Jumat, 04 Desember 2009

Ramalan dan Kalidasa

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Saya pernah membaca tentang seorang penyair India (?) tepatnya penyair Sanskerta - Kalidasa - namanya. Hidup sekitar abad ke-3 masehi. Judul bukunya saya lupa, tapi ada salah satu bahagian cerita yang cukup menarik perhatian dan masih saya ingat sampai hari ini. Ceritanya kira-kira begini :

Sebagai anak kecil, Kalidasa tinggal bersama dengan ibunya disebuah pondok di samping istana raja. Di balik tembok istana, banyak terdapat pohon mangga yang berbuah lebat. Pada waktu musimnya, buah-buah mangga tersebut mengeluarkan semerbak yang ranum-menggairahkan. Si Kalidasa ini, ketika ia tidak melihat ada orang, maka ia akan memanjat ke atas tembok dan dengan santai, menikmati mangga-mangga itu. Suatu hari, ketika sedang mencuri mangga, Kalidasa tidak menyadari kehadiran raja yang melihatnya dari jendela istana. Pagi itu, ketika sedang mengupas mangga, sang raja tidak sengaja melukai tangannya sendiri. Karena luka tersebut mengeluarkan darah yang cukup banyak, raja merasa khawatir. Raja kemudian segera mengumpulkan semua penasehatnya yang bijaksana beserta para tukang ramal, untuk mengungkapkan kepadanya, makna apa dibalik luka tersebut.

Orang-orang bijak bestari istana itu berfikir sejenak, kemudian mereka bertanya apakah raja mengalami sesuatu yang tidak biasa pada hari ini ?. Sang raja menjawab bahwa ia melihat anak kecil mencuri buah mangga di taman istana. "Celaka !" Apa yang paduka lihat sungguh tidak baik. Anak itu akan membawa malapetaka bagi paduka, " kata-kata orang bijaksana ini. "Lebih baik paduka segera menyingkirkan anak tersebut". Raja kemudian segera memerintahkan agar Kalidasa di bawa ke hadapannya. Dengan gemetar, anak kecil ini kemudin bersujud di depan raja. Kalidasa kemudian diberitahu bahwa raja telah melihatnya mencuri mangga, dan ini akan memberikan kesialan bagi raja. Karena melihat Kalidasa mencuri mangga, tangan raja terluka ..... dan ia kemudian ditanya apakah memiliki pesan terakhir sebelum dieksekusi. Kalidasa pun berkata dengan suara gemetar, "Hamba menyesal telah membawa nasib buruk bagi paduka raja, "kata Kalidasa. "Tapi tidaklah adil jika orang yang melihatku mencuri mangga itu tidak dihukum, karena ia pun membawa nasib sial dan buruk bagi ku". Jawaban ini sontak membuat raja terkejut, karena segera ia menyadari, betapa bodoh tindakannya mengikuti anjuran tukang-tukang ramal yang menyebut dirinya bijaksana. ................ "Disekeliling kita, sungguh sudah banyak Tukang-Tukang Ramal (baik Ketik REG ataupun atau Film-Film Imajinatif) yang terbungkus dalam bentuk "kepintaran" tapi tanpa kita sadari, mereka justru sedang memperbodoh kita.

Minggu, 29 November 2009

Cantik = Bodoh ?

Ditulis Ulang oleh : Imla W. Ilham

Anne Frank dalam The Diary of A Young Girl menulis tentang seorang temannya yang berinisial G.Z.: …….is the prettiest girl in our class. She has a nice face but is a kind of dumb. Membaca tulisannya ini saya jadi teringat lelucon yang menyangkut pautkan Einstein. Alkisah Einstein didatangi seorang wanita yang berminat menjadi istrinya dengan alasan agar ia bias mendapatkan keturunan yang secantik dirinya tapi memiliki kecerdasan sang jenius. Dijawab oleh Einstein: “Yang saya khawatirkan keturunan kita nanti memiliki wajah seperti saya dan mewarisi kebodohanmu”.

Apakah yang cantik itu selalu identik dengan kebodohan? Apakah sudah terbukti bahwa orang yang cerdas cenderung tidak memiliki kecantikan yang sempurna? Jangan berargumentasi dengan film – film James Bond yang bertaburan bintang – bintang cantik yang juga cerdas. Tapi ketika Anne Frank menuliskan diarynya di atas, ia masih berusia belasan. Mestinya ia menuliskannya secara jujur. Lalu, apakah benar jika kebodohan memiliki korelasi dengan kecantikan fisikal? Orang yang cantik, pasti tidak terlalu pintar?

Banyak yang berpendapat seperti itu. Tapi jika kita kaitkan dengan usaha untuk menjadi cerdas, nampaknya memang ada hubungan antara wajah yang cantik dengan kebodohan. Orang yang cantik atau tampan dan menyadari jika dirinya cantik atau tampan, terlebih jika mendapatkan sanjungan terus menerus dari orang – orang yang ada di sekelilingnya, merasa cukup dengan ketampanan atau kecantikannya lalu berhenti berusaha untuk mengembangkan dirinya. Maka, meskipun ia cerdas pada awalnya, karena kecerdasannya tidak mendapatkan perhatian yang serius, kecerdasan ini menjadi tumpul.

Source by : (c) guruindo.com

Jumat, 27 November 2009

Servern Suzuki : "Pidato Anak 12 Tahun yang Membungkam PBB"

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Tulisan ini adalah tulisan pencerahan - "warisan" buat anak-anakku terkasih)

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka. Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar. Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya! Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat engembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi. Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia, seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk. Berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut? Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.” Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”. Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.


Senin, 16 November 2009

ADEK : "Ibunda, Adek Takut Sama Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dalam tulisan terdahulu, saya dan suami perlu menghadirkan Allah Robbi Izzati dengan "ramah" pada IFA - Sulungku. Saya dan suami merasa tersentak dan harus belajar banyak dari IFA bahwa apa yang selama ini kami ajarkan tentang Allah, nyatanya ditangkap "berbeda" oleh IFA. Kalimat : "Ifa, jangan berbuat seperti itu nak, Allah akan marah bila berbuat tidak baik !" ..... ditangkap oleh IFA : "Allah lagi ... Allah lagi, pemarah betul Allah itu !". Akhirnya, mulai saat itu saya dan suami berusaha menghadirkan Allah yang "ramah" di matanya. Setelah disentakkan oleh IFA, kini kami disentakkan pula oleh ADEK - bungsu kami yang berusia 4 tahun. Bungsu kami ini orangnya agak pendiam, bertolak belakang dengan "tetanya" IFA yang suka bicara (maota). Badannya pun agak bontot. Belakangan ini, ADEK sudah mulai sering menanyakan pertanyaan kritis kepada saya.

Senja itu, hujan sangat lebat mengguyur kota Padang. Kebetulan belakangan ini, kota Padang tak henti-hentinya hujan lebat setiap sore hingga malam. Biasanya, ADEK dan IFA paling suka melihat hujan itu turun. Tapi bukan untuk mandi-mandi hujan. Kebetulan saya agak kewalahan melarang mereka. Akhirnya saya antisipasi dengan rumus : "IFA-ADEK, hari sudah senja dan mulai kelam .... masuk ke dalam rumah nak !. Jangan diluar, Ibunda takut diluar karena senja nan kelam ini, hantu banyak berkeliaran".

Lantas ADEK bertanya, "Hantu itu apa buk ?".
Bingung saya sebentar, kemudian sekenanya saya jawab, "Hantu itu tak nampak, tapi ibunda takut".
"Ayah juga takut, bu", kata Adek lagi.
"Iyaa, apalagi ayah, ia sangat takut pada hantu".
Karena penasaran, ADEK bertanya lagi, "Tapi hantu itu tidak nampak bu ...... kok takut ?".
Saya bingung lagi, "Karena tidak nampak itulah maka ibu dan ayah takut ...... udah, ayo masuk", kata saya sambil menggendong ADEK dan IFA yang tidak protes lagi.
Dalam taraf ini, saya berkesimpulan ........... ada "senjata" ampuh bagi saya untuk melarang ADEK bermain-main di luar bila hari sudah sore atau senja.

Beberapa hari kemudian .............. !
Malam itu, di ruangan tengah, saya, suami, pengasuh anak, IFA dan ADEK sedang menonton TV. Kebetulan saya menonton sebuah sinetron Islami yang ditayangkan oleh TPI. Kami terlihat serius. Tanpa saya nyana ...... Adek bertanya pada saya, "Bu, kok sering orang di TV itu bilang-bilang Allah, tapi Adek tak lihat mana itu Allah?", katanya pada saya. Mungkin ia terinspirasi pada sinetron Islami yang sering mengeluarkan kata-kata Allah.
Saya jawab pula dengan sekenanya, "Allah itu tidak nampak, nak. Allah itu Tuhan kita"
Jawab ADEK, "Ihhhh, berarti Allah itu sama dengan hantu ya bu, hantu tidak terlihat, Allah juga ... berarti Adek harus takut sama Allah".
Saya dan Suami : "terkejut, melongo dan tersenyum.
Ya Allah Robbi Izzati ..... ADEK telah berikan pada kami pelajaran. Sebelum ini Allah harus kami "ramahkan" di depan IFA, maka di depan ADEK, Allah harus kami "familiarkan". Saya sayang dengan keluargaku.

Insert : Foto ADEK waktu berumur 8 bulan



Rabu, 11 November 2009

Ya Allah ....... Saya Bersumpah

Aku Letih
Dengan Semua Parodi Dunia
Hukum bukan lagi buat mereka yang berhak
Kuasa dan Uang telah bertahta

Ya Allah ........... !!!
Dengarlah Persumpahanku

Saya bersumpah tidak pernah
terima sejumlah dana reksa
penampar wajah keluarga tercinta
air mata di berita adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
diberi sejumlah surga dunia
pencoreng iman dan ketaatan ibadah
ayat suci di udara adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
dijejal sejumlah dana tak terduga
penyumbat mulut juga hati nurani
kurang bukti adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
disodorkan sejumlah tuhan dunia
yang bentuk tunainya asing di mata
pengacara senyum adalah penegasnya

(inspirasi : suarakepala.com)

Ketika Malam Dingin

Dalam dekapan dingin
Empat Tangan Mungil
Dari .......
Dua Putri Terkasihku
Menjadi Penghangat
Pada Malam Itu

Dalam Dekapan Dingin
Tiga Perempuan
Aku ....
Dua Malaikat Kecilku ....
Berada dalam Dekapan "Lelaki-ku"

Tuhan .... Robbi Izzati
Akankah ini
Hanya dalam Dekapan Dunia ?

Aku Ingin Tuhan .... Robbi Izzati
Di "Alam Sana" Nanti
Ini Aku Alami dengan Abadi

Bila Engkau Beri Aku Sorga
Sementara Dekapan ini "Entah Dimana"
Biarlah Sorga Tak Kualami
Tapi ....
Tuhan ...... Robbi Izzati
Berikan Kepadaku Dekapan ini

(Malam Dingin, Awal September 2009 ..... Ketika aku bahagia dalam dekapan orang-orang yang aku cintai)

Sabtu, 24 Oktober 2009

Ketika 7 Keajaiban Dunia Ditanyakan ......

Ditulis ulang oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Sekelompok murid ditugaskan untuk membuat daftar tentang segala sesuatu yang mereka anggap sebagi tujuh keajaiban dunia. Meskipun terjadi beberapa ketidaksepakatan, namun kebanyakan murid membuat daftar sebagi berikut :

1. Piramid di Mesir.
2. Taj mahal.
3. Grand Canyon.
4. Terusan Panama.
5. Empire State Building.
6. St. Peter's Basilica.
7. Tembok Cina.

Ketika mengumpulkan kertas para murid, Pak Guru memperhatikan ada seorang murid perempuan yang belum menyerahkan daftarnya, lalu ia bertanya apakah ia mengalami kesulitan dalam menyusun daftarnya. Murid peremuan itu menjawab," Ya, ada kesulitan sedikit. Aku tidak bisa memutuskan mana yang harus kudaftar. Ada begitu banyak keajaiban." Pak Guru berkata," Jika demikian, bacakan kepadaku apa-apa yang telah kau catat, mungkin nanti aku bisa membantumu." Murid itu ragu sejenak,tapi kemudian membacakan daftarnya, " Menurutku, tujuh keajaiban dunia adalah :

1. menyentuh.
2. merasakan.
3. melihat.
4. mendengar.

Ia ragu sejenak lalu menambahkan :

5. meraba.
6. tertawa.
7. dan mencintai.

Ruang kelas menjadi begitu sunyi sehingga suara jarum jatuh pun dapat terdengar. Kegiatan yang sering kita abaikan, kita anggap sepele dan biasa sesungguhnya merupakan kegiatan yang menakjubkan. Ini adalah peringatan bahwa, hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan adalah hal-hal yang tidak dapat kita beli.

Inspirasi : R. Ayahbi (mohon maaf, dikutip bebas)

Sabtu, 17 Oktober 2009

Gempa 30 September : "Syukurku Padamu Ya Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulillah, Allah SWT., masih mengamanahkan kepada kami nikmat kesehatan dan amanah anak-anak serta yang lain. Waktu gempa 30 September 2009 yang lalu, saya dan suami berada jauh dari rumah dan anak-anak. Anak-anak berada bersama dengan pengasuh yang sudah cukup lama bersama kami (biasanya IFA dan ADEK memanggilnya dengan "Tante Fera", anak tetangga saya di kampung). Saya dan suami terjebak macet dengan kondisi traumatis yang saya alami. Secara langsung, saya banyak melihat keruntuhan gedung-gedung dan kepanikan masyarakat. Apalagi, waktu itu saya dan suami berada di daerah tepi laut (Sekolah saya berada dekat Pantai Padang, dan seperti biasa setiap sore - kalau tidak sibuk - suami saya pasti menjemput saya). Saya bisa melihat kepanikan masyarakat akan datangnya tsunamy. Akhirnya, lewat perjuangan berat, saya dan suami sampai di rumah hampir jam 24.00 tengah malam (cerita tentang ini lihat artikel dalam Blog suami saya : http://ilhamfadli.blogspot.com/2009/10/padang-ancaman-gempa-88-skala-richter.html dan http://ilhamfadli.blogspot.com/2009/10/g-30-s-baca-gempa-tiga-puluh-september_12.html).

Ketika tengah malam sampai di komplek perumahan kami tersebut, saya dan suami mendapati komplek perumahan dalam susana mencekam ..... listrik padam dan saya lihat banyak rumah yang rusak berat, bahkan ada yang ambruk total. Dalam fikiran saya pada waktu itu, terbayang dua putri mungil yang kami tinggalkan, pasti menangis dan resah luar biasa. Namun Alhamduilillah, sesampainya di depan rumah, rupanya putri-putri kami lagi tidur di teras rumah bersama dengan pengasuh dan beberapa orang tetangga. Karena kasihan, saya tidak membangunkan mereka. Sementara itu, suami bersama beberapa orang pengurus RT/RW mulai keliling komplek untuk melihat-lihat kondisi komplek yang setengah hancur. Sementara itu rumah kami, tidak apa-apa, hanya ada beberapa retak kecil di teras. Syukurku padamu ya Allah.

Jumat, 16 Oktober 2009

Etika dengan Standar yang Bervariasi

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Suami saya punya teman, namanya Khilal Syauqi. Masih muda, belum 30 tahun. Lebih kurang 5 tahun ia menuntut ilmu di Mesir, Universitas Al Azhar. "Lc" gelar di akhir namanya dan "Haji" di awal namanya. Di daerah-daerah Timur Tengah, kata Khilal yang Haji ini, kita boleh menjentil-jentilkan hidung anggota kabilah di Padang Pasir atau mengelus-ngelus dagunya seakan-akan dagunya itu adalah dagu kita. Mereka tidak akan marah. Bahkan bila sudah akrab, maka setiap ketemu, biasa saja kepala kita yang ditampar atau gantian kepala kita yang "dijitak". Tapi jangan coba-coba menampar atau menyentuh pantat mereka. Mereka bisa murka besar. Entah karena apa, mereka menaruh hormat kepada bagian tubuh ini. Di Indonesia, kita boleh mengecup tangan seberapa banyak yang kita suka, tapi jangan coba-coba menjamah kepala.

Konon, kita diperbolehkan kentut di sembarang tempat di Amerika, khusus di belahan sebelah utara ..... tapi jangan lakukan di Indonesia. Kurang ajar, bar-bar, kurang pendidikan dan seterusnya menjadi label yang akan dilekatkan kepada kita. Setingkat dibawah kentut, sendawa menjadi sesuatu yang biasa di Indonesia, setidaknya yang saya alami. Ada rasa bahagia dari orang-orang terdekat kita ketika kita makan makanan yang mereka buat, maka setelah kita kenyang, sendawa kita keluar. Mereka akan tersenyum, "Alhamdulillah, tidak sia-sia saya memasak, sudah keluar sendawa anda". Sendawa menjadi signal dan parameter enak-tidak enaknya sebuah makanan. Konon, jangan lakukan hal ini di negara-negara "Barat", sendawa menjadi standar tinggi rendahnya etika seseorang di meja makan................. ketika suaminya saya "sendawa" pada waktu selesai makan, ada rasa senang luar biasa pada diri saya. Ketika suami saya "kentut" (he...he 1000 X, maaf ya bang), apalagi di depan anak-anak kami, saya akan cemberut, dan makin cemberut bila ia memberikan justifikasi, "di barat kentut tidak dilarang", katanya sambil ketawa.

Kamis, 15 Oktober 2009

Air Bangis ........ Nagari Nan Den Cinto

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

/Aia Bangih dilingkuang taluak/taluak dilingkuang pulau sambilan/manangih adiak sadang taduduak/aia mato jatuh ka pinggan/

Satu hal ................ saya sangat mencintai Air Bangis. Daerah pantai nan indah ini merupakan daerah asal saya dan suami. Bahkan dua putri cantik kami juga lahir di sini, walaupun hanya numpang lahir. Sebagai daerah pantai, Air Bangis merupakan daerah yang indah. Tepat menghadap laut, berbentuk teluk dan didepan teluk tersebut terdapat 9 buah pulau. Di antara pulau-pulau tersebut ........... saya jamin, adalah lokasi terindah di pantai barat Sumatera Barat. Karena keteguhan masyarakat terhadap nilai-nilai agama, eksplorasi daerah ini menjadi daerah wisata oleh pemerintah "belum direstui" masyarakat. Masyarakat Air Bangis masih melihat bahwa eksplorasi wisata tersebut berkorelasi dengan kemaksiatan. Jadi praktis, keindahan pulau dan pantai di teluk Air Bangis belum banyak diketahui orang. Dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 jiwa dan merupakan pusat pemerintahan kecamatan Sungai Beremas, nagari Air Bangis dikenal sebagai daerah kaya ikan. Di Sumatera Barat, Air Bangis merupakan daerah produsen ikan terbesar (baik ikan basah maupun kering). Hampir semua masyarakatnya beragama Islam, dan nilai budaya-kultural Minangkabau sangat kental. Mau lihat foto-foto "mutiara terpendam" Air Bangis ?





















Sumber foto : Rifkadejavu/Mhd. Ilham/Imla Wifra Ilham/Farhan

Senin, 12 Oktober 2009

IFA : "Ayah, Memangnya Allah itu Pemarah ?"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Sulungku IFA, sedang nakal-nakalnya. Nakal bukan berarti tidak etis. Kenakalan lebih kepada pemberontakan karena tidak sesuai dengan alam pemikirannya. Ketika ia masuk siang (IFA Kelas 1 SD di Komplek Perumahan kami dan jam masuknya selalu bervariasi : 1 minggu masuk pagi dan 1 minggu masuk siang), sebelum saya dan suami berangkat kerja, saya biasanya menyuruh IFA untuk mandi, sebagaimana yang dilakukannya kala ia masuk pagi (biasanya pukul 06.30 pagi). Saya tahu bahwa bila ia mandi pagi, berarti siang nanti ia juga akan mandi pula. Ketika pulang sekolah ..... ya mandi lagi. Namun pertimbangan saya menyuruhnya untuk mandi pagi ketika jadwal sekolahnya siang adalah agar IFA bisa segar pada pagi itu. Saya terkadang ngotot menyuruhnya. Tapi hampir selalu gagal. Alasannya ...... IFA masuk siang dan biasanya mandi itu dua kali, tidak pernah tiga kali ............. dasaaaaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!!!. Begitu juga ketika suami saya menyuruh IFA membeli sesuatu di kedai. Bila ia tidak ada kegiatan (biasanya dengan teman-temannya), IFA pasti tidak keberatan menuruti perintah suami saya ke kedai. Tapi bila IFA sedang bermain dengan teman-temannya, hampir dipastikan, IFA keberatan di suruh ayahnya. Ketika suami saya menanyakan pada IFA kenapa ia tak mau disuruh, IFA menjawab, "IFA lagi bermain, ayah kan tidak bermain ...... mengapa ayah tidak pergi sendiri ?" ........... polos, lugu dan terkesan argumentatif. Di sana letak "nakal"nya sulung saya ini.

Di rumah kami, dasar-dasar teologis-normatif sangat ditekankan oleh suami saya. Tapi tidak kaku. Sore hari IFA disuruh belajar Iqra' di TPA Musholla. Malam hari, menjelang tidur, biasanya saya (sebagaimana yang disuruh suami), selalu "mendendangkan" nyanyian Asmaul Husna pad IFA dan ADEK, sampai mereka tidur. Alhamdulillah, IFA sudah hapal Asmaul Husna, sementara ADEK hafal sekitar 20-30 dari 99 Asmaul Husna tersebut. Dasar-dasar teologis ini juga terbawa pada perintah-suruhan serta pencegahan terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh IFA. Apabila IFA bertengkar dengan Adiknya - ADEK, maka saya atau suami akan bilang, "Jangan Nak, Adek harus disayangi, Allah akan marah bila IFA bertengkar dengan ADEK". Bila IFA tidak mau menghabiskan makanannya, sering saya marahi dengan menyelipkan kata-kata, "Allah tidak menyukai orang yang tidak mau menghabiskan makanannya, nanti bisa masuk neraka". Awal-awalnya IFA "takut" dengan ancaman abstrak-teologis ini sehingga saya dan suami ketagihan memakai argumentasi tersebut. Ketika IFA tidak mau gosok gigi, tidak mau membuat PR, menangis, tidak mau meminjamkan sepedanya pada ADEK hingga tidak mau berdo'a menjelang tidur ............... konsep Allah marah tersebut menjadi senjata ampuh.

Siang itu, suami saya bersama dengan teman-temannya sedang membicarakan logistik-sembako bagi korban gempa di komplek kami. Saya ikut nimbrung. Sedang serius-seriusnya suami saya dengan teman-temannya membahas topik logistik sembako pasca gempa tersebut, IFA datang bersama Adiknya, ADEK. Rupanya ia mau minta izin melihat mobil Pelayanan Kesehatan Gratis yang waktu itu sedang berkunjung di komplek kami. Maklum anak-anak, IFA terus meminta izin dengan kesan "menganggu" diskusi ayahnya. Saya katakan, "nanti saja bersama Ibu, sekarang lagi banyak orang, bila sepi baru kita pergi ke sana". "IFA hanya mau melihat-lihat, bukan pergi berobat, boleh ya yah," katanya pada suami saya. Awalnya suami tak menghiraukan permintaan IFA. Ia terus sibuk "diskusi". Tapi karena permintaan IFA dirasakan suami saya telah sampai pada stadium "menganggu" kekhusyukan diskusi-nya, maka suami saya mulai mengeluarkan rumus ampuh kami berdua, "Nak, Ayah dengan om-om ini, sedang diskusi membicarakan korban gempa di komplek kita. IFA jangan ganggu dong. Allah marah pada orang yang selalu menganggu pembicaraan orang lain", kata suami saya pada IFA. IFA terdiam, kemudian dipegangnya tangan adiknya dan berlalu sambil menggerutu ...... "Allah lagi, Allah lagi ......... malas IFA-nya, Allah itu pemarah, sedikit-sedikit Allah, sedikit-sedikit Allah, pemarah betul Allah itu"................... suami saya melongo-termenung, sementara teman-teman diskusinya ketawa terbahak-bahak. Belakangan mereka mengetawakan suami saya yang dikalahkan oleh kepolonsan IFA dan kekaguman mereka terhadap IFA. Sekarang kami lagi berikhtiar untuk "meramahkan" Allah di mata IFA.

Selasa, 15 September 2009

Ramadhan yang "Mengasyikkan"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulillah, tak terasa beberapa hari lagi, Ramadhan 1430 H./2009 M. meninggalkan kita. Banyak "catatan-catatan manis" bagi keluarga kami selama Ramadhan kali ini. Sulungku Ifa, hingga Ramadhan hari ke-27, ia bisa berpuasa 26 hari. Itu artinya, hanya bolong satu hari. Dalam usia 6 tahun, kelas 1 Sekolah Dasar, sulungku yang sekarang kelihatan kurus-ramping (mungkin karena puasa), memiliki potensi bisa berpuasa 100 % selama Ramadhan kali ini, sungguh menurut saya adalah prestasi luar biasa. Saya melihat bahwa Ifa "benar-benar" puasa. Ia hampir tidak pernah tidur pada siang hari. Bersama dengan Adeknya dan teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa, Ifa selalu bermain sepeda, bahkan ditengah panas terik. Ia tak pernah nangis, minta "berbuka yang dipercepat". Saya dan suami baru kelas 3 SD (usia 9/10 tahun), mampu menuntaskan puasa satu bulan penuh, sementara sulung-ku justru di usianya yang 6 tahun. Saya dan suami sangat gembira ..................... SATU HAL : Ia telah mulai mengalahkan kami - ayah dan ibundanya - satu demi satu. SATU HAL LAGI : Ifa tak pernah minta "reward" karena prestasi-teologisnya ini. Sampai detik ini tak pernah keluar lontaran perkataan, "Ayah, belikan Ifa baju atau celana atawa jam tangan barbie karena Ifa bisa puasa", ............. Tak Pernah. Mungkin karena trenyuh, minggu lalu suami saya - Ayah Ifa - berjanji pada Ifa akan membelikan jam tangan mungil - "warna stroberry" - sebagaimana yang dahulu selalu diidam-idamkannya. "Ayah janji, nak", demikian kata suami saya belakangan ini setiap kami sekeluarga berbuka bersama.

Disamping kebahagiaan saya karena Ifa mampu berpuasa secara maksimal, ada kebahagiaan lain saya - Alhamdulillah, pemasangan keramik di rumah kami sudah rampung. Ifa juga telah memiliki kamar sendiri, demikian juga Adek dengan "tante Vera-nya" (pengasuh Ifa dan Adek). Saya dan suami memiliki kamar sendiri terpisah. Dan satu lagi kamar buat adik-adik saya dan suami yang laki-laki serta ruang perpusatakaan. Alhamdulillah, semuanya sudah ber-keramik.......... menurut saya sungguh indah. Keramik dengan warna putih agak kecoklatan dengan cat rumah "coklat kopi susu" ditingkahi dengan warna putih.

Di bulan Ramadhan ini pula, kami sekeluarga merasakan kenikmatan lain juga ........... selalu berbuka bersama. Suami saya yang siang hari cukup sibuk di kampus, biasanya pulang jelang berbuka. Sementara saya pulang jam 2 siang, lebih cepat dari hari-hari biasanya. Setelah berbuka dan Sholat Maghrib, suami saya biasanya pergi ceramah taraweh di berbagai masjid-musholla di Kota Padang ........ dan pulang jam 10.00 malam. Biasanya anak-anak sudah tidur. Sementara saya "tadarus-ringan" di rumah. Setelah saya hidangkan nasi (beliau biasanya dua kali makan malam, waktu berbuka dan pulang ceramah), ia makan dan setelah itu pergi ke kedai ........... biasa, "ma ota" dengan teman-temannya, dan ini berlangsung sampai jam 12.00 tengah malam. Saya tak melarangnya, paling-paling mengingatkan agar menjaga kesehatan. Namun terkadang saya juga bertanya, "mengapa ia tidak langsung istirahat ?". Dengan diplomatis ia akan menjawab, "saya ceramah santai dengan teman-teman di kedai karena mereka tak sempat dan mungkin tak mau pergi ke Masjid dan Musholla ........... substansi Masjid dan Musholla saya pindahkan ke kedai". Saya diam. Belakangan ini, saya juga pernah melihat ia menjadi "juru tulis" teman-temannya yang main domino. Ia tidak bisa main domino. Saya juga mulai protes....... mengapa harus domino, tidakkah itu sesuatu yang "tidak baik?". Ia kemudian menjawab, "siapa bilang domino itu tidak baik. Walaupun saya tak bisa main domino, bukan berarti saya harus menghakimi domino. Coba tunjukkan beda domino dengan judi. Domino ya domino, judi ya judi. Kalau main domino menggunakan taruhan, saya tak setuju, bahkan akan saya cegah. Tapi untuk sekedar main domino ........... apa bedanya dengan main sempoa dan catur..... mempertajam kemampuan matematik otak dan interaksi intra-personal", katanya. Saya kembali diam. Konon, dikomplek saya ada 3 orang yang dipanggil ustadz (biasa memberikan ceramah), dan 2 diantaranya "maniak domino", tapi tak termasuk suami saya .......... ia hanya sering menjadi "juru tulis".

Kamis, 20 Agustus 2009

Keluguan Politik Ilham "Kecil"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag


Cerita ini merupakan "cerita lama" yang luput saya posting, tentang kelucuan dan keluguan suami saya waktu ia masih kecil ketika berhadapan dengan pejabat daerah. Ceritanya begini : ........... Kala itu, sekitar tahun 1982. Di kampung halaman kami, Air Bangis (saya dan suami satu kampung)., kedatangan Gubernur. Tahun 1980-an, Air Bangis merupakan daerah yang hampir terisolir di pantai barat Sumatera Barat. Daerah pantai yang berjarak hampir 315 km dari Kota Padang. Daerahnya indah, berbentuk teluk yang dikelilingi oleh sembilan buah pulau dan merupakan daerah transisi kultural (antara etnik Minangkabau dengan Mandahiling, karena Air Bangis berbatasan langsung dengan Kabupaten Mandahiling Natal lewat laut). Air Bangis juga dikenal sebagai daerah historis-kaya sejarah karena di daerah ini merupakan salah satu daerah "perang" Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao (bahkan Tuanku Rao ditenggelamkan oleh kolonial Belanda di pantai Air Bangis....... sehingga di Air Bangis ada nama gugusan karang yaitu karang Tuanku Rao). Tahun 1982 tersebut, kedatangan pejabat-pejabat dari daerah (baik Kabupaten maupun Propinsi) menjadi sesuatu yang dianggap "mukjizat". Tahun 1982 itu, Air Bangis didatangi oleh Bpk. Ir. Azwar Anas (ketika menjadi Gubernur Sumatera Barat). Kedatangannya disambut dengan riuh rendah a-la masyarakat "hampir terisolir" Air Bangis. Apalagi kedatangannya dengan menggunakan helikopter yang membuat masyarakat Air Bangis jadi histeria ............. maklum melihat pesawat terbang yang "lalu" saja diatas udara Air Bangis bisa membuat masyarakat Air Bangis kala itu jadi histeris, apalagi ada helikopter yang mendarat ............. dijamin "mak nyoooss".

Kata suami saya, kala itu ia berusia 8 tahun (kelas 2 SD). Kata suami saya lagi, kala itu suasana sedang "sedikit panas", maklum jelang Pemilu 1982. And .... Kata suami saya lagi, waktu itu ia disuruh oleh guru-gurunya memakai pakaian seragam "ala kadarnya" bersama dengan teman-temannya untuk menyambut kedatangan "wong gedong" tersebut. Ketika helikopter mendarat di lapangan hijau Air Bangis, Gubernur dan Rombongan kemudian diarak ke Gedung Pertemuan Nagari. Masyarakat Air Bangis, kala itu, yang berjubel menyambut kedatangan Gubernur tersebut, "terpecah dua", sebagian mengiringi Guberenur yang diarak ke Gedung Pertemuan Nagari, sebagian lagi "menonton helikopter". Singkat cerita, ketika Gubernur sampai ke Gedung Pertemuan Nagari, setelah melalui acara "tetek bengek", sampailah pada acara sambutan resmi dari Bpk. Ir. Azwar Anas yang kala itu sangat gagah. Dalam pidatonya, lebih banyak bernuansakan kampanye (maklum suasana pemilu 1982) - tepatnya mengkampanyekan Golkar -- dibandingkan dengan arahan yang bersifat mencerahkan. Nah .... ditengah-tengah pidatonya, Gubernur meminta seorang anak untuk maju ke depan. Anak yang maju ke depan tersebut adalah anak yang duduk-mencangkung di barisan depan, yang mungkin dianggap oleh Gubernur serius mendengar pidatonya. Padahal, anak tersebut hanyalah melongo mendengar pidato yang isinya "hampir tidak bisa dipahaminya". Dengan langkah pasti nan tegap, walaupun tubuhnya pendek, si anak yang memakai pakaian pramuka "ala kadarnya" serta menggunakan sepatu bot-putih anti air buatan Cina yang dibeli pada Tekong Cina bernama Kiat di Kampung Cina Air Bangis, melangkah menuju tempat sang Gubernur pidato. Si anak tersebut .............. ya, ia suami saya. Kemudian, terjadilah komentar singkat :

Gubernur : Siapa nama kamu ?
Si Anak : Muhammad Ilham, pak Gubernur
Gubernur : Apa cita-cita kamu
Si Anak : Jadi Gubernur, pak Gubernur
Gubernur : wah ............ bagus itu. Apa pekerjaan ayahmu ?
Si Anak : Ayah saya tukang jahit, ibu saya jualan ketupat (jawaban yang komplit)
Gubernur : Bisa baca Pancasila?
Si Anak : Bisa, pak Gubernur
Gubernur : Coba baca !
Si Anak : Pancasila ............ Satu (mulai membaca) dan seterusnya
(Setelah si anak ini selesai membaca Pancasila........... Gubernur kemudian menyuruh si anak untuk mengikuti kata-katanya dengan pekikan yang lantang)
Gubernur : Hidup Golkaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!
Si Anak : ?????????? (ia diam)
Gubernur : Ayo, kenapa diam ?
Si Anak : Saya dan ayah saya memilih PPP pak Gubernur, bukan Golkar
Gubernur : .......................... @Gubernur : .......................... @$&$@!# !!!!!!!!!!!!!
amp;$@!# !!!!!!!!!!!!!

(Besoknya, suami saya dimarahi oleh guru-guru SD-nya, tetapi mertua saya bangga .... buktinya ia langsung membelikannya sepatu bot putih anti air yang baru dari tekong Cina bernama Liem She Kiat @ Kiat di Kampung Cina Air Bangis ............. konon dibayar tidak kontan alias kredit). Selanjutnya ......... suami saya tetap tidak pusing dengan kemarahan guru-guru SD-nya. Ia tetap menganggap dialog singkatnya dengan Gubernur tersebut memberikan keberkahan baginya, sepatu bot putih anti air yang sejak ia masuk SD belum pernah diganti oleh ayahnya, justru diganti dengan yang baru. Dan konon, foto-nya waktu dialog dengan Gubernur tersebut, sampai hari ini tetap dipajang oleh kakaknya di Air Bangis, walaupun telah lusuh. Nama fotografernya masih diingat oleh suami saya, Ruslin Sutan Batuah @ Sulin. Ia teman akrab mertua saya. Konon, "insiden" dialog tersebut membuat Ruslin Sutan Batuah "ketawa senang", buktinya mertua saya tidak harus membayar untuk menebus foto "bersejarah" itu, padahal Ruslin yang bergelar Sutan Batuah tersebut butuh waktu 3 hari ke Padang ..... hanya untuk mencucikan foto ini, 3 buah ...... 1 untuk mertua saya, 1 lagi untuk SD tempat suami saya sekolah dan 1 lagi untuknya.

Insert : Foto "Ilham Kecil" saat dialog dengan Gubernur Sumbar (Tahun 1982) Ir. H. Azwar Anas

Minggu, 16 Agustus 2009

Terkadang Nasionalisme Anak-Anak Jauh Lebih Tinggi Dibandingkan Kita

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Kepala PAUD Citra Al Madina Padang)

Minggu, 16 Agustus 2009. Ketika pagi menjelang, sulungku Ifa baru siap mandi dan berpakaian. Ia sedang libur sekolah. Pagi itu, ia memulai kegiatan rutinnya bila sedang libur..... bersepeda (tepatnya belajar sepeda) di seputaran komplek bareng teman-temannya. Sedangkan saya mulai "mengolah pakaian kotor" di Mesin Cuci, sementara suami saya membersihkan pekarangan samping rumah (kebun tanaman obat). Kegiatan rutin liburan mulai bergeliat di rumah dan komplek perumahan kami. Beberapa saat kemudian, Ifa datang sambil sambil sedikit marah dan bertanya kepada saya : "Ibunda, kok rumah kita tidak dipasangin bendera merah putih?". Mati Aku ! .............. tak bisa saya jawab. Memang, suami saya lupa memasang bendera merah putih jelang 17 Agustusan, biasanya beliau tidak pernah lupa memasang bendera tersebut, apalagi ia ketua di komplek perumahan kami. Kebetulan, tadi malam saya bertanya pada suami tentang keberadaan bendera merah putih kami. Suami saya mengatakan bahwa bendera tersebut entah dimana diletakkannya. Memang ada usaha malam itu untuk mencari, tapi tak ketemu. Akhirnya, ia mengambil kesimpulan : "ya udaah, lihat besoklah, kalau ada waktu ..... ya kalau ada waktu, saya akan ke Pasar Raya, beli bendera merah putih baru lagi, memangnya nasionalisme ditentukan oleh bendera merah putih, buktinya, anggota DPR-RI waktu sidang Paripurna tanggal 15 Agustus 2009 yang lalu, lupa menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya jelang sidang dibuka", katanya. Ia pandai berdebat dan berkelit, walaupun saya rasa itu hanyalah justifikasi karena ia malas pergi ke Pasar Raya membeli bendera. Kala itu saya diam dan .................. ya udahlah kalau begitu.

Kembali ke Ifa. Saya diam sambil terus "mengocok pakaian kotor" di mesin cuci produk Jepang (yaa... produk Jepang karena produks Indonesia belum saya temui, setidaknya belum ada refrensi teman-teman ........... padahal saya cinta produk dalam negeri .....wakakkakkkak wakkkaakkkak). "Ibunda, jawab Ifa, mengapa kita tak pasang bendera merah putih?", tanya sulung saya yang baru duduk di Kelas 1 SD ini. Akhirnya saya defensif dan mulai menjawab, "Coba tanya sama ayah". Ia pun berlalu menuju ayahnya yang sedang membersihkan kebun samping rumah, dan saya ikuti. Sebagaimana yang ditanyakan Ifa pada saya, pertanyaan tersebut diulanginya kembali pada ayahnya. Bagaimana reaksi suami saya ? ............. diam dan tersenyum. Ia tak bisa memberikan sebuah justifikasi sebagaimana yang diberikannya pada saya. "Malu Ifa, rumah teman-teman Ifa pakai bendera semua. Kata ibu guru Ifa di sekolah, kita harus mengibarkan bendera merah putih di rumah kita, tandanya kita sayang pada Indonesia", katanya sambil "menghakimi" ayahnya yang tersenyum sambil garuk-garuk kepala. "Bendera Merah Putih kita hilang", kata ayahnya. "Kenapa tak dibeli kemaren?", tangkis Ifa. "Ntar, ayah beli". "Sekarang aja, supaya bendera bisa dipasang cepat ........ malu Ifa, pokoknya ayah beli cepat", ujar Ifa kembali sambil mau menangis. Ayahnya ................ 15-0, kalah telak. "Ya Nak, ayah mandi dulu, baru ayah pergi beli bendera". "Ndak usah mandi, lama nanti, sekarang aja", kata Ifa. Suami saya memandangi saya sambil ingin meminta "perlindungan" agar menyakinkan Ifa, setidaknya untuk mandi saja dahulu. Saya tersenyum .......... dan mengatakan, "Ifa betul, tak perlu mandi", sambil ketawa saya masuk lagi ke rumah.

Ya..... suami saya yang biasanya pintar merangkai kata-kata untuk meyakinkan orang dan suka berdebat, dan biasanya bisa meyakinkan anak-anaknya bahkan anak-anak kami terkesan "tak bisa berlantas angan" padanya. Suami saya menjadi "kartu truf" bagi saya bila Ifa atau Adek bertengkar dan sulit untuk dicegah, dan suami saya memiliki kemampuan antisipatif...... hickkks. Tapi pagi ini ia dikalahkan oleh sebuah "keluguan nasionalisme" dari sulungku, Ifa binti Ilham. Dan, ketika pagi jelang siang bendera mulai berkibar di depan rumah kami, Ifa-pun mulai tersenyum dan berkata pada ayahnya, "gitu dong" ......... dan ia kemudian main sepeda lagi sambil "memberitahukan" kepada teman-temannya bahwa ia dan ayahnya adalah "nasionalis sejati". DIRGAHAYU KEMERDEKAAN INDONESIA.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Semoga Negara Tak Melupakan Anak-Anak "Mereka"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Saya masih ingat, malam itu beberapa hari yang lalu dikala kota Padang diguyur hujan nan lebat, sekitar Jam 11 malam, saya bersama suami menonton TVOne. Berdua. Serius sambil makan kerupuk kentang yang sorenya saya buat. Anak-anak saya, Ifa dan Adek sudah tidur. Mereka nampaknya memberikan waktu bagi kami berdua untuk sekedar menonton TV dengan acara yang agak "serius". Entah kenapa, saya mulai asyik dan respek terhadap berita teroris. Suatu hal yang selama ini tidak ingin saya tonton, apatah lagi menyukainya. Diantara rentetan silih berganti, sambung menyambung dan berulang-ulang, berita tentang "Mengejar Teroris" a-la TVOne tersebut, ada satu tayangan yang membuat mata saya sabak-berair, ketika Suci Hani menaburkan bunga di pusara sang suaminya .... Ibrohim @ a'am @ boim ...... si kreator bom J.W. Marrit dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 yang lalu. Sabak mata saya bukan simpati pada Ibrohim ataupun Nurdin M. Thop dan anak cucu ideologinya. Untuk kasus ini, saya sudah diajarkan oleh suami sebuah parameter baku : "Islam itu Rahmatan lil 'Alamin ..... rahmat bagi seluruh alam". Dan saya agak "bodoh" untuk urusan wacana Islam Radikal ini dengan seluruh istilahnya. Bagi saya, kegiatan-kegiatan Thopian (ideologi Nordin M. Thop, kalau boleh saya mengistilahkanya dengan ini) di Indonesia belakangan ini, justru menggambarkan bahwa mereka telah mencederai keagungan Islam sebagai agama Rahmatan lil 'Alamin. Sabak mata saya ketika melihat seorang istri, pada malam hari ditengah-tengah pressure sosial dan sorot kamera bak "mata dewa medusa" menaburkan bunga di pusara suaminya, yang beberapa hari lalu tewas ditembak Tim Densus 88 Anti Teror di Desa Beji Temanggung, yang siangnya dikuburkan tanpa kehadiran keluarga, yang suaminya ditolak dikuburkan oleh warga kampungnya, yang anak-anaknya terus menanyakan keberadaan ayahnya, yang mungkin air matanya sudah tak bisa mengalir lagi secara alamiah. Ya.... saya tak bisa merasakan bagaimana pedih-perihnya hati seorang Suci Hani, istri Ibrohim@A'am@Boim.

Saya tak bisa bayangkan, bagaimana perkembangan psikologis anak-anak mereka. Saya tak bisa bayangkan, bagaimana sisa amunisi "kekuatan psikologis" yang harus dimiliki oleh wanita bernama Suci Hani ini untuk melangkah ke depan membimbing tangan-tangan mungil anak-anaknya. Sambil menghapus air mata, saya menoleh kepada suami saya yang diam-hening membisu kala itu, dan mulai berkata, "Ya Allah Rabbil 'Izzati, Dzat paling tinggi maha sayang lagi kasih, tempat bermanja hamba-hambanya ..... janganlah engkau hilangkan keinginan dari pemimpin negeri ini untuk memperhatikan anak-anak yang ayah mereka teroris tersebut..... anak-anak tersebut tak punya pilihan, seandainya mereka bebas memilih, tentu mereka ingin menikmati indahnya masa anak-anak mereka seperti anak-anak yang lain. Semoga Komnas HAM Anak-Anak lebih intens memperhatikan hak-hak mereka". Saya hapus air mata saya, lalu saya berkata kepada suami yang masih melongo melihat saya, "Bang, mencintai keluarga dan memberikan inspirasi terbaik bagi orang lain, itulah muslim yang sebenarnya. Semoga Indonesia tidak lagi memberikan cerita sedih seperti Suci Hani". Suami saya ketawa dan ia berujar, "I Love You Full".


Minggu, 09 Agustus 2009

Adek : Antara Mbah Surip dan Bom

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dua minggu terakhir ini, kosakata yang paling laris di rumah kami, dan saya asumsikan juga laris dalam masyarakat, adalah "Mbah Surip" dan "Bom". Saking larisnya dua kosakata ini, membuat anak saya yang paling kecil-bontot, Adek, sering menggunakan kata-kata ini. Dalam cekramanya dengan sang kakak, Ifa, atau ketika bermain dengan teman-temannya di komplek perumahan kami, sering Adek secara lamat-lamat terdengar oleh saya berkata : "aaaaaaaaa, aaaaaaa, aaaaaaaaaaa, " pada teman-temannya. Awalnya saya dan suami agak merasa heran, mengapa Adek mengeluarkan kata-kata seperti itu pada teman-temannya. Tapi akhirnya saya sadar kembali, itu merupakan "brand"-nya Mbah Surip. Di rumah, Adek tidak begitu berani, apalagi sama ayahnya. Di rumah, Adek justru bercengkerama dengan ayahnya dengan "brand" Mbah Surip yang lain : "huaaaa .... haaa .... haaaa" dan ayahnya pun ketawa mendengar apa yang diekspresikan Adek. Luar biasa pengaruh media dan Mbah Surip. Kalau dulu, Adek menyukai Sule dan Olga, sekarang sudah berganti dengan Mah Surip, tapi lebih kepada penggalan-penggalan nyanyi "Tak Gendong" seperti "aaaaaaaaaa" dan "haaaaaaaa" tersebut.

Pagi tadi (Sabtu/8 Agustus 2009), ketika saya membersihkan pekarangan dan kebun samping rumah, Adek bersama Ifa bermain-main dengan sepeda bersama teman-temannya. Kebetulan, suami saya membelikan sepeda buat Ifa dan Adek (suami saya membelikan sepeda bukan karena permintaan "ngotot" dari Ifa untuk dibelikan sepeda, tapi memang keinginan suami saya untuk membelinya. Ia beranggapan, sepeda adalah refleksi skill, dan seorang anak harus mampu bersepada, sebagaimana halnya nanti ia akan membelikan gitar dan mengajarkan berenang). Ketika Adek, Ifa dan teman-temannya sedang asyik-asyiknya bersepada, dan ketika saya sedang asyik-asyiknya membersihkan kebun di pekarangan rumah ............ Adek menangis. Rupanya, ia tidak diberikan kesempatan oleh kakaknya mengendarai sepeda. Saya diam saja sambil melihat, bagaimana reaksi Adek pada Ifa. Adek terus menangis meminta agar dia diberi kesempatan untuk belajar mengendarai sepeda, tapi kakanya tetap tidak mau memberikan kesempatan itu. "Awas, nanti Adek beritahu sama Ayah", kata Adek. Ifa tetap diam dan terus mengendarai sepeda. "Nanti Adek minta uang sama Ayah, Adek tak kasih teta", kata Adek (dia memanggil kakanya dengan panggilan "Teta Ifa". Ifa tetap diam. Karena tak ada respon, Adek mengeluarkan potensi suara untuk menangis : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa", lantas teman-temannya bilang, "Adek mirip Mbah Surip", sambil tertawa. Karena kesal diejek, akhirnya Adek pergi ke arah saya sambil tetap menangis. Saya yakin, ia akan mengadu pada saya. Tapi tidak, ia hanya berdiri disamping saya, sambil mengusap air mata, ia kemudian menjerit pada kakak dan teman-temannya yang lagi mentertawakan Adek sambil mengeluarkan kata-kata, "Awas, nanti Adek Bom". Dan saya ........ terpana !!!!!

Senin, 03 Agustus 2009

Menjadi Pendongeng yang Ekspressif

Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa dongeng dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam mendidik anak. Namun, bagaimana cara mendongeng yang benar agar pesan dapat tersampaikan dengan benar? Kak Kusomo yang dikenal sebagai raja dongeng membagi beberapa tips cara mendongeng yang baik :

1. Pendongeng harus ekspresif. Untuk menarik perhatian anak, seorang pendongeng harus dapat berekspresi dan enerjik. “Kalau pendongeng lemas dan datar dalam mendongeng, mana ada anak yang mau mendengar,” ujar Kak Kusomo. Menurutnya, dalam mendongeng harus ada perubahan intonasi, mimik wajah, dan gerakan tubuh. “Oleh karena itu, untuk menjadi pendongeng ekspresif, mimik wajah, intonasi, dan bahasa tubuh harus terus dilatih.”

2. Banyak membaca. Menurut Kak Kusomo, seorang pendongeng harus mempunyai banyak cerita. Pasalnya, anak akan bosan jika terus-menerus mendengar cerita yang sama. “Perbanyaklah membaca cerita-cerita rakyat atau literatur lain. Dengan begitu, pendongeng juga dapat berimprovisasi dalam mendongeng,” tutur Kak Kusomo.

3. Memilih cerita yang mempunyai pesan. Tidak semua cerita rakyat mempunyai pesan moral yang bagus bagi anak-anak. “Ada beberapa cerita rakyat yang tidak cocok untuk anak, misalnya tentang perang saudara dan lain-lain. Jadi pilihlah cerita-cerita yang pesan moral atau budayanya dapat ditiru anak,” lanjutnya.

4. Sesuaikan dengan usia anak. Kak Kusomo menuturkan tiap-tiap tingkatan umur. Untuk umur di bawah 5 tahun, dongeng yang cocok adalah mengenai lingkungan, seperti cerita hewan atau tumbuhan. Pada umur 5-7 tahun, anak boleh mulai dikenalkan dengan cerita rakyat. Selanjutnya, anak pada umur 9-12 tahun cocok dengan cerita mengenai fiksi, seperti petualangan. Usia maksimal anak diberi dongeng adalah umur 12 tahun. Setelah itu anak perlu dirangsang dengan metode cerita bersama, seperti diskusi. (Sumber : kompas.com)

Jumat, 17 Juli 2009

Jakarta "Meledak" Lagi

"Jakarta meledak lagi", demikian penggalan nyanyian Kaka "Slank" yang menjadi musik pengiring Breaking News Metro TV. J.W. Marriot dan Ritz Carlton pun menjadi pusat perhatian dunia. Jum'at, pukul 06.46 dan 06.48 menjadi waktu "keramat" yang membuat Indonesia kembali kehilangan kepercayaan dunia. Terorisme Thopian (pengikut Noordin M. Thop), menjadi kesimpulan awal dan terkuat dalam menyimpulkan subjek pelaku dibalik peristiwa ini. Walaupun pernyataan Presiden SBY dan kemudian diperkuat oleh "ompung" Syamsir Siregar (Kepala Badan Intelijen Negara) yang tidak menunjuk kelompok tertentu (baik agama ataupun partai politik), namun nuansa "Islam garis keras" sebagai subjek pelaku sudah menjadi opini yang terbentuk, mulai dari pendapat para pengamat yang "samar-samar" maupun diskusi "kelas" kedai kopi di pelosok negeri. Genderang perang dengan mantra "persumpahan SBY" hari Jum'at lalu, nampaknya memberikan kepada kita sebuah kenyataan bahwa peristiwa tersebut sungguh sangat menyakitkan bagi kita. Proses membangun kepercayaan internasional akhirnya terkesan hampa-tak bermakna.




Kamis, 09 Juli 2009

Sulungku "IFA" Masuk Sekolah Dasar

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulilllah, sulungku Ifa tamat dari TK Bundo Kanduang dalam usia 6 tahun kurang 1 bulan. Baru kemaren, rasanya saya berjuang melahirkannya, baru kemaren rasanya saya melihat celoteh kecilnya - menyusun kata-kata untuk sekedar menampaikan sesuatu kepada saya, baru kemaren rasanya ifa menangis karena takut masuk TK. Hari ini, gadis kecil mungilku nan cantik, Ifa Ilham, telah menyelesaikan salah satu tanggung jawabnya -- menamatkan pendidikannya di TK, dan ia memberikan kepada kami satu hadiah ......... "ijazah TK Bundo Kanduang". Saya simpan dengan baik sebagaimana saya menyimpan seluruh "karya akademiknya" seperti coretan-coretan kertas gambar sejak ia kali pertama mengenal warna dan huruf. Saya simpan dalam blog pribadinya (dan juga blog pribadi adiknya). Ini akan menjadi "record-history" kehidupannya kelak.

Ifa begitu bahagia ketika saya mendaftarkannya ke sekolah disamping komplek : SEKOLAH DASAR Negeri 51 Kuranji Padang. Sekolah negeri yang didalamnya berkumpul teman-teman sepermainan Ifa "alumni TK Bundo Kanduang". Banyak teman-teman saya, terutama di komplek yang bertanya-tanya, "mengapa Ifa tidak dimasukkan ke Sekolah Dasar di tempat saya ?" (maksudnya SD Citra Al Madina yang favorit tersebut). Mengapa harus di SD Negeri yang gratis ? Bahkan sambil bergurau, salah seorang teman mengatakan bahwa Ifa mengambil hak orang lain yang seharusnya mendapatkan Sekolah Gratis. Ifa menurut mereka bisa masuk SD Citra Al Madina. Kebetulan SD Negeri 51 Kuranji hanya menerima 2 lokal sehingga banyak diantara anak-anak teman-teman saya di sekitar komplek yang tidak bisa masuk. Memang, secara pribadi saya berkeinginan memasukkan anak saya ke SD berkualitas seperti SD Citra Al Madina. Apalagi, SD tempat Ifa sekolah sekarang ini, jumlah satu lokal sekitar 40 orang. Saya tidak bisa membayangkan out-put yang dihasilkan dari kondisi ini. Harusnya, Ifa dimasukkan ke SD Citra Al Madina atau SD lain yang tidak "seekstrim" SD Negeri 51 Kuranji (40 orang satu lokal sederhana). Walaupun uang masuk dan uang sekolah SD Citra Al Madina sangat besar bagi kami, namun kami yakin Allah SWT. akan memberikan jalan. Tetapi suami saya punya perspektif lain. Semua ini bukan karena faktor dana (karena Sekolah Gratis). Suami saya beranggapan bahwa Ifa butuh lingkungan awal yang bisa memberikan padanya model sosial yang variatif. Dari SD seperti SD Negeri 51 Kuranji ini, Ifa akan menemukan model-model sosial, relasi-relasi sosial serta proses interaksi sosial yang lebih dinamis (karena mayoritas terdiri dari anak-anak yang orang tua mereka dari kalangan menengah ke bawah). Ini akan berpotensi memberikan kecerdasan sosial dan kepedulian sosialnya serta kemandirian personal. Suami saya mengakui, mungkin dari aspek kualitas sangat jauh dari SD Citra Al Madina (maklum ..................... sekolah negeri, gratis lagi). Namun, suami saya yang merupakan produk SD kelas kampung ini justru mengatakan : "pengasahan dan mempotensialkan potensi intelektual anak, 40 % yang bisa diharapkan dari Sekolah, yang 60 % lagi, tugas kita sebagai orang tua mengasahnya di rumah). Karena itulah, saya sekarang mulai mempersiapkan kelas tersendiri untuk anak saya Ifa di rumah. Saya bertekad, saya akan menyisihkan 2 jam setiap malam, untuk menjadi "mitra-diskusi"nya. Saya dan suami juga akan "menghormati" dunia anak-anaknya bersama-sama dengan teman-teman bermainnya. Biarlah ia "jatuh-bangun dan bertengkar" dengan teman sebayanya ketika bermain karena dari itu nanti ia akan mendapatkan proses pembelajaran. Kemudian, setiap sore siap ashar, saya akan usahakan cepat untuk pulang ke rumah, hanya sekedar untuk memakaikan jilbab padanya ..... karena Ifa mau pergi ke Musholla - belajar ngaji (saya berfantasi, sulungku ini memiliki suara indah dalam Tilawatil Qur'an). Suami saya bahkan mendaftarkan Ifa Les Bahasa Inggris untuk anak-anak di salah satu lembaga Bahasa Inggris berkualitas di Kota Padang (kelas sabtu/minggu). Ia begitu berfantasi agar Ifa bisa menikmati bahasa lain selain bahasa ibu-nya. Selamat memasuki dunia Sekolah Dasar anakku. Ayah dan Ibu siap menjadi "mitra-diskusi" mu. Ayah dan Ibu siap menjadi temanmu. Ayah dan Ibu siap mendengarkan keluhan dan kegiranganmu.