Sabtu, 20 November 2010

Selamat Ulang Tahun Anakku, Malika Asy-Syifa Ilham @ Adek !!

Oleh : Muhammad Ilham

"Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia", kata Rabindranath Tagore. Karena itu, Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.



Malika As-Syifa atau Adek, hari ini, 20 Nopember 2010, kala kamu bangun pagi tadi, ayah ucapkan Selamat Ulang Tahun yang ke-5. Ayah juga berterima kasih, bahwa kamu selalu dan senantiasa mengingatkan ayah tentang semua hal yang menurut kamu tak baik ayah lakukan, tentunya dalam bahasa anak-anak seusiamu. Kritik dan protes pada ayah, sungguh bermakna. Dan ayah ingin, hal tersebut terus kamu lakukan sepanjang usiamu dan usia ayah. Selagi kita hidup, anakku, ayah akan selalu mengingat bahwa kamu adalah amanah yang harus ayah jaga dari sang Robbi Illahi, Tuhan Yang Maha Kasih, Allah SWT. Ayah akan terus belajar menjadi seorang ayah sebagaimana Rasulullah menjadi ayah bagi anaknya, Fatimah. Ayah juga akan ingat, apa yang disampaikan Kahlil Gibran :


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
...mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.


Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu, belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui. Nak, bacalah sejarah Nabi-nabi dan Rasul, serta temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah. Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun, bahkan di hadapan Allah, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan-Nya, hingga saat usia ayah yang sudah 36 tahun ini. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan. Inilah usaha terberatku, Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah.

Nak, Ayahmu barangkali tak kan pernah bisa menjadi orang kaya. Jadi, pandai-pandailah menempatkan dirimu sebagai anak orang biasa. Ayah barangkali tak selalu mampu menyediakan pangan terbaik, tapi jangan terlalu khawatir Nak, itu tak berarti ayah tak selalu berusaha penuhi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembangmu. Percayalah, banyak orang hebat di dunia ini yang terlahir, tumbuh, dan berkembang, hanya dengan mengkonsumsi penganan sederhana. Nak, kelak ayahmu barangkali tidak bisa menyekolahkanmu di sekolah-sekolah unggulan, tapi jangan terlalu risau, Sekolah unggulan bukanlah jaminan untuk bisa menjadi orang baik kelak. Percayalah, banyak orang mencapai kejayaan hidupnya tanpa bersekolah disekolah-sekolah unggulan nan mahal itu. Nak, kelak ayah barangkali tak mampu penuhi kebutuhan mu untuk gaul, tapi jangan ragu Nak, banyak orang-orang rendah hati di luar sana yang dengan tulus mau berteman denganmu, meski kamu tak punya modal untuk dicap gaul. Nak, kelak andai kamu merasa tak memiliki intelejensi di atas rata-rata, jangan terlalu cemas akan masa depanmu. Yakinlah, dengan tekad dan keuletan, masa depan gemilang tak mustahil tetap dapat kamu raih - tapi ingat Nak, kamu tak akan mampu tanpa do'a. Nak, andai kelak banyak orang meremehkan kamu atas apa yang cuma mampu kamu raih dan lakukan, tak usah bersedih Nak, Sepanjang hidup, Ayah juga mengalami banyak perlakuan tidak simpatik, diremehkan bahkan dilecehkan, Tapi yakinlah Nak, Semua itu tak akan mempengaruhi rencana Tuhan atas dirimu, Sejuta pelecehan manusia atas dirimu, tak akan mampu mengalahkan kuasa Tuhan jika Dia ingin memuliakan kalian. Maka dari itu Nak, cuma pada Nya respek tertinggi perlu kamu berikan. Nak, tak perlu gamang menjalani kehidupan, tak perlu terlalu risau dengan segala atribut dunia yang barangkali tidak akan pernah bisa kamu miliki, karena kamu hanya butuh hati yang bersih dan hasrat yang kuat untuk mengarungi anugrah kehidupan ini. Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dariNya, aku akan ikhlas, karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya...... (Dengan IFA, kakakmu, selalulah kompak berdua !).

:: Mari kita rayakan dengan sederhana. Ayah janji, ayah akan selalu menjadi ayah dan kawan yang baik buat-mu, sampai "menutup mata".

Malika Asy-Syifa kala berusia 4 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 3 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 2 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 1 tahun

Malika Asy-Syifa kala berusia 6 bulan

Adek lahir pada tanggal 20 November 2005, pukul 19.45 WIB, kala azan Isya menggema. Lahir di rumah Ongku dan Nenek di Air Bangis Pasaman Barat dengan persalinan yang dibantu oleh bidan Ibunda Ati. Pada usia 21 hari, Adek di-Aqiqah di Air Bangis dan selanjutnya berangkat ke Padang karena ayah dan ibunda bekerja di Padang. Sekali setahun, biasanya jelang Lebaran Aidil Fitri, Adek bersama Ayah, Ibunda, Teta Ifa dan Tante Fera (Pengasuh Adek dan Teta Ifa) pulang ke Air Bangis.

:: Kutulis ini dengan harapan, kelak tulisan ini bisa menjadi "warisan" baginya untuk dibaca dan diceritakan pada anak cucunya, kala saya dan ibundanya telah menghadap Tuhan Sang Pemilik Insan, kala tulang-tulang kami berdua telah memfosil (tak sanggup saya meneruskan, mata-ku sabak !)

2 komentar:

ushalli mengatakan...

"subhanallah....."
"great..."
Paduan kata yang luar biasa,...
Seperti rangkuman kata yang juga telah terpahat,...
di dinding hati, kala ku akan pergi, meniggalkan papa dan mama yang mulia, di Padang Kota Tercinta.

Semoga untain yang bapak tulis dengan hati ini, suatu saat kelak bisa di pahami,..oleh adinda yang masih belia,...
salam kenal pak dan buk,..

Fikreynoize mengatakan...

Salut deh buat abang,

Saya yakin, Ifa dan Malika sangat bangga punya ayah dan bunda kayak abang dan teta...

Jujur, ketika saya membaca nya, gag tau kenapa air mata ini sempat berlinang, dan akhirnya terjatuh...

Saya hanya ingin mendo'akan semoga keluarga yang abang "Imami" ini akan sama-sama dekat natinya disisi Allah...
Amiin