Senin, 25 Mei 2009

Mengapa Harus Sule, Olga dan Ruben ?

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Adek…….. anak saya yang paling bungsu, ketika ditanya, “Siapa orang yang diidolakannya?”. Maka jawabannya membuat saya dan suami tersenyum dan terkejut – “Adek suka sama Sule, Olga dan Ruben”. Kesukaannya terhadap entertainer Indonesia yang akhir-akhir ini sedang naik daun, memiliki alasan. Setiap pulang dari Baby School jam 4 sore, ia kemudian main dengan teta-ya (panggilan kesayangannya terhadap kakaknya Ifa) di komplek bareng dengan anak-anak tetangga. Siap Maghrib, biasanya teta-nya akan belajar membaca atau Iqra’ dengan saya. Adek, biasanya mencari kesibukan sendiri seperti mewarnai atau main tali karet. Saya selalu membelikan majalah-majalah anak-anak yang khusus content-nya mewarnai. Namun ini tidak berlangsung lama, dan selanjutnya ia akan meminta untuk menonton TV. Selalu siap Maghrib. Alasannya sangat sederhana, jam-jam tersebut di Trans TV ditayangkan acara sinema-komedi ”OKB dan Opera van Java”. Bintang ”mercusuarnya” – Sule dan Olga. Ketika ayahnya memindahkan channel dengan segala daya upaya bujuk rayu, ia akan protes dengan tangisan yang berkepanjangan.

Ketika Adek bermain-main dengan teman-temannya di komplek, ia sering menyebut-nyebut Sule, Olga dan Ruben dalam komparasi-imaginatifnya. Ini sering terdengar oleh suami saya. Biasanya ia agak tersenyum kecut (terkadang ketawa seakan-akan menikmati improvisasi imaginatif Adek tersebut), walaupun saya tahu ia agak marah pada saya ataupun pada Adek mengapa ”harus Sule dan Olga” yang ditonton. Mengapa harus dua tokoh ”brilyan dalam dunia komedi Indonesia” ini yang diidolakan Adek. Namun, terkadang suami saya selalu bilang, kita tak bisa menyalahkan Adek ataupun TV, yang salah adalah kita (saya dan suami). Kita tidak bisa dan mampu memberikan idola alternatif yang sesuai dengan usia dan perkembangan kepribadiannya. Belakangan ini, saya mengorientasikan Adek untuk menonton sinetron Tarzan Cilik ataupun Si Entong. Saya juga melibatkannya untuk belajar bersama-sama dengan kakaknya. Siap maghrib, ia saya ajak belajar Asmaul Husna dengan nyanyian. Nampaknya ia sudah mulai menikmatinya. Saya juga mulai mengintesifkan membeli CD seperti CD Film Diego ataupun Ipin dan Upin. Sedikit demi sedikit, Sule-Olga dan Ruben sudah hampir hilang dalam improvisasi imaginatifnya.

Suami saya pernah cerita. Tahun 1980-an akhir ada satu Tabloid yang cukup digemari masyarakat. Nama Tabloidnya, Monitor. Dipimpin oleh seorang jurnalis pintar, Arswendo Atmowiloto. Tabloid ini pernah membuat geger ummat Islam Indonesia dengan Tajuk ”Idola Masyarakat Indonesia”. Iwan Fals Nomor Satu, Nabi Muhammad Nomor 8, dibawah Arswendo pula. Persoalannya adalah, mengapa Nabi Muhammad SAW. yang agung itu ditempatkan oleh Arswendo di peringkat 8. Ummat Islam Indoesia merasa dilecehkan. Monitor didemo, Monitor di caci, Monitor dibreidel dan Arswendo dipenjara. Kata suami saya, peristiwa ini memberikan kepada kita dua pelajaran berarti. Pertama, Arswendo salah karena menafikan aspek etika kewarganegaraan dan kesantunan dalam kehidupan beragama. Ia melecehkan ”perasaan” ummat Islam, walaupun secara metodologi keilmuan, Arswendo betul karena pendapatnya tersebut berdasarkan fakta keilmuan (angket/kuisioner). Namun, kebenarang ilmu harus berada dibawah kesantunan dan etika kemanusiaan. Kedua, peristiwa Monitor ini memberikan pelajaran paling berharga bagi ummat Islam Indonesia. Ummat Islam Indonesia gagal ”menghidupkan” ketokohan Nabi Muhammad dalam hati ummat Islam Indoesia. Kita (guru, dosen, orrang tua, tokoh-tokoh Islam), tidak mampu menjadikan Nabi Muhammad menjadi idola ummat. Buktinya, versi Monitor, ia berada di peringkat 8. Apalagi, tanyakan pada anak-anak, tahukah mereka tentang Fatimah, Khadijah ataupun Ali, Umar, Abu Bakar dan Utsman. Mereka mungkin lebih familiar dengan Luna Maya, Olga ataupun Sule dan Ruben – sebagaimana yang terjadi pada Adek. Akhirnya, saya dan suami sepakat, apabila Adek mengidolakan Sule, Olga dan Ruben, maka saya dan suami adalah orang yang bertanggung jawab penuh karena tidak mampu memberikan idola komparatif yang lebih sesuai dengan latarnya. TV dan lingkungan tidak salah. Itu adalah tantangan. Karena itu, apa yang tejadi pada Adek, memberikan sebuah pelajaran berarti bagi kami suami istri.

Foto Adek dengan teman-temannya di "Baby School" Bundo Kanduang Belimbing. Adek di depan Nomor 3 dari kiri (lagi mengunyah makanan, Adek kurang cantik nampaknya).

Kamis, 14 Mei 2009

AHMADINEDJAD : "Nominasi Idola Anak-Anakku"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dengan latar belakang ilmu tarbiyah dan berkecimpung dalam dunia anak-anak, rasanya saya tidak memiliki pengetahuan yang lumayan tentang biografi orang-orang terkenal apalagi tentang ilmu politik. Entah kenapa, untuk yang terakhir ini (politik), saya sedikit apriori. Apalagi tentang politik internasional. Saya tidak mau mendikotomikan diri : barat-timur, Sunni-Syiah apatah lagi Amerika Serikat - Anti Amerika Serikat. Disamping pengetahuan saya tentang hal ini "sangat luar biasa dangkal", arahan agar dewasa dalam berfikir oleh suami juga membentuk pola pikir saya. Pada prinsipnya saya tak mau menghabiskan waktu dan energi untuk mendikotomikan hal tersebut. Saya hanya ingin menjadi "hamba Allah" yang baik, bekerja dengan ikhlas dan mengabdi pada keluarga (jadi ibunda yang baik bagi anak-anakku serta istri bermartabat bagi suamiku) dan pengabdian tulus buat profesi. Sehingga tidaklah mengherankan, apabila saya tidak memiliki idola "tokoh-tokoh dunia". Namun, ketika suami saya mengenalkan beberapa tokoh "lintas ideologi keIslaman", menceritakan sisi-sisi baik mereka, saya juga agak tersentuh.

Suami saya banyak memiliki tokoh idola, dan biasanya selalu hanya untuk aspek tertentu saja. Kecuali Nabi Muhammad SAW. dan Ali bin Abi Thalib serta Umar bin Khattab, hampir tak ada idola suami saya yang sifatnya total. Ia mengagumi Mandela dengan konsistensi perjuangannya, Mama Theresa dengan "sifat malaikatnya", Che Guevara dengan idealismenya, bahkan Tan Malaka serta Muhammad Hatta untuk aspek prinsip hidup dan kepintarannya. Hampir tak ada artis/entertainer yang diidolakannya. Paling-paling Sir Alex Ferguson (karena ia pengagum berat klub bola Manchester United), atau kesukaannya terhadap karya seorang seniman/artis seperti ia sangat menyukai musik Kitaro, Enya dan Opick (dan ini biasanya diputar pada malam hari sewaktu ia membaca), dan belakangan ini ia menyukai musik dangdut-nya Ridho Irama........ sungguh sangat sulit menebaknya. Beberapa hari belakangan ini, saya diperkenalkan oleh Suami saya tentang Ahmad Ahmadinedjad, Presiden Iran yang "tegar, berani serta zuhud". Tentang Iran, saya tak banyak tahu. Paling-paling, sedikit tentang Khomeini, atau tentang Film "The Children of Heaven" yang mengharukan itu. Saya juga pernah melihat, ada foto Ali Shariati di Perpustakaan Pribadi kami yang bergandengan dengan foto Khomeini, Ulama-Ulama Minangkabau, Hatta, Tan Malaka, Habibie, SBY dan Albert Einstein serta William Stephen Hawkings. Saya pernah tanya pada suami saya, siapa Ali Shariati itu ? Ia menjawab, "Inspirator Revolusi Islam Iran, Idola saya ketika mempelajari sosialisme Islam". Kebetulan Skripsi Sarjananya tentang Filsafat Sejarah Ali Shariati. Kembali ke Ahmadinedjad....... saya disodori beberapa gambar yang membuat saya trenyuh. Seorang Presiden yang untuk aspek tertentu mempraktekkan kezuhudan Umar bin Khattab. Walaupun saya tidak mengidolakannya, tapi setidaknya, ada "tersangkut" pada hati saya kekaguman terhadap seorang hamba Allah, dalam posisi yang begitu banyak bujukan rayuan, masih bisa mempraktekkan kesederhanaan bersikap dan bertingkahlaku. Rasanya saya ingin mendedikasikan namanya buat nanti (Isya Allah) bila Allah menagmanahkan pada saya anak laki-laki. Sayang namanya tidak begitu menarik ...... tapi entah nanti, mana tahu, dengan kombinasi nama lain.


Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: “Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?”. Jawabnya: “Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya, Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran”.


Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.



Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya, bahwa manusia-manusia besar tersebut tidak hanya terdapat dalam novel, sinetron ataupun film. Dalam dunia nyata, dunia masa sekarang, dunia dengan tantangan "kekinian", masih ada tokoh-tokoh Islam yang pantas untuk diteladani.

Senin, 11 Mei 2009

Komunikasi Efektif : Belajar Mendengar Anak

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Salah seorang raja Arab Saudi, Sultan Faisal bin Abdul ‘Aziz (Almarhum), suatu waktu pernah berkata, “Kita diberi oleh Allah 1 mulut dan 2 telinga”. Artinya, mari kita lebih banyak belajar untuk “mendengar” dibandingkan terus-terusan “memerintah” ini dan itu. Terhadap anak, rasanya apa yang dikemukakan oleh Raja Faisal yang zuhud ini, pantas bagi kita sebagai orang tua untuk belajar “mendengarkan” anak. Dalam sebuah penelitian, orangtua biasanya berbicara tujuh kali dan mendengar satu kali. Ini harus dibalik menjadi berbicara satu kali dan mendengar tujuh kali. Karena pada dasarnya anak itu selalu ingin didengarkan. Orangtua perlu membentuk komunikasi yang efektif di antara sempitnya ruang waktu bersama keluarga. Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks. Bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Keluarga sebagai tempat berangkat dan kembali. Karena itu ketika ada waktu bertemu dengan seluruh anggota keluarga hendaknya manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Kalau ada waktu bertemu, maka tingkat kesabaran orangtua harus lebih tinggi. Jangan sampai karena orangtua merasa capai, lantas marah dengan anak karena hal sepele. Karena kemarahan itu akan merusak komunikasi efektif.

Seni mendengarkan membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi atau yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal. Dalam memecahkan berbagai masalah harus berdasarkan pada pertimbangan win-win solution. Artinya orangtua di sini tidak boleh otoriter, tapi harus melihat jalan terbaik untuk kedua belah pihak. Proses komunikasi efektif antara orangtua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Bagaimana, sudahkah kita menerapkan komunikasi efektif dengan buah hati? ............. saya dan suami, sedang berusaha untuk terus belajar, bagaimana untuk bisa "mendengar"kan apa yang dikatakan Ifa dan Adek.


Saya (sebelah kanan) bersama dengan seorang teman yang lagi asyik baca al-Qur'an d alam Acara MTQ Kepala Sekolah TK, SD, SLTP dan SLTA Se-Kota Padang. Walaupun tidak memperoleh juara..... ada kebahagiaan luar biasa telah bisa ikut.

Rabu, 29 April 2009

Bunga Rosella Buat Suamiku

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Suami saya memiliki kebiasaan yang disatu sisi sangat baik namun disisi lain justru kebiasaan tersebut membuat ia terkadang sakit....... maniak membaca dan "ngetem" di depan komputer. Saya sangat menyadari bahwa kebiasaannya ini sudah mendarahdaging padanya sejak kami belum menikah. Ayahnya (mertua saya : Almarhum), di kampung dulu dikenal sebagai seorang guru honorer yang memiliki bacaan "kelas tinggi" untuk ukuran kampung saya waktu tahun 1980-an/1990-an yaitu Majalah Tempo dan Panji Masyarakat, bahkan konon mertua saya ini juga memiliki buku-buku Soekarno (biografinya) serta buku-buku sosialis yang sangat banyak (maklum waktu beliau masih muda pernah menjadi Ketua Pemuda Marhaenis Kota Medan tahun 1960-an). Jadi, suami saya sejak kecil sudah "dipaksa" membaca bacaan-bacaan berat seukuran dia dan kampungnya. Bahkan, buku-buku Soekarno dan Sosialis sekalipun, sejak kecil dibacanya, termasuk buku-buku Hamka. Jadi tidaklah mengherankan apabila di perpustakaan kami, buku-buku mertua saya yang diberikannya kepada suami saya hampir 200 buah buku. Kebiasaan ini terus berlangsung hingga kini....... suami saya paling suka membaca buku (terutama buku Filsafat, Politik, Sejarah, Budaya dan Sosial). Di rumah kami ada 4 kamar (3 kamar tidur dan 1 kamar pustaka). Kamar pustaka tersebut cukup besar dan memuat hampir 4.000 (empat ribu) koleksi buku-buku suami saya.

Ketika kami sudah menikah, biasanya ia membaca pada jam-jam hening, antara tengah malam hingga jelang subuh, sambil mengetik ataupun main internet. Apalagi bila beliau sedang mempersiapkan bahan kuliah, penelitian ataupun menulis buku (hingga sekarang ia telah menghasilkan 7 buah buku). Kalau sekarang, ketika sore kami pulang (tapi ia sering pulang jelang Maghrib), ia biasanya terus ke Musholla, dan sampai jam 9 malam, ia akan duduk-duduk dengan teman-teman di komplek di kedai. Biasa ..... "maota politik". Beliau dari dulu hingga sekarang memang paling suka berkumpul-kumpul di kedai-kedai, baik di komplek perumahan kami ataupun ketika sedang di kampung. Ia paling suka diskusi dan berdebat (konon, tahun 1996, ia pernah menjadi Juara Debat Mahasiswa Tingkat Universitas Andalas). Setelah pulang ke rumah sekitar jam 9 malam, ia biasanya bercengkerama dengan anak-anak, tidak begitu lama. Setelah itu, ia akan membaca, mengetik dan sesekali menonton TV apabila ada acara Dialog/Berita ataupun Bola (beliau juga maniak bola.... idolanya dari dulu Manchester United). Bila ia tidak melakukan kegiatan luar seperti riset atau penelitian, kegiatan-kegiatan ini seperti rutin dilakukannya. Akibatnya, saya melihat bahwa ia sering pusing dan mengidap penyakit yang sering kambuh yaitu migrain. Akhir-akhir ini, migrainnya sering kambuh karena memang intensitas kegiatannya di kampus, penelitian dan kegiatan-kegiatan lainnya cukup menyita istirahatnya. Bila Migrainnya kambuh, saya terkadang kasihan melihatnya. Matanya sebelah kanan memerah dan berair seperti menangis. Kadang-kadang ia saya urut, tapi tak banyak membantu. Saya sering menasehatinya agar cepat tidur, istirahat ataupun kurangi membaca atau berada di depan komputer. Tapi dasar sudah talentanya, nasehat tersebut tidak pernah didengarnya. Bahkan terkadang dalam mata memerah dan berair itu, bila ada acara Today Dialog di Metro TV, ia akan "memaksakan" diri untuk menonton.

Belakangan ini, disamping Migrain, ia juga merasakan nyeri-nyeri di tulang ataupun pinggangnya setiap bangun pagi. Mungkin letih atau memang karea kebiasaannya yang tidak baik lainnya ..... suka mandi malam (biasanya habis pulang dari Musholla). Saya suruh ia sering ke klinik untuk chekup migrain dan rasa nyeri tersebut. Namun, hanya sekali dua.... itupun obat yang diberikan dokter jarang dimakannya dengan alasan "tidak mau sering mengkonsumsi obat-obat kimia". Kondisi ini akhirnya membuat saya berusaha mencari obat-obat herbal. Melalui seorang teman, akhirnya saya diberitahu tentang khasiat Teh Bunga Rosella. Saya promosikan pada suami. Ia oke. Saya beli di sebuah apotik di Simpang Anduring. Awalnya ia tidak begitu menikmati. Namun lama kelamaan, ia enjoy. Belakangan ini ia mengatakan bahwa rasa nyeri dan sakit di pinggang sudah jauh berkurang, tinggal migrain. Dan Alhamdulillah, ia sekarang rutin meminum teh Bunga Rosella itu.

Rosella, atau dalam bahasa latinnya - Hibiscus Sabdariffa Linn (cantik namanya yaa....) adalah tanaman dari keluarga sejenis kembang sepatu. Konon tanaman ini berasal dari Afrika dan Timur Tengah. Tanaman perdu ini bisa mencapai 3-5 meter tingginya dan bila sudah dewasa, tanaman ini mengeluarkan bunga warna merah. Bagian bunga dan biji inilah yang bermanfaat serta baik bagi kesehatan. Menurut Depkes RI (No. SPP. 1065/35.15/05), dalam setiap 100 gram Rosella mengandung 260-280 mg Vitamin C, D, B1 dan B2. Kandungan lainnya adalah 486 mg Kalsium, Omega 3, Magnesium, Beta Karotin serta Asam Amino Esensial (he...he....saya bukan ahli farmasi, saya salin saja dari kotak Teh Bunga Rosella yang saya beli di salah satu apotik untuk suami saya, jadi walaupun tak tahu kegunaan zat ini, setidaknya zat-zat tersebut baik bagi tubuh). Konon, bunga Rosella ini juga baik untuk pencernaan bila dikonsumsi. Dan zat-zat tertentu dalam kandungan bunga Rosella ini dipercaya mampu menangkal radikal bebas penyebab kanker, mencegah keropos tulang, dan untuk zat-zat lainnya juga bisa meremajakan sel tubuh serta melindungi tubuh dari inveksi kuman dan virus (Waaah, Allahu Akbar, ruaaar biasa). Jadi, rasanya saya tidak salah memberikan obat herbal-alamiah ini pada suami saya. Walaupun pada awalnya ia protes, tapi lama kelamaan karena ia merasakan ada kemajuan, justru ia terus yang selalu mengingatkan saya untuk selalu membeli bunga Rosella. Untuk ini pula, saya setiap pagi selalu "membekali"nya satu gelas besar (dari plastik) seduhan teh bunga Rosella bila ia berangkat ke kampus...... terus hingga tulisan ini saya buat. Nampaknya, ia senang dan tak keberatan.

Insert : Bunga Rosella (bahan teh Bunga Rosella)

Senin, 27 April 2009

EMMA YOHANNA : Anggota DPD RI (2009-2014)

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Seketika Pemilu 9 April 2009 yang lalu selesai dilaksanakan, saya dan keluarga selalu mengikuti perkembangan angka demi angka perolehan suara, khususnya perolehan suara Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI). Ada rasa dag dig dug, karena memang salah seorang calon yang berkompetisi meraih gelar "senator" tersebut adalah Ibu Emma Yohanna, pimpinan Yayasan Pendidikan Citra Al Madina Padang. Hari demi hari, saya terus memantau perkembangan suara yang diperoleh "mami Emma" (demikian Ifa dan Adek memanggilnya). Alhamdulillah, akhirnya Ibu Emma Yohanna dapat meraih posisi nomor 2 dari 4 orang yang menjadi jatah Sumatera Barat untuk DPD RI dari Utusan Sumatera Barat.

Saya merasa bahagia, karena memang disamping memiliki ikatan emosional (beliau adalah pemilik serta pimpinan Yayasan Pendidikan Citra Al Madina), juga saya anggap sebagai orang tua saya. Saya dapat merasakan bagaimana kebahagiaan yang dirasakannya. Walaupun tugas berat menantinya, namun saya yakin, dengan kualitas dan kapabilitas yang dimilikinya, Ibu Emma Yohanna akan mampu berbuat. Walaupun saya sedih karena beliau "bukan lagi miliki kami seutuhnya", tapi sudah menjadi milik masyarakat Sumatera Barat. Ibu Emma, selamat berjuang. Anak-anak saya (Ifa dan Adek), juga merasa bahagia karena tetangga di kompleks saya selalu berkata kepada Ifa dan Adek, "Ifa, maminya mau pindah ke Jakarta, ya?". Ibu, selamat berjuang. Bahagia dan suka cita atas semuanya. Semoga sehat selalu.

Insert : Foto Emma Yohanna, Pemilik dan Pimpinan Yayasan Pendidikan Citra Al Madina Padang (Anggota DPD RI 2009-2014)

Jumat, 17 April 2009

PAUD Citra Almadina Padang : 1 diantara 10 PAUD Unggulan Nasional 2008/2009

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala Sekolah TK-PAUD Citra Almadina Padang)

PADANG EKSPRES - Februari 2009. Yayasan Pendidikan Citra Almadina di Jalan Purus I No 8A Padang peroleh sertifikat sebagai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) unggulan nasional dari Depdiknas RI. Citra Almadina menjadi satu-satunya lembaga pendidikan usia dini di Sumbar yang memperoleh penghargaan ini. Secara nasional Depdiknas hanya memilih 10 lembaga pendidikan terbaik. Kasubid Pembinaan Taman Penitipan Anak Direktorat PAUD Depdiknas Tuti Wahyuti, usai Launching TPA Pusat Unggulan PAUD Citra Almadina dan Workshop BCCT di kantor yayasan Citra Almadina, kemaren mengatakan terpilihnya yayasan ini melewati penyaringan yang ketat. Citra Almadina dinilai memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan Depdiknas sebagai PAUD unggulan di indonesia. “Yayasan ini akan menjadi pusat rujukan pendidikan usia dini di Sumbar. Dan sekaligus sebagai tempat melakukan uji coba dan magang,” kata Tuti.


Foto bersama majelis guru dengan anak-anak TK A (tidak termasuk TK B dan PG)

Majelis Guru dan Staff Administrasi PAUD (TK dan Play Group) Citra Al Madina Padang :
(Kiri-Kanan : Berdiri) Siska Maidona, Indra, Abdullah Ginting, Vivit, Yanti, Jameela dan Alitnawati.
(Kiri-Kanan : Duduk) Siska Rahayu, Lidya, Imla W. Ilham, Sophie, Riah dan Eri

Ketua yayasan, Ema Yohana yang didampingi oleh Kepala TK-PAUD Citra Almadina, Imla W. Ilham, S.Ag mengatakan, Yayasan Citra Almadina terpilih sebagai PAUD unggulan pada September 2007 lalu. Sejak ditunjuk Depdiknas sebagai PAUD unggulan, Citra Almadina telah melakukan program-program ungulan pendidikan anak usia dini. Seperti penerapan Beyond Centres and Circle Times (BCCT). “Bentuknya saat ini kita menggelar workshop BCCT untuk pengelola taman penitipana anak (TPA). Sebelumnya Desember lalu, juga sudah digelar workshop BBC untuk guru-guru playgroup,” jelasnya. Acara yang dibuka secara resmi oleh Kadis Pendidikan Sumbar Burhasman Bur ini diikuti 50 peserta dari Kota Padang dan Kabupaten/kota di Sumbar lainnya. Dalam sambutannya, Burhasman mengatakan, pendidikan usia dini harus diperhatikan lebih. Harus ada sentuhan pada tingkatan pendidikan ini, soalnya PAUD adalah dasar dari kecerdasan anak di masa depan. Dalam konsep ini guru-guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hasilnya, siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mencoba sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat sekarang dan kelak.

Salah satu kegiatan anak TK-PAUD Citra Al Madina Padang (Outing) ke LANUD Tabing Padang


Rabu, 15 April 2009

Sekolah dan Perjuangan Anak-Anak di China Barat

Di negara China bagian barat tepatnya di desa Gulucan, setiap hari anak-anak usia sekolah pergi dan pulang hanya melewati satu-satunya jalan saja, yaitu jalan terjal dipinggang gunung yang curam, riskan dan sungguh menakutkan (setidaknya bagi anak-anak dan orang tua seperti saya). Coba sekarang lihat gambar-gambar dibawah & bayangkan bagaimana perjuangan mereka untuk sampai ke sekolah..... dan mereka itu masih anak-anak. Mereka bukan hanya berjuang untuk mengatasi kebodohan, tapi juga "dipaksa" oleh alam untuk berjuang mengatasi rasa takut. Sungguh, alam juga memberikan media pembelajaran. Berangkat dari rumah, dalam perjalanan hingga sampai ke sekolah. Kemudian pulang sekolah mereka akan pulang ke rumah melewati jalan yang sama ..?


Sumber : www.unesco.com


Jatuh Cinta (Again) Pada Suami

Diedit ulang dari Kompas.Com oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Ada perbedaan mendasar antara jatuh cinta (in love), dengan mencintai (to love) seseorang. Jatuh cinta sifatnya hanya sesaat. Itulah saat di mana kita berdebar-debar menanti telepon seseorang, menunggu kehadirannya, membuat kita jadi lupa makan atau enggan tidur karena tidak ingin kehilangan waktu bersamanya. Inilah perasaan awal yang kita alami terhadap seseorang. Sedangkan mencintai adalah tahap lebih lanjut, setelah kita betul-betul mengenalnya, dan menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Banyak di antara kita yang awalnya menikah tanpa perasaan cinta pada suami. Kita menikahinya karena merasa ia adalah pria yang baik, memiliki visi yang sama mengenai masa depan, dan mempunyai sifat-sifat atau karakter yang dapat melengkapi diri kita. Meskipun kita tidak pernah jatuh cinta padanya. Kita tidak merasa berdebar-debar menunggu kehadirannya. Kita hanya menyayanginya, karena telah menemani hidup kita sehari-hari.


Namun setelah menikah, dan semakin lama Anda mengenalnya, semakin Anda dapat melihat sisi-sisi baik dirinya yang lain. Suami ternyata seseorang yang selalu ingin menyenangkan hati Anda. Ketika Anda bangun pagi di hari Minggu, ia tersenyum pada Anda dan menanyakan apa yang Anda inginkan untuk sarapan. Ia tak keberatan membatalkan janji untuk hangout dengan teman-temannya, karena Anda sedang membutuhkannya. Ia selalu memuji dan menghabiskan masakan Anda, meskipun Anda tahu masakan Anda tidak seenak buatan ibunya. Ia selalu menghargai semua jerih payah Anda menata rumah, meskipun hal itu kadang tak sesuai dengan seleranya. Ia juga selalu mengatakan bahwa Anda tetap seksi, sekalipun Anda mengeluh bokong Anda tak lagi sekencang sebelum melahirkan buah hati Anda. Karena sikap-sikapnya itu, perlahan-lahan mulai tumbuh perasaan yang lebih dalam terhadap suami. Ketika ia sedang terlelap di samping Anda, Anda menyadari betapa cintanya pada Anda tak berubah setelah bertahun-tahun. Ketika ia sedang terbaring sakit di rumah sakit, Anda menyadari bahwa Anda tak siap jika harus menjalani hidup Anda sendirian tanpa kehadirannya. Tanpa Anda sadari, Anda sering merindukannya ketika ia sedang bertugas ke luar kota. Anda merasa berdebar-debar ketika ingin memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.


Itulah saat ketika Anda sedang jatuh cinta pada suami Anda. You’re in love with your husband. Anda merasakan sesuatu hal yang tak Anda alami ketika masih berstatus pacar. Berbahagialah bila Anda mengalami hal ini. Perasaan cinta yang tumbuh perlahan seperti ini akan semakin kuat, berbeda jika Anda jatuh cinta pada pasangan sebelum menikah. Ketika perasaan berdebar-debar itu mulai memudar seiring usia pernikahan Anda, hubungan Anda dan suami mulai kering, datar, tak menggairahkan lagi. Lebih parah lagi ketika akhirnya Anda melihat sifat-sifat asli yang tak ditunjukkannya dulu. Bila Anda pun ingin merasakan jatuh cinta pada suami, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan. Anda memang tidak akan melihat hasilnya dalam sekejap, karena hal ini membutuhkan kerelaan Anda:


1. Kenalilah dirinya lebih jauh. Perhatikan hal-hal kecil yang dilakukannya, kata-kata yang diucapkannya, atau apa yang menjadikan dirinya seperti sekarang. Mintalah mertua Anda menceritakan bagaimana suami Anda waktu kecil. Dengan menggali sisi lain dirinya, Anda akan menemukan lebih banyak sifat-sifat baiknya yang sebelumnya tidak Anda sadari.


2. Tulislah sisi-sisi baiknya dalam kepala Anda, dan lihat bagaimana sifat tersebut memengaruhi hubungan Anda. Ia seseorang yang selalu mengalah, dan ketika akhirnya ia marah karena sesuatu yang Anda lakukan, Anda sadar bahwa selama ini Anda bersikap egois padanya. Hal ini akan menumbuhkan rasa syukur bahwa ia mampu membuat Anda menjadi lebih baik.


3. Bukalah diri Anda. Jika ia ingin mengantarkan Anda ke suatu tempat meskipun Anda merasa sanggup berangkat sendiri, terima saja tawaran tersebut. Anda mungkin tidak menyadari bahwa hal ini akan membuatnya tenang, karena istrinya telah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Sebagai imbal baliknya, tawarkan apa yang dapat Anda lakukan untuknya. Anda akan sadar, sangat menyenangkan membuat dirinya senang.


4. Terimalah apa yang menjadi kelemahannya. Ketika Anda mengetahui apa yang menjadi penyebab kekurangan dirinya, Anda tidak lagi berusaha menyerangnya, melainkan justru ingin membantunya. Misalnya, ia seorang yang tidak percaya diri karena orangtuanya tidak pernah memuji perbuatannya, atau hasil karyanya waktu kecil. Pujilah dia, seperti dia memuji Anda.


Nah, bila Anda tidak merasakan cinta yang mendebarkan seperti yang dialami teman-teman waktu kuliah dulu, Anda mungkin hanya belum melewati masa-masa itu. Kelak Anda pun akan menyadari bahwa suami begitu lovable. Betapa ia seorang yang begitu mudah mencintai dan dicintai. Anda hanya perlu melihat sisi lain dirinya dengan lebih dekat.


Minggu, 12 April 2009

Menjawab dengan Menumbuhkan Imajinasi Anak

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Saya ingat lebih kurang empat tahun lalu, ketika saya mengandung Adek (lagi berat-beratnya lho), anak saya IFA menanyakan : “Ibu, adik sekarang sedang apa dalam perut ibu ? Perut ibu kan sempit, pasti adik tak bisa bermain-main seperti IFA”. Bingung juga saya menjawab pertanyaan anakku yang saat itu baru berumur sekitar 2 tahun lebih sedikit. Akhirnya, saya jawab saja dengan menumbuhkan imajinasinya. Memang ada kesan bohong, tapi bila saya jawab dengan jawaban yang sebenarnya, IFA pasti tidak memiliki kemampuan mencerna dan memahami. Saya yakin, akan timbul pertanyaan selanjutnya yang justru berpotensi akan membuat saya kelabakan untuk menjawabnya. Ya… saya bangkitkan imajinasi IFA dan mengatakan bahwa adiknya sekarang sedang bermain sebagaimana halnya IFA bermain di rumah.


Apa pentingnya imajinasi untuk anak? Bukankah itu hanya membuang waktunya dengan lamunan-lamunannya saja yang tak pernah mungkin akan terjadi? Pertanyaan tersebut pasti muncul di benak anda bila anda belum paham apa imajinasi yang boleh dan tidak boleh dia lalukan. Menurut saya imajinasi menumbuhkan daya pikir kreatif anak untuk bisa mengembangkan kecerdasaanya sehingga dia akan berpikir kritis dan selau memiliki second opinion terhadap apa yang dia lihat dan rasakan serta berpikir bahwa selain yang dia lihat mungkin ada yang belum dia lihat yang bisa saja yang membuat hal ini terjadi. Atau intinya mengajarkan sia anak agar mampu keluar dari satu pikiran atau pendapat (out of the box) yang bisa membawa lebih dari satu kemungkinan yang bisa terjadi. Yah memang bila anak anda berpikir atau berimajinasi menjdi superman, ultraman, power rangers, dll tentunya hal tersebut membuat dia lupa waktu tetapi bila dia berimajinasi tentang masa depanya apakah hal tersebut tidak penting? Misal dia ingin menjadi dokter bila dewasa nanti agar bisa mengobati mama dan papa bila sakit, atau dia ingin menjadi presiden sehingga dia bisa membantu dan memperjuangkan orang-orang miskin, atau dia berharap bisa menjadi astronaut sehingga bisa jadi ilmuan dan pergi ke bulan, dsb. Tentunya imajinasi yang baik akan menjadikan dia berpikir untuk meraih apa yang dia inginkan.

Apapun imajinasi mereka yang saat ini dia khayalkan adalah buah dari informasi yang dia dapatkan selama ini. Tanpa informasi yang dia dapatkan maka mustahil dia bisa melakukan imajinasi sesuatu yang sama sekali dia belum pernah lihat tau atau rasakan sebelumnya. Jadi imajinasi yang mereka lakukan adalah bersumber dari informasi yang dia dapatkan sebelumnya, bila informasi yang anda berikan adalah tentang dunia real dan mencerikatan apa dan bagaimana sesuatu yang bisa terjadi dan baik maka dia akan mulai berimajinasi dengan sesuatu yang bisa saja terjadi bila dia berusaha sesuai dengan yang anda ceritakan kepadanya. Tetapi sebaliknya jika anda memberikan informasi tentang hal-hal yang sifatnya hanya khayalan dan tidak pernah akan terjadi walaupun dia berusaha sekuat apapun tentunya dia akan berkhayal hanya pada area yang bisa dia jangkau walaupun dia tahu itu tak akan pernah terjadi. Terangkan apa yang boleh dan tidak boleh dia khayalkan dan bagaimana cara untuk bisa menjadi sesuatu yang dia harapkan dalam khayalannya tersebut dapat menjadi kenyataan.


Jumat, 03 April 2009

Paling Sulit Disembuhkan : "Syaraf Otak karena Sering Menonton Pornografi"

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Peringatan keras bagi penghobi tayangan porno. Ahli bedah saraf dari San Antonio, AS, Donald Hilton Jr MD, membeberkan kerusakan otak karena kecanduan pornografi dalam diskusi memahami dahsyatnya kerusakan otak akibat kecanduan pornografi dan narkoba dari tinjauan kesehatan di Departemen Kesehatan. Menurut pakar neuro science dari Metodist Speciality and Transplant Hospital San Antonio itu, sejatinya semua kecanduan (adiktif) berpengaruh terhadap kerusakan otak. Misalnya, kecanduan makanan (obesitas), judi, narkoba, maupun pornografi. Hanya, tingkat kerusakan otak akibat kecanduan pornografi dinilai paling tinggi. Jika dibiarkan, hal itu bisa mengakibatkan penyusutan (pengecilan) otak. Ujung-ujungnya, terjadi kerusakan otak. Permanen dan tidaknya kerusakan tersebut bergantung intervensi medis yang dilakukan.


Hilton menyatakan, penyusutan otak bisa berangsur-angsur kembali normal asalkan dilakukan pengobatan secara intens. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. Sebab, pada dasarnya, otak terus mengalami regenerasi jaringan. ”Dengan demikian, otak yang mengecil itu bisa kembali lagi. Namun, cepat atau lambatnya pemulihan tersebut bergantung kasus kecanduan yang diderita. Kerusakan otak akibat kecanduan makanan (obesitas) maupun drugs cenderung lebih mudah diatasi ketimbang pornografi. Ada perbedaan antara otak yang sudah kecanduan terhadap sesuatu dan yang tidak. Otak yang telanjur kecanduan memiliki mekanisme kontrol yang kecil terhadap rangsangan. Sebaliknya, otak yang belum kecanduan masih memiliki kontrol yang besar untuk mencegah perintah agar tidak kecanduan.

Berdasar hasil penelitian yang dilakukan Hilton bersama istrinya, di antara semua kasus kecanduan, pornografi merupakan salah satu yang tersulit. Bahkan melebihi kecanduan obat. Menurut dia, mayoritas anak maupun remaja mengonsumsi tayangan pornografi dari internet. Lantaran masukan itu hanya datang satu arah atau tanpa melalui diskusi maupun saringan dari orang tua, anak cenderung menerima informasi tersebut secara mentah. Di AS, 10 persen anak muda mengakses situs pornografi.

(Sumber : www.jawapos.com)


Sungguh Indahnya Melahirkanmu .... Nak !

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…
(Dikutip dari Bila Ibu Boleh Memilih, kumpulan puisi hati Ratih Sanggarwati)

Insert :
Foto IFA dalam gendongan ibu ketika selesai aqiqah (umur 21 hari)

Minggu, 29 Maret 2009

Tipe-Tipe Orang Tua

Ditulis Ulang oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Kondisi ketidakpatutan dalam memperlakukan anak telah melahirkan berbagai gaya orang tua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan 'miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orang tua dalam mengasuh anak, antara lain:

1. Gourment Parents (ortu borju)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orang tua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karir dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka superkids merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orang tua. Orang tua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju yang mahal bermerk terkenal, memasukannya ke dalam program-program ekslusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anaknya sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orang tuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merk mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak kelompok orang tua gourment menyekolahkan anaknya.

2. College Degree Parents (ortu intelek)

Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah keatas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan bidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka superkids. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anak mereka ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak-anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

3. Gold Medal Parents (ortu selebritis)

Kelompok ini adalah kelompok orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade Matematika dan sains. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi 'seorang bintang sejati'. Sejak dini mereka persiapkan anak-anaknya menjadi Sang Juara. Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Gold medal parents menimbulkan banyak bencana bagi anak-anak mereka!

4. Do it Yourself Parents
Merupakan kelompok orang tua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan profesional di bidang sosial dan ibadah. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Mereka juga bermimpi menjadikan anak-anaknya superkids. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

5. Outward Bound Parents (ortu paranoid)
Mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anaknya dapat bertahan di dunia yang penuh permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya. Kelompok ini kadang terpengaruh dan menerima konsep superkids. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi mereka dari segala mara bahaya. Terkadang memasukkan anak-anaknya mengikuti karate, yudo, pencak silat sejak dini untuk melatih kecakapan. Mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak-anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi 'steril' dari lingkungannya.

6. Prodigy Parents (ortu instant)
Merupakan kelompok orang tua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka memandang kesuksesan mereka dibidang bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. Mereka memandang anak-anak mereka akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anak mereka. Mereka mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara-cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai.

7. Encounter Group Parents (ortu ngerumpi)
Merupakan kelompok orang tua yang memiliki dan senang pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap. Terkadang juga merupakan kelompok orang tua yang kurang bahagia dalam perkawinan nya.Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Mereka membuang-buang waktu dengan kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orang tua. Mereka berharap anak-anak mereka jadi superkids. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

8. Milk and Cookies Parents (ortu ideal)
Merupakan kelompok orang tua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orang tua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar disegala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kelompok belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orang tua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak-anak membutuhkan proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik.

"ANAK ADALAH ANUGERAH TUHAN...SEBAGAI HADIAH KEPADA SEMESTA ALAM, TETAPI CITRA ANAK DIBENTUK OLEH SENTUHAN TANGAN-TANGAN MANUSIA DEWASA YANG BERTANGGUNG JAWAB". Kesimpulannya aku termasuk tipe orang tua yang mana ya?

Pengenalan Tuhan dan Etika Berawal dari Usia Dini

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)



Di dalam keluarga, orangtua bertanggung jawab memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Pendidikan yang harus diberikan pertama kali dan sangat penting adalah pendidikan agama. Karena, pendidikan agama itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik di akhirat maupun di dunia. Bila agamanya baik maka baik pula kualitas manusia itu.

Memberikan pendidikan akidah bagi anak bisa didahulukan dengan mengenalkan Allah swt dan menanamkan kecintaan terhadap-Nya. Orangtua dapat menjelaskan bahwa Allah swt adalah Maha Pencipta semesta alam, dunia beserta isinya, Allah swt adalah Maha Pemberi Rezeki, Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan Mendengar segalanya, dan sebagainya. Kemudian, dengan bertahap anak diajarkan untuk menjalankan semua perintah Allah swt seperti sholat, puasa, dan lain-lain, serta untuk menjauhi segala larangan Allah swt. Salah satu metode dalam pendidikan akidah yaitu metode penghafalan. Hafalan-hafalan yang dilakukan anak-anak akan dapat mengantarnya kepada sebuah pemahaman. Bila sang anak mau menghafalkan dan memahaminya, maka akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan. Keyakinan inilah yang akan membuatnya melakukan hal-hal yang benar karena ia tahu keyakinannya itu akan menyelamatkannya di dunia dan di akhirat. Dengan begitu, anak tidak akan menyekutukan Tuhannya, Allah swt.


Hafalan-hafalan yang diajarkan pada anak-anak misalnya saja gerakan dan bacaan sholat, doa-doa, Al Quran, dan adab-adab. Selain itu, penting pula untuk mengajari anak sunnah-sunnah qauli (yang sifatnya ucapan/bacaan), misalnya saja:

  • Membaca bismillah ketika hendak melakukan sesuatu.
  • Membaca doa makan ataupun bismillah ketika hendak makan dan melafalkan hamdalah ketika selesai makan.
  • Memuji Allah saat bersin (mengucapkan Alhamdulillah), dan mengucapkan yarhamukallah ketika mendengar orang yang bersin.
  • Membiasakan mengucapkan Subhanallah bila melihat sesuatu yang mengagumkan.
  • Mengajarkan doa-doa lainnya kepada anak hingga hafal, seperti doa hendak tidur, doa bangun tidur, doa masuk dan keluar rumah, dan lain-lain.


Akhlak merupakan cerminan dari iman yang mencakup dalam segala bentuk perilaku. Pendidikan akhlak juga harus diberikan kepada anak-anak sejak dini agar mereka kelak menjadi manusia yang diridhoi oleh Allah swt dan dapat menghargai semua orang. Pendidikan akhlak adalah proses pembinaan budi pekerti anak sehingga menjadi budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah). Dalam hal ini orangtua sangat berperan dalam memberikan pendidikan agama secara menyeluruh. Selain itu, akhlak anak-anak bergantung pada kebiasaan dan perilaku orangtua dan saudara-saudaranya di rumah. Anak-anak akan mencontoh ayah dan ibunya dalam berperilaku. Anak-anak akan meniru kebiasaan dan tingkah laku orangtua dan saudara-saudaranya. Bila anak sering melihat orang tuanya saling menolong dan bergaul dengan baik, maka anak dengan mudah berprilaku seperti itu pula. Begitupun dengan ucapan-ucapan yang sering didengar oleh anak-anak, akan mudah ditiru oleh mereka. Oleh karena itu, sudah semestinya orangtua dapat menjadi contoh teladan bagi-anak-anaknya, seperti sopan santun dalam bertutur maupun berprilaku sehari-hari. Dalam mengajarkan pendidikan akhlak di rumah, orangtua dapat mengajarkan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu seperti berbakti pada orangtua, menuruti kata-kata orangtua, sopan kepada orangtua dan saudara-saudara, dan sebagainya.

Insert : IFA latihan Manasik Haji

Jumat, 20 Maret 2009

Sosialisasi Anak dan Televisi

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala PAUD-TK Citra Al Madina Padang)

Dalam zaman kini, kekhawatiran seorang ibu terhadap rasa sepi yang hinggap pada anak-anak mereka di rumah, barangkali sudah tidak lagi menemukan relevansinya. Pertama, di setiap rumah tangga selalu hadir si “tube tolol” (baca: televisi) yang senantiasa menemani si kecil menghabiskan hari-harinya. TV telah menjadi mesin dongeng yang jauh lebih memukau daripada nenek pencerita, yang mudah dilumpuhkan oleh batuk kronis dan kepikunan. Semenjak TV bertengger di ruang tamu, atau bahkan berekspansi ke setiap kamar tidur, orangtua sudah tidak perlu lagi capek-capek mendongeng dan meninabobokan anak. Bagi anak-anak jaman sekarang, cerita kekerasan dan kematian bukanlah sesuatu yang ganjil dan menakutkan. Kedua, Setiap hari mereka duduk di depan TV, mengunyah ilusi-ilusi tersebut yang konon begitu “jorok dan berlumuran darah”. Beberapa Media Massa yang melakukan Survei membenarkan bahwa anak-anak adalah penonton berat televisi. Rata-rata anak usia 2-5 tahun menonton televisi 27,8 jam/minggu. Padahal sekitar 80% dari waktu utama pertunjukkan menampilkan kekerasan. Frekuensi tersebut makin meningkat pada acara kartun Sabtu pagi, yang rata-rata lebih dari 25 episode kekerasan/jam.

Seiring dengan dengan tumbuhnya kepercayaan khalayak pada aneka prasangka psikologis mengenai kerapuhan jiwa anak dan hubungannya dengan TV, akan lebih tepat sekiranya jika kekhawatiran seorang ibu dialamatkan untuk teror mental televisi terhadap perkembangan jiwa anak. TV tampaknya telah menjadi semacam nenek penyihir yang memperkenalkan anak pada pesona kematian (nekrofilia) dan the art of destruction (Yasraf Amir Piliang, 1995). Disinyalir bahwa televisi bukan hanya merupakan hiburan bagi anak-anak, tetapi juga sarana sosialisasi (kekerasan) yang penting.

Cara Mendidik Anak


Jika anak dibesarkan dengan cacian, maka ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia akan belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengansebaik-baiknya perlakuan,
maka ia akan belajar berkeadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
maka ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Salah satu sudut kelas (Sempoa Class) di TK-PAUD Citra Almadina

Senin, 16 Maret 2009

NALURI SANG IBU

Sungguh ........ "segunung dan seangkasa" kata-kata, sangat sulit mendeskripsikan dan menarasikan gambar "naluri monyet yang ibu" di bawah ini.





Kamis, 12 Maret 2009

Kesetiaan Pada Pasangan

Oleh : Muhammad Ilham (Ayah Ifa-Adek)

Untuk : "My Soulmate" Imla W. Ilham (Biarlah Engkau yang Tercantik di Hatiku)

M. Fauzil Adzim (1999: 451) mengawali uraian bab 15 dalam bukunya Kado Pernikahan Untuk Istriku. Setelah menikah menurut nya, sepasang suami istri memiliki amanah untuk saling menjaga. Suami menjaga pandangannya sehingga ia tidak memandang dengan perasaan ”besar” kecuali terhadap istrinya. Ia tidak mengangankan orang lain kecuali istrinya sendiri. Tidak ada yang cantik dalam arti sesungguhnya, kecuali istrinya sendiri. Karenanya, para istri hendaknya berusaha membuat pandangan mata suami hanya tertuju pada mereka. Tidak ada peluang yang diberikan bagi para suami untuk memandang yang lain disebabkan mereka tertawan ”pesona” istri mereka di rumah. Jika wajah istri membawa kesejukan, insha Allah mereka tidak tergerak untuk memalingkan pandangan.

Kesejukan wajah lanjut Fauzil Adzim, tidak berhubungan dengan kecantikan. Bagi seseorang yang belum menikah, kecantikan wajah bisa jadi menjadi faktor penting dan mungkin paling menentukan, sehingga ditemukan orang yang menikah atas dasar kecantikan fisik ini. Tetapi bagi seseorang yang sudah menikah, atau menghayati dengan benar sebuah pernikahan, kecantikan wajah menjadi tidak demikian penting. Kecantikan wajah diletakkan dalam nomor sekian. Kesejukan wajah istri ketika dipandang akan jauh lebih penting dibandingkang kecantikannya. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah Saw. dalam hadith riwayat Abu Dawud menegaskan bahwa sebaik-baik wanita adalah istri yang shalihah. Jika dipandang menyejukkan mata suaminya, jika diperintah akan taat, dan apabila ditinggalkan ia akan menjaga diri dan hartanya. Istri yang menyejukkan mata suami tentunya tidak hanya berlaku bagi yang memiliki paras ayu dan kecantikan luar biasa. Bisa jadi seorang istri yang dinilai kebanyakan orang ”biasa” saja, justru menyimpan keteduhan jiwa yang luar biasa sehingga dapat menghapus kepenatan psikis dan fisik suami saat pulang dari aktivitas kerja. Sebaliknya, boleh jadi kecantikan wajah yang diangan-angankan seseorang sebelum menikah, akan tampak membosankan dan melelahkan mata karena tidak memancarkan kesejukan sedikitpun.

Hadith Nabi diatas mengisyaratkan bahwa seorang istri hendaknya dapat melakukan berbagai cara untuk tampil menarik di depan suami. Kecantikan rohani atau batin dalam berbagai bentuknya seperti sopan santun, keikhlasan dalam melayani keluarga, ketekunan dalam beribadah, dan kesabaran tentu merupakan prioritas utama. Tetapi kecantikan lahiriyah berupa wajah yang bersih, ”body” yang tetap ramping, serta cara berpakaian yang apik juga tidak boleh diabaikan. Ini berarti bahwa istri tida selayaknya tampil nglombrot di depan suami. Dengan memadukan keduanya diharapkan suami tetap ”tertawan” dan tidak berpaling ke lain hati.

Meski hadith Nabi di atas hanya menyebut ”kewajiban” istri untuk tampil menarik bagi pasangannya, tetapi hadith diatas juga berkonotasi sebaliknya. Suami yang shalih hendaknya juga menarik bagi suami. Hal ini berarti, bahwa suami diharapkan dapat ”ganteng” secara batiniyah maupun lahiriyah. Suami tidak hanya menuntut istri untuk menarik hatinya, tetapi ia juga dituntut tampil menarik untuk si istri. Perasaan untuk tetap saling menarik bahkan sesudah lama berumah tangga merupakan salah satu modal penting untuk mewujudkan kesetiaan dalam berkeluarga yang pada gilirannya dapat menghadirkan keharmonisan rumah tangga.

Kesetiaan memang bersumber dari perasaan di hati tetapi akarnya juga melekat pada tampilan fisik. Karenanya mempercantik tampilan fisik tetap diperlukan untuk merawat kesetiaan disamping tentunya mempercantik ”hati” dan tubuh bagian dalam. Sebutan innerbeauty yang populer belakangan ini tidak menafikan keberadaan outerbeauaty tetapi mendorong seseorang untuk tidak hanya mengandalkan tampilan fisik. Paduan kedua kecantikan pada suami istri diharapkan dapat menepis hadirnya ”cinta lain” yang dapat menggerogoti keutuhan rumah tangga.

Kesetiaan ibarat sebuah tanaman yang perlu dipelihara. Ia membutuhkan siraman air, suplai pupuk, dan penyiangan. Dengan pemeliharaan yang baik ”tanaman” kesetiaan akan tumbuh besar dan berbuah cinta kepada pasangan dan anak-anak. Sebaliknya, perasaan cinta kepada bukan “pasangan sah” tidak akan tumbuh subur dan merajalela, apabila kita bisa memupuk dan merawat cinta kepada “pasangan sah” kita. Dan itu tentu saja harus dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan benar-benar harus menjadi “pilar” yang kokoh dalam berumah tangga, dan dilakukan oleh pasangan suami istri atas dasar keikhlasan, bukan karena “keharusan” dan “keterpaksaan” semata-mata. Generasi dan keturunan yang bermutu hanya dapat dilahirkan dari rahim keluarga-keluarga kokoh. (Postingan dari seorang Sahabat)

RAHASIA KEBAHAGIAAN

RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

RAHASIA KEBAHAGIAAN datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya. Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku". Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu? RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.