Kamis, 21 Oktober 2010

(Cerita untuk Anakku IFA dan MALIKA) : "Seorang Raja dan Nelayan"

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Kerajaan yang dialiri oleh sungai Tigris dan Euphrates pernah di perintah oleh seorang raja yang sangat gemar dan menyukai ikan. Suatu hari dia duduk bersama Sherem, sang Ratu, di taman istana yang berhadapan langsung dengan tepi sungai Tigris, yang pada saat itu terentang jajaran perahu yang indah; dan dengan pandangan yang penuh selidik pada perahu-perahu yang meluncur, dimana pada satu perahu duduk seorang nelayan yang mempunyai tangkapan ikan yang besar. Menyadari bahwa sang Raja mengamatinya, dan tahu bahwa sang Raja ini sangat menggemari ikan tertentu, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ketepian, datang dan berlutut pada sang Raja dan memohon agar sang Raja mau menerima ikan tersebut sebagai hadiah. Sang Raja sangat senang dengan hal ini, dan memerintahkan agar sejumlah besar uang diberikan kepada nelayan tersebut.

Tetapi sebelum nelayan tersebut meninggalkan taman istana, Ratu berputar menghadap sang Raja dan berkata: "Kamu telah melakukan sesuatu yang bodoh." Sang Raja terkejut mendengar Ratu berkata demikian dan bertanya bagaimana bisa. Sang Ratu membalas: "Berita bahwa kamu memberikan sejumlah besar hadiah untuk hadiah yang begitu kecil akan cepat menyebar ke seluruh kerajaan dan akan dikenal sebagai hadiah nelayan. Semua nelayan yang mungkin berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang pertama, mereka akan pergi dengan rasa tidak puas, dan dengan diam-diam akan berbicara jelek tentang kamu diantara teman-temannya. "Kamu berkata benar, dan ini membuka mata saya," kata sang Raja, "tetapi tidakkah kamu melihat apa artinya menjadi Raja, apabila untuk alasan tersebut dia menarik kembali hadiah yang telah diberikan?" Kemudian setelah merasa bahwa sang Ratu siap untuk membantah hal itu, dia membalikkan badan dengan marah dan berkata "Hal ini sudah selesai dan tidak usah dibicarakan lagi."

Bagaimanapun juga, dihari berikutnya, ketika pikiran sang Raja sedang senang, Ratu menghampirinya dan berkata bahwa jika dengan alasan itu sang Raja tidak dapat menarik kembali hadiah yang telah diberikan, dia sendiri yang akan mengaturnya. "Kamu harus memanggil nelayan itu kembali," katanya, "dan kemudian tanyakan, 'Apakah ikan ini jantan atau betina?' Jika dia berkata jantan, lalu kamu katankan bahwa yang kamu inginkan adalah ikan betina, tetapi bila nelayan tersebut berkata bahwa ikan tersebut betina, kamu akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kamu menginginkan ikan jantan. Dengan cara ini hal tersebut dapat kita sesuaikan dengan baik."

Raja berpendapat bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk keluar dari kesulitan, dan memerintahkan agar nelayan tadi dibawa ke hadapannya. Ketika nelayan tersebut, yang ternyata adalah orang yang sangat pandai, berlutut di hadapan raja, sang Raja berkata kepadanya: "Hai nelayan, katakan padaku, ikan yang kamu bawa kemarin adalah jantan atau betina?" Nelayan tersebut menjawab, "Ikan tersebut bukan jantan dan bukan betina." Saat itu sang Raja tersenyum mendengar jawaban yang sangat cerdik, dan untuk menambah kejengkelan sang Rau, memerintahkan bendahara istana untuk memberikan sejumlah uang yang lebih banyak kepada nelayan tersebut. Kemudian nelayan itu menyimpan uang tersebut dalam kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul kantong tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan satu koin kecil. Dengan menaruh kantong tersebut kembali ke tanah, dia membungkuk dan memungut koin itu dan kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan pandangan mata Raja dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya.

"Lihat! betapa pelitnya dia!" kata Sherem, sang Ratu, dengan bangga atas kemenangannya. "Dia benar-benar menurunkan kantong nya hanya untuk memungut satu buah koin kecil karena mungkin dia akan sangat merasa kehilangan hanya dengan berpikir bahwa koin tersebut akan diambil oleh salah seorang pelayan Raja, atau seseorang yang lebih miskin, yang membutuhkannya untuk membeli sebuah roti dan yang memohon agar raja dikaruniai umur panjang." "Sekali lagi kamu berbicara benar," balas sang Raja, merasakan kebenaran dari komentar Ratu; dan sekali lagi nelayan tersebut dibawa untuk menghadap ke istana. "Apakah kamu ini manusia atau binatang buas?" Raja bertanya kepadanya. "Walaupun kamu mungkin sudah kaya tanpa harus bekerja keras lagi, tetapi sifat pelit dalam dirimu tidak membiarkan kamu untuk meninggalkan satu koin kecil untuk orang lain." Lalu sang Raja memerintahkan nelayan tersebut untuk pergi dan tidak menampakkan lagi wajahnya di dalam kota kerajaannya.

Saat itu nelayan tersebut berlutut pada kedua kakinya dan menangis: "Dengarkanlah hamba, Oh sang Raja, pelindung rakyat miskin! Semoga Tuhan memberkahi Tuanku dengan umur panjang. Bukan nilai dari koin tersebut yang hamba pungut, tetapi karena pada satu sisi koin tersebut tertera tulisan pujian atas nama Tuhan, dan disisi lainnya tergambar wajah Raja. Hamba takut bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena tidak melihat koin tersebut, akan menginjaknya. Biarlah sang Raja yang menentukan apakah yang saya lakukan ini pantas untuk dicela atau tidak. Jawaban tersebut membuat sang Raja sangat senang tidak terhingga, dan memberikan lagi nelayan terseut sejumlah besar uang. Dan kemarahan Ratu saat itu juga menjadi reda, dan dia menjadi sadar dan melihat dengan ramah terhadap nelayan tersebut yang pergi dengan kantung yang dimuati dengan uang.

Sumber : http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Seorang-Raja-dan-Nelayan

Jumat, 01 Oktober 2010

Syair Cinta Rabi'ah al-Adawiyah

Ditulis ulang : Imla W. Ilham

Seandainya surga dan neraka tak pernah ada/Apakah engkau masih bersujud menyembah-Nya?

Sang ratu Cinta lahir dalam kemiskinan yang sangat. Tak ada kain untuk menyelimuti dirinya, Tak ada minyak setetespun untuk pemoles pusarnya. Tak ada lampu untuk menerangi kelahirannya. Ia adalah putri ke empat, maka disebutlah Robi’ah.

Membaca syairnya, seakan membaca kabar buruk dari surga; sesuatu yang begitu diidamkan tiap umat beragama. Dalam beberapa syairnya kita seakan menangkap bahwa surga tak layak buat manusia yang beribadah sementara masih menyembunyikan api dalam hati. Surga cuma buat mereka yang mengagungkan cinta dan kasih sayang. Ia lahir dan hidup di Basrah Irak sekitar tahun 713 M ketika dinasti Umayyah berkausa di seluruh Jazirah Arab, dan penjara di Basrah belum dijaga oleh tentara Amerika tentu saja. Ia lahir dari keluarga yang sama sekali tidak mapan. Dan ketakmapanan itulah yang kemudian membuatnya jadi budak selama bertahun-tahun. Setelah bebas, ia menekuni musik. Maka jadilah ia pemusik yang mendendangkan lagu-lagu. Ia cukup dikenal pada masa itu. Lalu, tak berapa lama ketika itu musik dianggap subhat oleh beberapa mullah, ulama sana. Sesuatu yang subhat dekat dengan haram. Ia, sebagaimana musik, dikecam. Kehidupan beragama sepertinya tak pernah lepas dari kecaman. Karena merasa dunia sekelilingnya penuh dengan ''kecaman'', ia pun mulai mencari cinta Tuhan. Tak hanya dalam musik musik, bahkan dalam pertapaannya.

Ia Rabiah al Adawiyah, perempuan yang kemudian dianggap sebagai figur dalam sastra sufistik Persia dan kerap dipertentangkan. Bahkan hingga saat ini. Sajaknya, atau tepatnya syair, umumnya hanya diperuntukkan untuk sang Tuhan yang bagi Rabiah adalah kekasih. Ia, tentunya, memilih alur lain untuk menemukan Tuhan. Alur yang tak sama. Beberapa kisah hidup Rabi'ah dibukukan, berbarengan dengan syairnya. Al kisah, suatu hari ia membawa air di tangan kiri dan obor di tangan kanan. Seseorang bertanya : "Kemana engkau akan pergi Rabi'ah? Ia menjawab: Saya mau ke langit untuk membakar surga dan memadamkan api neraka/Agar semuanya tak menjadi sebab manusia Menyembah-Nya/Sekiranya Allah tak menjadikan pahala dan siksa/Masih adakah di antara mereka yang menyembah-Nya? Syair-syair Rabiah, seakan menyentakkan kita kembali bahwa agama (Islam) lahir dan hadir di muka bumi ini bukan karena kedua hal itu: surga ataukah neraka. Tetapi atas nama cinta, setidaknya begitu kata Rabi'ah. Sebagai cinta, ia menjadi kebaikan untuk sekelilingnya. Sebagaimana bahasa Quran: rahmat bagi sekalian alam. Saat sekarang, ketika iman seakan jadi ancaman di tengah kita untuk membuat garis batas antara beriman dan kafir, kita seakan dibutuhkan untuk membaca syair Rabi'ah.

Mereka yang tidak menemukan cinta dalam beragama adalah mereka yang hanya menemukan api dalam iman. Sedemikian buta kah cinta? Sedemikian angker kah Tuhan? ..... Alangkah buruknya, Orang yang menyembah Allah hanya karena mengharap surga/Dan ingin diselamatkan dari api neraka/Seandainya surga dan neraka tak pernah ada/Apakah engkau masih bersujud menyembah-Nya?

Neraka, api yang bergejolak dan membakar, ataukah api dalam diri? Api amarah yang membakar siapa sajaĆ¢€”beriman atau tidak. Bukankah setiap kali kita marah sebetulnya kita telah hidup dalam neraka, neraka bagi diri kita sendiri? ............. Aku mengabdi pada tuhan bukan karena takut neraka/Bukan pula karena mengharap surga/Tetapi aku mengabdi karena cintaku padanya/Jika aku menyembahmu/Karena takut pada nerakamu bakarlah aku di dalamnya/Dan jika aku menyembahmu karena mengharapkan surga/Jauhkan aku darinya/Tuhanku, tenggelamkan aku dalam lautan cintamu/

Memang, beragama atas nama cinta adalah suatu bentuk beragama yang ideal. Seorang yang menemukan cinta Tuhan akan punya belas kasihan yang lebih (?). Sementara manusia yang tamak akan surga, seakan surga begitu sempit untuk manusia.

:: dikutip bebas dari FB Muhammad Ilham dari Fatris Mohammad Faiz

Kamis, 02 September 2010

IFA dan Puasa

Oleh : Imla W. Ilham

Alhamdulillah, sulungku Ifa nampaknya akan bisa menaklukkan Ramadhan tahun ini. Baik secara kuantitatif, maupun kualitatif. Bila Ramadhan tahun kemaren, Ifa baru belajar puasa dalam usia 6 tahun, dan "berhasil" berpuasa 26 hari. Maka, tahun ini, hingga tulisan ini saya posting, Ifa bisa berpuasa dengan "baik" selama 23 hari. Insya Allah Ifa akan bisa berpuasa dari hari-hari tersisa Ramadhan tahun ini. Ada perbedaan puasa Ifa tahun sekarang dengan tahun kemaren.

Puasa tahun kemaren, Ifa boleh dikatakan baru belajar bagaimana sulitnya berpuasa. Saya dan ayahnya, begitu memprotek Ifa. Biasanya ia lebih banyak main di rumah, tidak bergabung dengan teman-temannya yang main dibawah terik matahari. Kebetulan teman-temannya ini banyak yang tidak puasa (atau puasa setengah hari saja). Saya dan suami takut Ifa akan kepanasan atau keletihan bila begabung main dengan teman-temannya ini, maka Ifa lebih banyak diam dan tidur di rumah. Walau Ifa merasakan lapar pada tengah hari, tapi karena ia lebih banyak berdiam diri dalam rumah, tidur-tiduran sambil menonton dengan adiknya (adek) serta pengasuh (tante-nya), Ifa bisa menahan untuk tidak makan minum hingga sore.

Maka Ramadhan tahun ini, Ifa justru disarankan oleh Ayahnya untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Terserah Ifa, mau pagi ataupun siang (setelah ia pulang dari kegiatan pesantren Ramadhan di Musholla pada pukul 10.00 pagi). Biasanya, pada siang hari, saya melihat Ifa begitu keletihan. Maklum, karena bermain, apalagi bila udara panas. Melihat Ifa seperti ini, biasanya saya kasihan, tapi tak "rela" untuk merekomendasikannya berbuka puasa cepat. Toh pun bila saya suruh untuk berbuka, saya yakin Ifa tidak akan mau. Sering saya sarankan kepada Ifa untuk lebih banyak berdiam diri di rumah bersama Adek dan tantenya, tapi Ayah Ifa justru menyarankan agar Ifa jangan sering tidur dalam bulan puasa ini. "Biarlah ia bermain, usianya sudah bisa mencerna bagaimana perihnya perut orang yang tidak makan. Karena itu, lebih baik ia bermain daripada tidur-tiduran di rumah, supaya ia tahu rasa berpuasa. Bila ia tahan lagi, suruh ia berbuka. Bila masih sanggup, beri terus ia sugesti!", kata suami saya ketika saya menyuruhnya untuk mengancam Ifa agar lebih sering tidur siang daripada bermain. Saya lihat, Ifa nampaknya dari hari ke hari, makin terbiasa menikmati rasa berpuasa, keletihan dan kehausan. Dan, sulungku yang cantik ini, selalu mampu menuntaskannya hingga berbuka. Kualitas puasa Ifa, dalam usianya 7 tahun, makin tinggi dari tahun kemaren. Dan itu selalu saya katakan padanya kala ia memandang saya dalam rona muka letih dan haus. Dan, Ramadhan/puasa tidak menghilangkan dunia Ifa yang lain - bermain dengan teman-teman sebayanya !.

Anak Telanjang Kaki Lebih Cepat Berjalan

Oleh : Imla W. Ilham

Orangtua biasanya paling suka membelikan balitanya sepatu yang lucu, berwarna warni hingga yang berbunyi. Padahal sering bertelanjang kaki adalah yang terbaik untuk balita.

Menurut ahli, anak yang sering bertelanjang kaki akan lebih cepat mulai berjalan dan perkembangan otaknya berjalan secara optimal. Memakaikan sepatu pada anak dengan usia yang terlalu muda dapat menghambat kemampuan berjalan dan kemampuan otaknya. Usia balita sebaiknya anak sering dibiasakan telanjang kaki. Dengan bertelanjang kaki, anak akan belajar untuk seimbang. Dengan umpan balik yang dirasakan saat menginjak tanah, akan mengajari anak bagaimana cara untuk tidak terjatuh. Selain itu, berjalan dengan telanjang kaki akan mengembangkan otot-otot dan ligamen kaki, meningkatkan intensitas busur kaki, meningkatkan proprioception (kesadaran dengan ruang di sekitar) dan memberikan kontribusi untuk postur tubuh yang baik.

Kita masih harus belajar dari asal usul kita, yaitu dengan bertelanjang kaki. Sepatu hanya dirancang untuk melindungi telapak kaki, itu pun bila diperlukan dan hanya sementara waktu. Kaki manusia pada saat lahir bukan merupakan versi miniatur dari kaki orang dewasa. Bahkan, tidak berisi tulang sama sekali dan hanya terdiri dari massa tulang rawan. Selama bertahun-tahun, tulang rawan tersebut akan menjadi kaku dan menjadi 28 tulang yang ada di kaki manusia dewasa. Namun, proses ini belum selesai sampai masa remaja, sehingga sangat penting untuk sering-sering membiarkan kaki tanpa penghalang atau alas kaki. Sayangnya, kebanyakan sepatu yang dipasarkan untuk balita tidak sehat. Kebanyakan sepatu hanya seperti bata ukuran kecil, yang sangat kaku, tidak ada fleksibilitas pada telapak dan tumit dan memiliki hak terlalu tinggi untuk balita. Sepatu semacam itu sangat tidak baik untuk anak, terlebih bagi balita yang sedang belajar berjalan. Bila Anda ingin memberikan keamanan bagi anak, carilah sepatu yang sangat fleksibel sehingga tidak memperlambat perkembangan kaki anak. Tapi yang terbaik adalah sering-sering membiarkan anak tanpa alas kaki.

Referensi Utama : www.health.detik.com

Selasa, 24 Agustus 2010

"Meneropong" Budaya dari Kereta Api

Oleh : Imla W. Ilham

Saya pernah membaca sebuah novel karangan sastrawan Perancis, kalau tak salah namanya Jean-Paul Sartre. Ia pernah menuliskan sebuah kalimat : "Bila ingin melihat bagaimana negara memberlakukan rakyatnya, lihatlah Kereta Api-nya. Bila ingin melihat budaya negara itu, lihatlah bagaimana masyarakatnya memperlakukan Kereta Api".



Kereta Api Cepat Metro Milik Dubai

Kereta Api Cepat TGV Milik Perancis

Kereta Api Cepat AVE Milik Spanyol

Kereta Api Shinkansen Milik Jepang

Kereta Api KTX Milik Korea

Kereta Api THSR Milik Taiwan

Kereta Api (saya tak tahu merk-nya) .... ada di Pakistan

Kereta Api (saya tak tahu merk-nya) .... ada di India

Nah, ini Indonesia punya ...hehehehe

Sumber Photo : /www.google.com/

Rabu, 18 Agustus 2010

Sample ASMAUL HUSNA versi Photoshope

Dipost ulang : Imla W. Ilham

Kata Al Asma adalah bentuk jamak dari kata Al-Ism yang biasa diterjemahkan dengan ‘nama’. Ia berakar dari kata assumu yang berarti ketinggian, atau assimah yang berarti tanda. Memang nama merupakan tanda bagi sesuatu, sekaligus harus dijunjung tinggi. Apakah nama sama dengan yang dinamai, atau tidak, bukan disini tempatnya diuraikan perbedaan pendapat ulama yang berkepanjangan, melelahkan dan menyita tenaga itu. Namun yang jelas bahwa Allah memiliki apa yang dinamai-Nya sendiri dengan Al Asma dan bahwa Al Asma itu bersifat husna. Kata al husna yang berarti terbaik. Penyifatan nama-nama Allah dengan kata yang berbentuk superlatif ini, menunjukkan bahwa nama-nama tersebut bukan saja baik, tetapi juga yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, apakah yang baik selainNya itu wajar disandangNya atau tidak. Sifat Pengasih misalnya adalah baik. Ia dapat disandang oleh makhluk/manusia, tetapi kerana bagi Allah nama yang terbaik, maka pastilah sifat kasihNya melebihi sifat kasih makhluk, dalam kapasitas kasih maupun substansinya.
















:: sumber : e-book M. Munir

Minggu, 15 Agustus 2010

Melihat Persaingan Sperma Menuju Sel Telur

Ditulis ulang : Imla W. Ilham

Allahu Akbar ..... Ada jutaan sperma yang dikeluarkan pria ketika berhubungan intim, namun dari jumlah itu hanya satu sperma yang berhasil memecahkan sel telur.

Ilmuwan kini mampu melihat bagaimana persaingan sperma menuju sel telur secara real time. Peneliti menggunakan metode 'Glow in the dark' untuk menyingkap rahasia sperma menuju sel telur. Hasilnya, sperma-sperma itu bergerak cepat, lincah dan penuh persaingan. Selama ini belum ada metode real time yang bisa melihat pertempuran jutaan sperma masuk ke sel telur. Namun dengan 'Glow in the dark' bisa terlihat bagaimana ketatnya persaingan sperma yang berhasil menuju sel telur. Penemuan ini diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi penyembuhan masalah infertilitas (mandul). Dengan melihat gerakan sperma seperti apa yang mampu mencapai sel telur diharapkan pengobatan bayi tabung juga bisa menjadi lebih efektif.

Asal tahu saja, dalam pembuatan bayi tabung, sperma dan sel telur yang dipersiapkan sangat banyak tapi jarang yang bisa berhasil bertemu, sehingga pengobatannya dilakukan berulang-ulang. Peneliti di Amerika Serikat menggunakan teknologi genetika dengan menguji coba sperma lalat buah (Drosophila melanogaster) yang diberi cahaya hijau dan merah di ruangan gelap. Dari situ peneliti dapat melihat peristiwa yang sebelumnya tidak dapat teramati yang mana metode 'glow in the dark' yang digunakan ilmuwan dari Syracuse University bisa dipantau secara real time. Hasilnya sangat mengejutkan, peneliti bisa melihat persaingan antara sperma dan siapa yang kuat adalah komponen kunci dari seleksi seksual. "Tujuan utama kami dengan teknologi sperma 'glow in the dark' secara real time ini adalah untuk mengatasi mekanisme yang mendasari persaingan sperma," ujar Scott Pitnick, profesor biologi di Syracuse University's College of Arts and Sciences, seperti dilansir dari Sciencedaily, Minggu (15/8/2010).

Pitnick menjelaskan, setiap kali makhluk betina melakukan hubungan dengan lebih dari satu pejantan, maka terjadi masalah untuk menentukan sperma mana yang telah berhasil membuahinya dan siapa yang harus menjadi ayahnya. Namun, dengan kemajuan besar dalam teknologi biologi reproduksi ini, bisa menciptakan alat molekuler untuk menentukan siapa ayah dari keturunan yang dihasilkan. Dengan mengukur gerakan dan nasib sperma dengan cahaya hijau dan merah yang diinseminasikan dalam tubuh betina, yang kemudian diamati mobilitasnya secara real time, peneliti dapat membedakan antara mekanisme yang mendasari hipotesis sperma prioritas (yang dapat mencapai telur). "Rahang kami hampir jatuh ke lantai saat pertama kali menyaksikan hasil penelitian ini. Kami selama bertahun-tahun mempelajari hal ini di bawah mikroskop, tapi hari itu kami dapat melihatnya secara jelas.

Sperma terus bergerak di dalam tubuh betina dan menunjukkan perilaku kompleks yang sangat mengejutkan," terang Pitnick. Pitnick berharap temuan ini juga akan memberikan wawasan baru ke dalam ilmu biologi terutama bidang reproduksi dan seleksi seksual manusia. Dalam kondisi normal ketika bersenggema, sperma pria masuk melalui vagina lalu melewati leher rahim menuju mulut rahim. Kemudian seprma-sperma itu berenang di dalam rahim terus menuju saluran telur (tuba fallopi). Ada sperma yang bisa mencapai saluran telur tapi banyak juga yang tersesat.

(c) http://health.detik.com/

Sabtu, 14 Agustus 2010

Ketika Jilbaber Beraksi - Dari Pesona Wanita Iran

Edit ulang foto : Imla W. Ilham

Wacana publik tentang jilbab seringkali berputar-putar pada pertanyaan: Apakah ia sebuah ekspresi kultural Arab ataukah substansi ajaran agama; Apakah ia sebuah simbol kesalehan dan ketaatan seseorang terhadap otoritas agama ataukah simbol perlawanan dan pengukuhan identitas seseorang? Banyak feminis “beraliran” Barat memandangnya sebagai sebuah bias kultur patriarkhi serta tanda keterbelakangan, subordinasi dan penindasan terhadap perempuan. Saya tak mau ambil pusing tentang perdebatan-perdebatan yang cenderung ribet itu, yang pasti Jilbab begitu mempesona. Sebuah karomah yang diamanahkan Tuhan bagi wanita. Dan yang pasti .... Jilbab tak pernah menghambat kreatifitas wanita, setidaknya gambaran "aduhai" wanita Iran dibawah ini memperjelas karomah itu.

























:: dari berbagai sumber diantaranya F. Tehrani/wikipedia