahan fatal. Ia berkata, "setelah 37 tahun menikah, saya melakukan tindakan yang salah dengan terlibat skandal di luar pernikahan. Perilaku seperti itu tidak bisa diterima, baik saya sebagai suami maupun sebagai pimpinan organisasi." Ia kemudian minta maaf masyarakat AS .......... dan pada keluarganya. Obama mengatakan bisa menerima pengunduran diri itu sembari memuji atas karyanya di CIA, dan atas jasanya pernah memimpin tentara AS di Irak dan Afganistan. Fox News memberitakan bahwa dia berselingkuh dengan Paula Broadwell, seorang penulis biografi. Intinya, David Petraeus yang Jenderal itu mundur karena menghargai sebuah lembaga yang bernama perkawinan, dan ia menyadari bahwa secara personal dan status, ia adalah figur publik dan publik referen. Ia tak mau berdebat di tataran legalitas-juridis, tapi ia lebih mengedepankan sesuatu yang "mahal" bernama ETIKA. 

Kedua, Aceng HM. Fikri, Bupati Garut nan fenomenal itu, melalui pengacaranya, tak mau mengundurkan diri atas nama legalitas-yuridis. Menyikapi pernikahan 5 harinya, si Bupati ini menganggap pernikahannya secara agama sah, dan tak berbuat salah menurut kacamata Fiqh Munakahat. Mantan Secondan Dicky Candra yang artis itu, juga mengatakan bahwa pernikahannya dengan remaja putri 18 tahun itu, ibarat "membeli barang". "Kalau tak sesuai dengan Spek-nya, buat apa diteruskan". Sebuah argumen yang CETAR - meminjam istilah Syahrini ... hehehe. Dan dalam acara Indonesia Lawyer Club, saya "terkezzut" (pakai huruf "zz"), beberapa ulama kaliber nasional yang dijadikan narasumber oleh Karni Ilyas pun berkomentar tentang Pernikahan Siri si Aceng. Pendapat ulama-ulama ini, si Aceng yang selalu berkopiah hitam tersebut : Pernikahan Aceng dan Fanny Octara secara Fiqh Munakahat, sah. Jangan diperdebatkan, karena sama denga memperdebatkan ketentuan agama (Islam). Mau "satu jam, atau satu hari" pun, perkawinan tersebut tetap sah. Biasa kok, mau diceraikan Aceng mau tidak, terserah ia. Tak perlu harus minta izin sama atasan atau pimpinannya bila ia ingin poligami dan nikah siri ". Poligami itu, kata seorang Imam Besar Masjid terkenal Indonesia yang dibangun oleh arsitek Batak-Kristen (Frederick Silaban), Masjid Istiqlal, berkata, "Orang yang poligami tersebut adalah orang yang memiliki keberanian. Aceng Fikri adalah orang yang Berani".

___________ Dan, tak satu-pun ulama-ulama gadang itu mempersoalkan "begitu rendahnya wanita" dalam proses Aceng Gate tersebut. Bahkan secara langsung justru menganggap Aceng itu pemberani, orang berpoligami adalah orang "Bagak". Karena Rasulullah juga berpoligami, menurut ulama-ulama yang membuat saya miris-terkezut tersebut. Saya akhirnya berfikir, bukankah orang yang mampu menghargai lembaga perkawinan,menyanyangi anak dan (satu) istrinya dengan baik ..... tidakkah orang itu berani dan jantan ? ...... Tidakkah justru orang seumpama Aceng adalah tipikal manusia Pengecut dan berlindung dibalik nash agama yang ditafsirkan secara parsial ? Harusnya para ulama-ulama dan "pengikut" Aceng itu belajar secara totalitas sejarah nabi Muhammad dalam konteks poligami-nya, bukan "membatasi" episode kehidupan nabi pada fase ia berpoligami. Berapa tahun nabi SAW. Monogami ? Bukankah cukup panjang waktu yang ia lalui bersama Khadidjah seorang ? Bukankah masa-masa panjang "berdua" Muhammad-Khadidjah itu, putra Abdullah tersebut sedang "kuat-subur", masa penuh bergolak ? Lalu, kapan ia berpoligami ? Dengan siapa dan konteks (ashbab)-nya apa ? Urusan Syahwat, nash agama dibawa-dibawa. Urusan Syahwat, argumen legalitas-normatif, dipakai secara mati-matian tanpa melihat untuk apa nash (legalitas-normatif) itu hadir ? Seharusnya Fiqh tidak berhenti di analisis makna nash, tapi juga melihat ujung-nya yaitu ETIKA !!

Tapi sudahlah, saya tak banyak punya pengetahuan tentang Fiqh Munakahat. Ilmu saya dangkal tentang ini. Saya hanya ingat nasehat ibu saya (almarhumah) yang buta huruf pada saya beberapa tahun lalu menjelang ia meninggal.
"Untuk apa orang Sholat, nak ?, " tanyanya.
"Agar etika orang tersebut terjaga. Bukankah ujung dari sholat tersebut mencegah perbuatan keji dan munkar ?", jawabnya
"Untuk apa orang puasa, nak ?, " tanyanya kembali.
"Agar orang merasa kasihan pada orang yang tak punya. Agar kita amanah pada Tuhan", jawabnya kembali.
"Bila kamu nanti menikah, untuk apa menikah itu nak ?," tanyanya pada saya yang terpana.
"Perkawinan itu bukan Ijab Qabul, mahar, wali dan saksi saja nak. Tapi ada ujung dari perkawinan atau pernikahan itu, yaitu menciptakan kedamaian, keluarga yang bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah. Perkawinan tidak akan damai bila kamu menyakiti istri dan anak-anakmu nanti. Perkawinan tidak akan indah bila kamu berbohong dan berselingkuh. Bila istri-mu memiliki kekurangan, kamu harus menutupinya. Jangan ketika ia sehat dan cantik, kamu mau. Namun ketika ia berkeriput, kamu tinggalkan. Kesalahan istri kamu pada dasarnya juga kesalahan kamu", jawabnya dengan panjang.

Malam kemaren, sebelum tadi malam, selepas saya menonton dengan istri acara ILC (Nikah Siri : Kasus Aceng), UPIK BANUN saya bertanya waktu mau tidur.
"Bang, bagaimana abang melihat lembaga perkawinan itu ?", katanya.
(Mungkin ia sedikit takut mendengar ulama-ulama "gadang" dalam acara ILC tersebut mengatakan lelaki berpoligami adalah lelaki pemberani .... Hiiiks)

Saya-pun tersenyum dan berkata, "ente dan anak-anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada saya, dan sombong teramat besar saya pada Tuhan bila, anugerah terindah saya sia-siakan. bagi saya itu makna JANTAN". Titik, dan tak perlu kita bahas argumen ulama-ulama gadang di ILC itu, kata saya sambil memadamkan lampu, dan mulai memasuki "keheningan" tidur.

_______ Ujung FIQH adalah Etika, demikian kata almarhumah UMAK saya. Sehingga tak salah, bila perdebatan masalah Nikah Siri, Aceng dan Poligami di ILC, tak memberikan "inspirasi". Jenderal David Petraeus mengedepankan Etika, bukan formal-legalistik. Sementara (belajar dari kasus Aceng), nampaknya kita lebih menyukai berada pada tataran Fiqh, ujungnya-outputnya (baca : Etika), kita kesampingkan. Padahal, karena Etika itulah Rasul di utus ke muka bumi ini. Simpulan saya, "pengajian" almarhumah umak saya yang buta huruf itu jauh lebih ber-ETIKA dibandingkan ulama-ulama gadang yang, menurut saya, tercermin "syahwat tersembunyi". Buktinya, ketika ditanya Karni Ilyas, mengapa harus poligami ? .... jawab mereka umumnya sama, "daripada berzina, kan lebih baik poligami ? (standar mereka hanya-lah Zina). Memangnya nabi berpoligami karena, "daripada berzina ?".

:: Sekali lagi, kita semua terserah berpendapat.

Walaupun agamaku memberikan daya tawar tinggi padaku yang berjenis kelamin laki-laki, namun yakinlah, saya ingin meneladani Baginda Yang Mulia, Muhammad SAW. Beliau yang rajin berolah raga (tentunya olah fisik masa itu : berkuda dan memanah) dan mempraktekkan hidup sehat tersebut, tak memberikan contoh bahwa Khadijah-lah yang harus meminta maaf padanya terlebih dahulu. Muhammad SAW. yang rajin meminum susu kambing itu justru memuliakan wanita. Bukan menganggap wanita sebagai "mainan" dan assesoris "freudian" kelelakiannya.

Sabtu, 01 Desember 2012

Cinta a-la Rabi'ah : Catatan Buat Anakku Afifa Ilham

Ditulis ulang : Imla Wifra Ilham, S.Ag
(Kepala PAUD Unggulan Citra Al Madina Padang)


aku jatuh cinta, namun tak ku bilang pada siapa

karena ku takut pada Dia yang tak takut pada siapa 
kala ku pikirkan tentang cintaku padanya
ku periksa kepalaku, apakah lepas dari raga


(Rabi'ah Adawiyah)

Ibu & Afifa Ilham
Wanita pemuka tashawuf ini seakan mengajarkan pada para remaja putri zaman sekarang tentang cinta. tentang cinta yang walaupun berbeda dengan cinta beliau, walaupun berbeda dengan cinta para wanita zaman dahulu, namun syair pendek ini tepat untuk putri-putri kita. Cinta datang mengusir akal dan mengurangi daya pikir seseorang. kegilaan-kegilaan sering muncul seiring datangnya cinta. Perasaan yang dikedepankan, akal yang tidak lagi diperhatikan, digambarkan wanita mulia ini dengan "kepala yang terbang dan terpisah dari tubuh". Rabiah Adawiyah memberi solusi dalam bait pertama syair ini. diam dan takut atau takwa kepada Dzat yang paling ditakuti dan tidak takut pada siapapun adalah counter yang tepat untuk kawula muda yang terjangkit penyakit perasaan yang sering disebut cinta ini. Walaupun cinta itu sendiri sendiri mempunyai banyak makna, dari yang paling mulia hingga paling hina. Menjaga rahasia hati tentang apa yang dirasakan demi menjga ketakwaan dan menjauhi hal-hal yang tidak disukai Sang Pencipta Nan Agung akan mampu meredam serangan syetan dari luar dan hawa nafsu dari dalam diri kita.

Source : Ammar Abdillah

_____ nasehat buat anak gadisku AFIFA Ilham yang menjelang remaja (moga nanti ini terbaca olehnya, ketika kondisi natural ini menghampirinya)

Selasa, 13 November 2012

(Ternyata) Iffa Ilham telah "Lulus SD"

Oleh : Imla Wifra Ilham 

Hari ini, dua Upik Banun ambo manarimo Rapor bayangan.
Nan si bungsu, Malika Ilham dapek rangking depan
Nan si Sulung, Afifa Ilham, kelas 4 SD (tetap) rangking 9, semester dulnya juga rangking 9.



Afifa Ilham : 20/11/2012

Dan si sulung bercakap : "Alhamdulillah, adik Iffa dapek juara. Gadang hati teta (panggilan si adik padanya teta)". Dan ketika kawan2nya menanyakan, "apakah Iffa tak iri pada adiknya", maka cucu Datuak Rajo Amat paliang tuo koa berkata, "tak boleh iri pada adik kita. Iffa termasuk orang yang berjasa membuat adik Iffa menjadi juara".


Afifa Ilham : Nopember 2011

(Karena sikapnya itu, saya merasa Iffa telah LULUS Sekolah Dasar)

Kamis, 01 November 2012

Catatan Ayah Iffa & Malika Ilham



Dan setelah seharian bertarung di jalanan, 
ayah pulang di jelang petang untuk sebuah pelukan dua buah hati tersayang.

| wamaa al-ladzatu illaa ba'da at-ta'abi - 
dan takkan ada kelezatan itu, 
kecuali setelah bersusah payah terlebih dahulu |

(menyambut ayah dengan keharuman,
setelah mandi dan berbedak putih yang dibeli di kedai sebelah)


koleksi Imla W. Ilham
Inspired : Zen Mehbob

Jumat, 19 Oktober 2012

Nasionalisme Minim

Oleh : Imla Wifra Ilham, S.Ag 

Bulan September tahun yang lalu, Alhamdulillah, ilmu dan pengalaman saya ditambah Allah kembali. Saya berkesempatan mengikuti Pelatihan/Pendidikan "Penguatan Kurikulum PAUD Nasional". Kegiatan yang berlangsung di Komplek Panorama Regency, Nagoya Batam Kepulauan Riau ini diikuti oleh utusan dari Pengelola/Kepala Sekolah PAUD Unggulan masing-masing propinsi di Indonesia. Saya tak ingin menjelaskan seluk beluk kegiatan dan materi-materi yang dipaparkan karena bagi saya, kegiatan semacam ini sangat mencerahkan, sebagaimana kegiatan-kegiatan sejenis yang pernah saya ikuti beberapa waktu lalu. Saya hanya ingin menceritakan pengalaman yang bagi saya sangat menarik sekaligus ironis. Seperi biasanya, setiap kegiatan, apakah itu seminar ataupun pelatihan/workshop apalagi tingkat nasional, maka acara pembukaan kegiatan tersebut dihadiri oleh pejabat-pejabat tingkat daerah dan nasional. Sambutan-sambutan silih berganti. Berjenjang, dari yang jabatannya rendah hingga tinggi. Demikian juga halnya dengan kegiatan yang saya ikuti ini.

Karena kegiatan ini dilaksanakan di Batam, Propinsi Kepulauan Riau, maka pasti ada sambutan resmi dari pejabat daerah yang berhubungan dengan pendidikan PAUD. Kebetulan pejabat daerah yang memberikan sambutan ini adalah berjenis kelamin "wanita", tepatnya ibu-ibu. Pada awalnya saya beranggapan, ibu kita yang cantik ini (saya tidak menyebut namanya atau inisialnya) akan memberikan sambutan mengenai harapannya tentang kegiatan yang dilaksanakan, atau memberikan gambaran tentang perkembangan PAUD di daerah Batam, atau mungkin minimal mendeskripsikan dengan bangga mengenai kemajuan daerah Batam di semua lini, khususnya ekonomi dan pariwisata. Tapi saya merasa terkejut, ibu kita yang cantik ini bukannya memberikan sambutan tentang hal-hal yang berhubungan dengan PAUD (kalau-pun ada, porsinya teramat minim), beliau justru banyak "menceritakan" tentang Singapura.  

"Ibu-ibu, kami di Pulau Batam ini, lebih suka berkunjung atau liburan ke Singapura. Cukup dengan Rp. 300.000,- ibu-ibu sudah bisa bolak-balik ke negeri singa tersebut, dan bla.....bla....bla", katanya panjang lebar dengan wajah sumringah.

Si Ibu ini dengan penuh kebanggaan mengkisahkan bahwa masyarakat Batam (mungkin beliau saja yang bangga) begitu bangga pergi ke Singapura daripada ke Jakarta atau ke lokasi-lokasi pariwisata di Batam. Alih-alih menceritakan tempat pariwisata di Batam, justru si ibu kita yang cantik ini justri "mensugesti" para pendengar untuk berpariwisata ke Singapura. Ironis !. Untunglah, ketika salah seorang pejabat PAUD dari pusat memberikan sambutan, pejabat yang juga wanita ini sedikit "menyindir" ibu kita yang cantik dan teramat bangga dengan Singapura tersebut. "Kita seharusnya menanamkan rasa nasionalisme dan rasa cinta tanah air kepada anak-anak sejak usia mereka masih dini. Bukan menanamkan kebanggaan terhadap negara lain pada diri mereka", kata ibu ini.

Kegiatan Parenting di PAUD Citra Al Madina Padang



SINGGALANG : PADANG — Keterlibatan orangtua dalam lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), dinilai cukup urgen. Guna mewujudkan pembelajaran yang optimal di masa usia emas itu, tidak bisa sepenuhnya berharap pada lembaga sekolah saja, tapi kontribusi orangtua memiliki peran cukup penting. Pendapat tersebut dikemukakan Kepala PAUD Citra Al Madina, Padang, Imla Wifra Ilham, dalam perbincangan dengan Singgalang. Menurutnya, ke depan, penyelenggaraan pendidikan dengan memberdayakan orangtua (parenting education), merupakan sebuah solusi guna meningkatkan mutu pendidikan sejak usia dini. “Untuk itu, terkait kegiatan parenting dimaksud, PAUD Citra Al Madina telah dan akan melakukan sejumlah kegiatan,” ucap Imla. Dikatakannya, kegiatan yang telah dilakukan tersebut seperti keterlibatan orangtua dalam lomba alat permaian edukatif, terkait peringatan Hari Ibu beberapa waktu lalu. Kemudian juga ada dialog yang pesertanya orangtua dan guru mendatangkan narasumber berkompeten, yakni Dr. Dadan Suryana dari UNP, mengambil tema terkait peran orangtua dalam menanamkan pendidikan karakter sejak usia dini. 

“Besok (hari ini—red), kita kembali mendatangkan nara sumber yakni Dr Yuliana, yang bakal membahas bagaimana menjadi orangtua yang cerdas guna mewujudkan anak berkualitas,” jelas Imla, didampingi Wakil Kepala Sekolah, Vivit Risnawati. Melalui dialog dan materi dari pihak berkompeten dimaksud, menurut Imla, diharapkan orangtua kian memahami tentang penting dan signifikannya pendidikan akan usia dini. Sebelumnya,  juga telah dilakukan kegiatan keluar berupa out bond naik kereta api dari Padang ke Pantai Gandoriah, Pariaman. Di Pariaman pun diadakan dialog dengan orangtua, bahkan adapula permainan berkreativitas dengan plastisin yang dilakukan orangtua bersama anak-anak. Disebutkan, sejumlah kegiatan perenting lainnya yang bakal dilaksanakan, di antaranya berupa parent’s day class, di mana keterlibatan orangtua mengajar di kelas anak mereka masing-masing. Lalu ada lagi, pembahasan seputar IQ, kunjungan lapangan dan membahas perkembangan kesehatan anak. “Intinya, melalui kegiatan parenting ini, semoga terjalin kerjasama yang harmonis antara orangtua dengan pendidik, guna meningkatkan mutu pembelajaran di lembaga PAUD itu sendiri,” jelas Imla Wifra. Seperti diketahui, PAUD Citra Al Madina yang beralamat di Jl. Purus I itu, selain Taman Kanak-kanak (TK), juga menyelenggarakan TPA dan Play Group.

Murid PAUD Citra Al Madina Outing ke Batalyon 133



PADANG – Guna mendekatkan berbagai hal menarik yang bernilai edukatif di luar kelas, puluhan murid Taman Kanak-kanak (TK) Citra Al Madina, Padang, melakukan kunjungan lapangan (outing) ke Batalyon Infantri 133/Yudha Sakti, baru-baru ini. “Ini merupakan satu cara mengenal lebih dekat profesi dan tugas seseorang atau lembaga, yang disinkronkan dalam pembelajaran tema pekerjaan,” kata Kepala PAUD Citra Al Madina, Imla Wifra Ilham, kepada Singgalang. Menurutnya, Batalyon yang terletak di Air Tawar itu, jelas dihuni para tentara, sebagai abdi negara. Makanya, kata Imla didampingi Wakil Kepala Vivit Risnawati, tak salah jika anak-anak sejak dini dikenalkan sosok tentara tersebut, yang juga bagian dari salah satu profesi pekerjaan yang diajarkan kepada anak-anak.

Sosok tentara yang selama ini dikenal “garang”, ternyata hal itu termentahkan saat anak-anak disambut dengan santun oleh aparat militer berbaju loreng itu. “Kita jelaskan pada anak-anak, bahwa tentara itu bukan untuk ditakuti. Tentara adalah sosok yang membela negara, mengayomi rakyat,” jelas Imla.  Alhasil, komunikasi yang dijalin saat anak-anak ke sana yang didampingi sejumlah aparat itu, dinilai cukup positif. Apalagi, murid TK yang terletak di Jl Purus I itu, pun diajak berkeliling-keliling untuk mengetahui berbagai hal.

(c) Singgalang

Sabtu, 13 Oktober 2012

Sorga Itu Dirumah

Ditulis ulang : Imla Wifra Ilham, S.Ag

(c) Lucia Coghetto - Open Art Group
Tawuran lagi. Di Jakarta pelajar SMU luka parah tersabet celurit. Sedang di Makasar, dua mahasiswa berkalang tanah. Jika Kiyosaki menyebut anaklah yang tahu dan pemilik masa depan, terus seperti apakah bangsa ini di era mendatang?. Makam Alawy Yusianto Putra belum kering. Juga kesedihan keluarga serta teman-teman sekolahnya di SMAN 6 Jakarta. Tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 itu menyisakan renungan panjang. Apakah peristiwa itu masih bisa disebut sebagai kenakalan remaja?. Buntut tawuran itu juga belum selesai. Tersangka pelaku sedang diproses penyidik. Ada tersangka lain yang akan diamankan. Ini membuat was-was guru dan orang tua siswa di sekolah ini. Jangan-jangan anak-anak mereka yang sedang belajar tersangkut dan masuk bui. Sebab perilaku itu dikategorikan sebagai tindak kriminal murni.  Namun ketika kepedihan itu belum terhapus, tawuran terjadi lagi. Di Jakarta, jalanan dijadikan ajang perkelahian, seorang pelajar kritis tersabet celurit. Di Makasar kampus dibuat gelanggang adu fisik, diteruskan di rumah sakit mengakibatkan dua nyawa melayang. 

Kita mengurut dada atas musibah itu. Kita prihatin terhadap kejadian itu. Bela sungkawa sedalam-dalamnya layak diberikan pada generasi penerus yang mati sia-sia itu. Juga terhadap keluarga yang ditinggalkan, yang tidak terbayangkan betapa pedih hati mereka. Anak, secara spiritual, memang bukan milik kita. Itu titipan dari Tuhan. Dalam bahasa Kahlil Gibran, anak itu bak anak panah. Orang tua hanya merentang busur, mengarahkan pada yang diinginkan. Ketika anak panah lepas dari busur, di situlah takdir sedang berproses. Tepat seperti yang diinginkan orang tua, atau melenceng jauh dari sasaran. Dari kiasan ini bisa diambil hikmah. Jika orang tua semasa anaknya masih hidup telah memberi pengertian baik tentang makna hidup, syukurilah takdir itu. Jika semasa 'titipan Tuhan' itu belum 'diambil', orang tua yang bersangkutan belum memberikan pengertian yang layak tentang hidup, maka ini saatnya untuk menyadarkan para orang tua yang lain agar memberi bekal yang memadai bagi anak-anaknya. Zaman ini memang membuat orang tua dan anak-anak ada di persimpangan jalan. Kemajuan telah membuka segalanya, yang boleh dan tidak boleh. Anak dengan karakter bawaannya yang ingin tahu dan akhirnya serba tahu telah membawanya pada pengalaman-pengalaman baru dan pemahaman-pemahaman baru. Anak-anak kita menjadi lebih hebat dari orangtuanya.  Dalam bahasa lugas, T Kiyosaki pengarang 'Reach dad, poor dad' mengatakan, "jika ingin tahu masa depan, tanya anak-anakmu". 

Bahkan gurindam 'anak polah bopo kepradah' (anak bertingkah, bapak terkena tuahnya) pun sudah jauh-jauh hari di balik. Itu saking banyaknya orang tua yang tidak bisa memberi teladan baik bagi anak-anaknya. Korupsi di tempat kerja, tidak membuka pintu dialog, berfoya-foya dari rezeki yang tidak jelas, dan jauh dari memberi bekal etik agar menyemaikan kemanusiaannya sebagai manusia adalah contoh yang lama tidak diteladankan orang tua. Generasi kini yang brutal, adalah bagian dari hilangnya teladan itu. Anak-anak itu kurang bekal dari rumah, dari lingkungan, dan terlalu banyak mendapat bekal dari luar. Mereka tidak punya sensor untuk menyaring teladan dari dunia antah-berantah itu. Guru yang digugu dan ditiru berasal dari dunia maya. Menyikapi dunia yang sudah dikuasai teknologi itu, jalan yang terbaik adalah menciptakan surga di rumah. Dunia realis yang nyaman, tenang, dan teduh. Bukan dunia impian yang serba instan dan indah. Tanpa itu, maka anak-anak kehilangan pegangan. Kehilangan orang tua, keluarga, yang menyayangi dan mengayomi.

Sumber : detik.com/Djoko Suud - judul artikel : "Anak Polah Bapak Kepradah"

Jumat, 12 Oktober 2012

Salam Kreatif


Bahagia dan kreatif itu tak membutuhkan biaya besar dan tempat yang indah
Salam kreatif ... !!


African-Journal

Mainan favorit suami saya ketika masa kecil di kampung
(Main roda-roda) - "Anak-Anak di Pasaman, 1975"
Sumber foto : Tempo/6 Desember 1975 (koleksi Mhd. Ilham)

Senin, 01 Oktober 2012

Catatan Malam Minggu Ayah Iffa & Malika Ilham

# catatan malam minggu Ayah Iffa & Malika Ilham  


22.01 WIB
Di antara tujuh tingkat langit
dan tujuh lapis bumi
kalian-lah cahaya kedelapan kami

tidurlah nak
setelah sepenggal matahari terang, kalian bermain
setelah sepulang dari musholla, maghrib tadi,
 kita memandang bulat rembulan, 
sebulat wajah ibu kalian
tentu lelah tertunaikan dengan lelap lena malam ini


Koleksi Imla W. Ilham

Maafkan Orang Tuamu, Anakku. Kami Tak Begitu Mengenalmu ! (Catatan Ira Oemar : Sebuah Empati Buat Orang Tua))

Ditulis Ulang : Imla W. Ilham

Dari jaman ke jaman, selalu saja ada anak nakal, siswa bandel, biang keladi semua keributan. Itu wajar, namanya juga anak dan remaja. Ada yang sifatnya cenderung melawan, suka membantah, tak mau menurut. Makin menginjak remaja, sikap perlawanan itu makin menjadi. Sekali lagi, tugas guru-lah mengatasinya. Tiap guru punya cara sendiri menghadapi siswa yang sulit diatur. Ada yang sabar dan memilih cara halus untuk menghadapinya, ada yang memilih tak mempedulikan siswa yang bandel – paling-paling diberi nilai jelek untuk mata pelajaran yang diajarkannya, ada pula yang memilih menanganinya dengan cara kasar. Tapi sekali lagi, jarang sekali orang tua siswa tahun ’70 –‘80an yang menggugat guru. Tampaknya orang tua jaman dulu sadar konsekwensi logis dari mereka menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka kepada guru. Remaja jaman dulu tidak mendapatkan toleransi dan perlindungan – bahkan dari orang tuanya sendiri – ketika mereka melakukan kekerasan. Terkadang, bahkan ortu sendiri lah yang mengantara anaknya ke wali kelas, jika kedapatan berkelahi sepulang sekolah. Ortu meminta guru menghukum anak mereka. Lalu bagaimana dengan jaman sekarang? Guru tampaknya berada pada posisi sulit. Mereka tak bisa lagi mudah menjatuhkan hukuman pada siswanya. Salah-salah, siswa yang kena “setrap” mengadu pada ortunya, malah guru yang ganti diadukan ke polisi. Orang tua tahunya anak mereka baik-baik, tak ada hak guru untuk menghukumnya. Sementara, ketika terjadi tawuran antar pelajar sepulang sekolah, pertanyaan di berbagai media dialamatkan pada guru : dimana peran guru?

Di satu sisi orang tua seolah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak mereka pada guru-guru di sekolah, namun di sisi lain, ketika ada masalah, anaknya berulah, orang tua tak mau guru mengambil tindakan. Orang tua turun tangan ketika sudah ada masalah, itupun bukan untuk meng-endorse pengegakan disiplin dan hukum sesuai aturan, tetapi justru untuk mengintervensi disiplin dan hukum, mengupayakan privilege bagi anak mereka. Akibatnya, sama sekali tak ada pembelajaran pada diri siswa. Anak tak belajar dari kesalahan yang dibuatnya. Anak gemar tawuran, anak suka keroyokan dan berperilaku anarkhis, tentu banyak faktor penyebabnya. Anak tak terbebani rasa salah alias cuek, tidak menyesal saat melakukan perbuatan salah bahkan menjurus ke kriminal, juga banyak aspek pemicunya. Sungguh tidak adil, jika tanggung jawab hanya dibebankan pada guru dan sekolah sebagai institusi. Kalau benar orang tua menyerahkan pendidikan anaknya pada guru dan sekolah, maka mereka juga harus rela jika guru menegakkan aturan pada semua siswa tanpa pandang bulu. Orang tua harus ikhlas anaknya menerima akibat hukum dari perbuatannya, termasuk jika tidak disiplin dan tidak berlaku sopan pada guru. Jangan ajari anak menginjak-injak hukum. Sebab kekacauan itu timbul karena lemahnya penegakan hukum.


Diedit dari : (c) Ira Oemar http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/30/

Foto : Imla Wifra Ilham (Kepala PAUD Citra Al Madina Padang & Majelis Guru) ___________ sumber foto : http://paud-citramadina.blogspot.com/

Kehadiranmu Masih Ada




walaupun tak menetas
kehadiranmu masih ada
kuningmu masih berkilat
dan aku suka



sumber foto : facebook/muhammad ilham fadli