Sabtu, 13 Maret 2010

Gempa Datang Lagi ..... Warga Padang Resah Kembali !!

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Tadi malam, kembali kota Padang digoyang gempa. Sebelumnya, 2 malam terdahulu, pada pukul 23.47 WIB, Kota Padang juga digoyang, walau hanya sebentar. Sedangkan yang malam tadi, cukup terasa. Info Gempa Mag:5.0 SR, 13-Mar-10 00:27:43 WIB, Lok:0.86 LS-99.91 BT (34 km BaratDaya PARIAMAN-SUMBAR), Kedalaman:48 Km ::: BMKG (Courtesy : FB Muhammad Ilham). Sehingga tidak salah bila suami saya yang kebetulan malam itu masih membaca dan menulis di depan komputer, berlari sambil "setengah" berteriak ke kamar 2 putri kami, menggendong mereka serta membangunkan saya. Warga di komplek juga pada berhamburan. Kedatangan gempa sebenarnya adalah hal yang biasa. Tapi bagi warga kota Padang, merupakan hal yang luar biasa. Trauma psikologis dua gempa besar terdahulu (Tahun 2007 dan 30 September 2009) yang lalu, hingga hari ini tidak mudah dihapus apalagi dilupakan. Jadi, sekecil apapun gempa itu terjadi, warga kota Padang akan meresponnya dengan cepat dan traumatik. Apalagi, sisa-sisa bangunan gempa di kota Padang hingga hari ini masih di/terabadikan .... sehingga sisa-sisa itu masih memberikan trauma psikologis bagi warga Padang.

Dibawah ini ada beberapa gambar/foto bangunan akibat gempa 30 September 2009 yang lalu (beberapa foto merupakan koleksi pribadi, yang lainnya merupakan kiriman dari beberapa kawan) :


Ya Allah Ya Rabbi, Jika ini cobaanMu, kumohon berilah kami ketabahan dan kesabaran dalam menghadapinya, namun jika ini murkaMu Ya Yang Maha Pengasih, kami mohon ampunan-MU dan belas kasihMu untuk diri yang penuh dosa dan khilaf, kami mohon kesempatan dari Engkau Ya Rabb, untuk bertobat dan menghadapMU dalam keadaan yang lebih baik lagi… !!!

(Courtesy : Foto Pribadi Imla W. Ilham dan kiriman teman-teman)

Sabtu, 06 Maret 2010

Menjadi Wanita Pilihan

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

/Wanita yang elok paras mukanya itu mungkin tak terhitung jumlahnya/Namun, wanita yang elok perilaku dan jiwanya itu masih sedikit/
/Wanita yang kaya harta itu telah mendominasi dunia/Namun, wanita yang kaya hati itu masih minim di dunia/
/Wanita yang cerdas intelektual itu tak terbilang jumlahnya/Namun wanita yang cerdas dalam menjaga kehormatannya itu langka
/Wanita yang aktif berkarier itu bejibun jumlahnya memenuhi dunia/Namun wanita yang aktif ‘tuk menjadi ibu dari anak-anak yang shalih/shalihah itu sulit dicari/

/Wanita yang katanya setia pada pacar yang mau mengorbankan segalanya untuk pacar itu bisa ditemukan berserakan/Namun wanita yang setia pada suaminya dan mau mengorbankan jiwa raganya untuk kebahagiaan dunia akhirat itu sulit untuk mendapatkannya/
/Wanita yang rela membuang hartanya untuk kesenangan dunia itu bukan barang langka/Namun wanita yang rela menginfakkan hartanya untuk kesenangan akhirat itu masih langka/

/Wanita yang menjaga dan memelihara kecantikan wajahnya itu sudah biasa terlihat/Namun wanita yang menjaga dan memelihara kesucian hatinya sulit ditemukan/
/Wanita yang mempertontonkan auratnya itu sudah membuat dunia ini lebih panas/Namun wanita yang senantiasa menutup aurat dan menjaga kehormatannya itu senantiasa menyejukkan mata/

Dan terakhir… !
Ingin menjadi wanita yang bagaimanakah anda ?
Pilihanmu adalah masa depanmu di dunia dan akhirat

SELAMAT MEMILIH

/Ketahuilah wahai saudariku/Dalam hidup ini akan selalu ada pilihan/setiap pilihan mutlak memerlukan perjuangan/setiap pilihan dan perjuangan akan ada pertanggungjawaban/
/Jadi, peluang menjadi wanita pilihan itu masih terbuka lebar.. buruan!!!/ Sebelum terlambat …

sumber : voa-islam.net

Minggu, 28 Februari 2010

Pentingnya Komunikasi Dengan Anak

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag (Kepala PAUD Citra Almadina Padang)

Di jaman serba instan, semakin sulit orangtua melakukan komunikasi dengan anak. Para orangtua saat ini justru banyak disibukkan dengan segudang aktivitas kantor. Alhasil buah hati Anda tidak punya tempat untuk bercerita atau sekadar berkeluh kesah yang pada akhirnya menuangkan unek-unek melalui kecanggihan teknologi, seperti situs jejaring sosial, salah satunya facebook. Kerapkali facebook justru menjadi teman curhat yang lebih mengerti dunia anak dan remaja ketimbang orangtua. Jika buah hati Anda salah satu dari pengguna facebook dan seringkali menjadikan facebook sebagai ajang curhatnya, apa yang harus Anda lakukan? Berikut tips dari beberapa pemerhati anak, Kak Seto dan psikolog, Alexander Sriewijono yang juga penulis serta pendiri 'TALK-inc, Daily Meaning' dan 'Talkinc Points for Kids & Parents'. Mereka memberikan tips bagaimana cara melakukan komunikasi yang efektif dengan anak.

Menurut Ketua komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto, seiring berkembangnya zaman dan teknologi, jangan pernah melarang anak menggunakan kecanggihan teknologi seperti facebook. “Jangan salahkan teknologinya. Sebagai orangtua kita harus ikut belajar mengerti dunia teknologi,” ujarnya saat ditemui dalam Launching Buku 'Talkinc Points for Kids & Parents' di Grand Indonesia, Selasa 23 Februari 2010. Hal senada diungkapkan Alexander Sriewijono, cara paling efektif melakukan komunikasi dengan anak dan remaja adalah dengan memahami apa keinginannya. “Begitupula sebaliknya, jika buah hati telah memasuki dunia teknologi, Anda pun juga harus mengerti dulu apa itu facebook, jangan asal meluarkan kata larangan pada anak. Jadilah teman untuk anak Anda adalah prinsip utama yang harus dipegang agar komunikasi Anda dan anak bisa berjalan lancar,” katanya.

Dua pakar ini memiliki persepsi yang sama, bahwa berkomunikasi dengan anak memang gampang-gampang susah, tapi ada trik yang bisa Anda ikuti: (1). Usahakan selalu melakukan komunikasi dengan anak, meski sesibuk apapun. (2). Jadilah sahabat dari mereka , buang jauh fikiran bahwa Anda adalah orangtua yang harus selalu dihormati. (3) Turunkan ego Anda sebagai orangtua, saat melakukan komunikasi dengan anak. (3). Jadilah pendengar yang baik (4). Hormati apa yang menjadi pilihan mereka, namun bukan berarti Anda mengiyakan apapun keinginannya. (5). Beri pemahaman padanya apa yang baik dan apa yang buruk (6). Meluangkan waktu seperti bermain bersama, bisa membuat hubungan orangtua dan anak makin dekat, dan (7). Usahakan duduk bersama saat melakukan komunikasi. Jangan berdiri saat melakukan komunikasi dengan anak, sementara buah hati duduk sambil menunduk. Dekati mereka dengan duduk bersama, dengan begitu, apa yang menjadi keluhannya bisa dia keluarkan.

(c) vivanews.com

Jumat, 19 Februari 2010

"Mewahnya" Penjara Arthalita Suryani

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Masih ingat AYIN atau Artalyta Suryani ? Wanita paroh baya nan cantik ini, untuk kali kedua mengegerkan pentas hukum Indonesia. Dia masuk penjara lantaran menyuap jaksa Urip Tri Gunawan (UTG) untuk membereskan perkara BLBI Sjamsul Nursalim dan dunia hukum Indonesia geger se-geger gegernya. UTG kemudian "dihadiahi" 20 tahun penjara, Ayin mendapat "jatah" (hanya) 5 tahun penjara. Institusi kejaksaan RI-pun tertampar keras. Untuk kali kedua, Ayin kembali membuat heboh dunia hukum Indonesia. Kalau yang pertama menampar institusi kejaksaan, maka kali ini, Ayin "menampar" institusi Departemen Hukum dan HAM, khususnya Direktorat Lembaga Pemasyarakatan. Walaupun Ayin dihukum dalam penjara, rupanya "wanita markus jago lobi" ini hanya berpindah "hotel". Kamar tahanannya (sangat) mewah untuk ukuran sebuah penjara ideal. Berpenyejuk udara, dindingnya berlapis wallpaper bunga-bunga. Ada ruang karaoke dengan kursi empuk. Penguasaha wanita ini mendapatkan mewah, di atas meja tergeletak telepon genggam. Ada pula kulkas berisi sayuran. Temuan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum tentang fasilitas mewah bagi napi tertentu di penjara, menyodorkan fakta bahwa penjara tak lepas dari praktik korupsi. Ditemukan, fasilitas khusus bagi napi berduit. Dibawah ini saya post beberapa foto tentang ruangan (tepatnya : ruangan hotel) penjara dimana Ayin menjalani hukumannya. Foto saya up-load dari www.detik.com dan www.okezone.com

(wuuuuh ...... penjara apa hotel niih !!!)


Selasa, 02 Februari 2010

Manfaat Mencukur Rambut Bayi

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Mencukur rambut bayi yang baru lahir buat sebagian kepercayaan orang dianggap bisa membuang sial. Rambut bawaan dari bayi baru lahir dianggap disenangi makhluk halus dan bikin si bayi penyakitan. Fakta yang benar mencukur rambut bayi adalah untuk alasan kesehatan. Tradisi mencukur rambut bayi di sebagian masyarakat Indonesia agak sedikit mistis sehingga ada yang mencukurnya saat bayi berusia 7 hari, ada pula yang mencukurnya saat berusia 40 hari. Sebagian orangtua percaya jika rambut anaknya dicukur maka nantinya akan tumbuh lebih tebal dan cepat. Tapi mitos ini tidak terbukti kebenarannya karena belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Alasan orangtua untuk mencukur rambut bayinya mungkin lebih tepat untuk alasan kesehatan karena belum tentu akan membantu rambut tumbuh menjadi lebih tebal atau cepat.

Rambut seseorang tumbuh dari folikel (tabung rambut) yang berada di bawah permukaan kulit kepala. Jadi apapun yang dilakukan orang dengan rambut bagian luarnya tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan dari folikel rambut itu sendiri. Sebenarnya sudah menjadi hal yang umum bahwa bayi akan kehilangan rambutnya selama enam bulan pertama. Hal ini disebut dengan telogen effluvium. Pada intinya rambut memiliki dua fase yaitu fase pertumbuhan dan fase istirahat. Rambut akan masuk ke fase istirahat jika tubuh sedang demam atau adanya perubahan hormonal. Rambut rontok biasanya dimulai saat memasuki tahap pertumbuhan yaitu saat usianya 3 bulan ke atas. Seorang bayi yang baru lahir, kadar hormonnya akan turun tepat setelah dilahirkan. Hal inilah yang menyebabkan rambut bayi terlihat tipis saat baru lahir. Jika orangtua memutuskan untuk mencukur rambut bayi, sebaiknya dilakukan saat bayi sedang tidur sehingga tidak banyak bergerak. Ini berguna agar tidak berisiko melukai kulit kepala bayi.

Mencukur rambut bayi sangat bagus untuk membersihkan kepala bayi dari kotoran atau lemak yang menempel di kepala saat bayi dilahirkan. Dengan begitu maka kepala bayi akan bersih dan menghindari kemungkinan munculnya penyakit akibat rambut yang tidak bersih. Selain itu jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan rambut si bayi dengan rajin keramas sambil dipijat ringan agar bayi tidak stres. Jadi tak ada salahnya untuk mencukur rambut bayi baru untuk alasan kesehatan agar lemak-lemak yang menempel di rambut dan kulit kepala saat lahir bisa dibersihkan.

(.................... Alhamdulillah, 2 anak saya ketika masih kecil selalu saya cukur rambut mereka !)

Sumber : detik.com/health/html

Budaya HANG OUT Pada Anak-Anak

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Pada kalangan dewasa, hang out menjadi media untuk bersosialisasi atau meeting dengan rekan kerja. Menjamurnya tempat-tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama rekan dan kolega, seperti restoran, mal dan kafe mendorong kebiasaan ini menjadi sebuah kebutuhan. Kini, budaya ini telah memasuki komunitas kecil karena pengaruh kehidupan sosial yang terbiasa berkumpul di tempat-tempat tertentu layaknya orang dewasa. Menurut konselor pendidikan dari Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda MSc, hang out diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan bersama teman sebaya maupun keluarga untuk rileksasi ataupun bersenang-senang. Pada dasarnya anak belum mengerti benar arti dari hang out. Di dalam benak anak, hang out diartikan sebatas pergi dan bersenang-senang bersama. Kegiatan belajar bersama atau bermain di rumah teman pun dikategorikan sebagai kegiatan hang out. Kebutuhan kegiatan hang out pada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak belum memiliki konsep kebutuhan layaknya orang dewasa. Mereka hanya mengikuti kebiasaan orang dewasa seperti mengobrol atau bersenda gurau di kafe, mal dan restoran. Namun, sebenarnya pada anak usia tertentu memang membutuhkan kegiatan untuk bersosialisasi. Hang out bisa jadi media untuk memenuhi tugas perkembangan anak. ”Mulai usia 7-8 tahun, anak belajar bergaul dengan teman sebaya, lebih mandiri, membentuk sikap terhadap kelompoknya, serta mengembangkan nurani, moralitas, dan sikap,” kata Fatchiah.

Psikolog perkembangan anak dari UI, Luth Savitri Msi,juga mengungkapkan kebersamaan dengan teman-teman menjadi hal penting bagi anak terutama di usia 9-10 tahun. Pada masa ini, anak ingin mencari tahu lingkungan di luar keluarga dan rumahnya, salah satu caranya hang out bersama teman. ’’Jadi jangan kaget jika terkadang anak terkesan suka membangkang atau memberontak karena pengaruh teman lebih besar dibandingkan orangtua,’’ ujarnya. Savitri menambahkan, Anak bisa mulai hang out tergantung dari lingkungan sosialnya, sejak kapan orangtua mengizinkan anak bersosialisasi bersama teman-temannya. Akan berbeda antara anak yang dibesarkan di lingkungan yang memiliki izin keluar rumah bersama teman-teman sejak SD, SMP, SMA, atau bahkan kuliah. Jika pada usia SD anak sudah diizinkan, maka budaya ini tentu lekat dan tidak asing dalam dirinya kelak, sehingga seringkali dijadikan kebutuhan oleh anak.

Melalui hang out, lanjut Savitri, anak juga dapat memastikan identitas dirinya, yaitu apakah tergolong populer atau tidak. Untuk masuk ke kelompok tertentu tak jarang anak akan memenuhi persyaratannya yang sering disebut dengan conformity. Alasan anak menyukai hang out, karena adanya perasaan kebersamaan bersama teman-teman. Mereka bisa sharing apapun tanpa takut dihakimi. ”Anak pun beranggapan dirinya sudah mampu menentukan pilihan, sehingga terkadang aturan dirasakan mengganggu. Sedangkan teman tidak memberikan aturan,” paparnya. Ditambah lagi, anak bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan orang lain serta merasa bebas melakukan kegiatan apapun. Umumnya kegiatan hang out yang biasa anak lakukan antara lain, makan dan minum di restoran cepat saji sambil mengobrol atau tukar menukar barang koleksi, menonton di bioskop, belanja, dan main games. ”Hang out dirasa anak sebagai salah satu kebutuhan tahapan perkembangan, yaitu kebutuhan sosialisasi dan autonominya,” kata Savitri.

Kegiatan berkelompok ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak antara lain keinginan anak menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak akan belajar berpikir secara mandiri, mampu mengambil keputusan, serta menerima pandangan dan nilai-nilai selain dari lingkungan keluarga. Untuk diterima dalam lingkungannya, anak akan mempelajari pola perilaku yang diterima kelompoknya.”Melalui kegiatan ini maka akan terjadi transfer nilai baik hal-hal positif hingga yang bersifat negatif, ” kata Fatchiah. Tak jarang pula hal ini dapat mempengaruhi konsep diri anak. Apabila hang out tidak memberikan makna pada anak maka akan menyebabkan anak tidak nyaman dengan kelompoknya, misalnya minat atau kebiasaan dalam kelompoknya tidak sesuai dengan minatnya. Anak pun merasa ditolak dan tidak merasa diterima dalam kelompoknya. Alhasil, anak kesulitan menyesuaikan diri. ”Seringkali anak takut tidak diakui oleh teman-temannya sehingga akan berusaha mengikuti peraturan dalam kelompoknya meskipun buruk,” tambah Fatchiah. Fatchiah juga menyayangkan pilihan tempat hang out anak yang belum sesuai dengan tahapan perkembangannya seperti kafe, atau restoran. Penyebabnya, tempat-tempat tersebut umumnya lebih besar dimasuki komunitas orang dewasa dibanding anak-anak. Sehingga anak-anak pun semakin dekat dengan kebiasaan orang dewasa seperti merokok dan sebagainya. Sebab itu, orangtua harus mengamati pilihan tempat hang out anak. Sebaiknya pilih tempat yang memang memiliki unsur edukasi dan sesuai untuk anak-anak, misalnya sanggar kesenian, kebun binatang, arena bermain, dan sebagainya.

(berdasarkan "artikel" yang dikirim oleh salah seorang teman suami ke E-Mailnya/(c) : Mita Zoe)

Jumat, 15 Januari 2010

Dompet Suami !

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dompet ....... !. Saya tidak akan pernah membuka dompet suami saya tanpa seizinnya. Saya sering membuka dompetnya, ketika ia menyuruh ambilkan uang bila saya atau anak-anak minta uang, untuk jajan atau kebutuhan privat-dapur lainnya. Sebenarnya, seluruh uang saya yang pegang. Ini bukan kebijakan saya pribadi, tapi memang permintaan suami. Ketika suami saya menerima gaji atau uang "lainnya", biasanya ia langsung setor ke saya atau ke tabungan keluarga gabung dengan gaji saya (cq. tabungan saya). Biasanya, bila suami saya butuh uang, ia akan minta pada saya. Hal ini bukan tanpa alasan. Suami saya tidak "pandai" mengatur uang. Artinya, uang yang ada dalam dompet atau tabungannya, terkadang tidak bisa dikontrolnya dengan baik. Sering terjadi, bila uang dalam dompetnya "cukup banyak" (untuk ukuran kami), uang tersebut bisa habis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia sangat maniak membeli buku. Bila melihat sebuah buku baru, ia tidak akan berfikir panjang mengeluarkan uang yang ada dalam dompetnya. Demikian juga, dengan kebiasaannya duduk-duduk di kedai-lepau bila waktu senggang, baik di kampus ataupun di komplek perumahan kami. Ia paling suka diskusi atau ma-"ota". Nah ... biasanya, bila hal ini dilakukannya, ia bersama teman-temannya akan keasyikan sambil minum teh telur dan makan nasi goreng serta ..... merokok. Karena itulah, atas keinginannya, ia meminta saya untuk mengatur "belanjanya" ..... setelah ia menyetor uang kepada saya, ia akan minta sesuai keinginannya. Dan, saya tidak akan menanyakan untuk apa, disamping menghormatinya, ia juga tidak pernah minta uang banyak, paling untuk belanja dan beli minyak kenderaan. Sampai hari ini .... ia sangat puas dengan manajemen keuangan yang saya lakukan.

Demikian juga dengan dompetnya. Walaupun di kamar kami, suami saya tidak pernah menyimpan dompetnya di tempat-tempat tertentu .... bahkan, ia meletakkan dompet di sembarang tempat di dalam kamar, saya tidak akan pernah membuka tanpa se-izin-nya. Ini sangat saya tekankan kepada anak-anak saya. Mereka sering menemukan dompet suami saya terletak di meja atau kasus kamar kami, tapi IFA dan Adek selalu memberikannya kepada saya untuk diletakkan di tempat yang semestinya. Bahkan terkadang, mereka mengingatkan ayah mereka untuk tidak meletakkan dompet di sembarangan tempat. Dan saya lihat, mereka juga memperlakukan dompet ayah mereka sebagaimana saya memperlakukan dompet suami saya tersebut. Ketika Ifa dan Adek minta uang jajan, sementara dompet ayahnya ada dekat mereka, mereka akan membawa dompet tersebut pada suami saya dan membiarkan suami saya mengambil uang dan memberikannya pada mereka. Memang ....... "men-cat suatu gedung harus dimulai dari atas" !. Keteladanan harus dimulai dari "atas".

MUI : "Foto Pre-Wedding Dianggap Haram"

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, mengharamkan foto mesra sebelum pernikahan atau pre-wedding. Demikian pula aktivitas fotografer yang mengambil gambar-gambar pre-wedding. "Hukumnya tidak boleh karena hal itu (fotografer pre-wedding) menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan," kata Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Nabil Haroen, menjelaskan putusan haram foto pre-wedding". Foto pre-wedding dianggap haram karena menampilkan kemesraan pasangan bukan muhrim. Foto pre-wedding dianggap memuat unsur ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat).

Di bagian akhir putusan soal foto pra nikah ditulis catatan, "Jawaban di atas (haram) hanya berlaku bila pembuatan foto tersebut dilakukan pra-akad, tidak ada rekayasa sama sekali dan tidak ada dhon (asumsi) atau keyakinan munculnya penilaian negatif masyarakat." Ketua Majelis Ulama Indonesia, Umar Shihab, mengatakan, lembaganya belum menentukan sikap atas pengharaman foto pre-wedding. Namun, secara pribadi ia sependapat dengan pengharaman itu. "Memang kan dalam agama dikatakan lelaki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh berdekatan dan bersentuhan meskipun itu calon istrinya, pre-weeding itukan foto yang mendekatkan antara wanita dan pria," kata Umar. Selain mengharamkan aktivitas pre-wedding, Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Lirboyo juga mengharamkan pelurusan rambut atau rebonding bagi wanita yang belum menikah. "Bagi calon mempelai, hukumnya haram jika terdapat; ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat)," kata putusan tersebut. Sementara, untuk fotografernya, "hukumnya tidak boleh karena hal itu menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan," jelas putusan tersebut.

Di bagian akhir putusan soal foto pra nikah ditulis catatan. "Jawaban di atas hanya berlaku bila pembuatan foto tersebut dilakukan pra-akad, tidak ada rekayasa sama sekali dan tidak ada dhon (asumsi) atau keyakinan munculnya penilaian negatif masyarakat." Pengharaman juga berlaku bagi umat muslim yang memodifikasi rambut dengan gaya punk atau rasta.

(sumber : vivanews.com/16-1-2010)


Rabu, 06 Januari 2010

SAMPAH !

Oleh : Imla W. Ilham

Ya Allah Robbi Izzati Nan Maha Cantik lagi Maha Elok ......... bukan kami ingin "menodai" keindahan bumi engkau ..... ! Semoga dalam beberapa tahun ke depan, sungai-sungai seperti ini akan menjadi "fosil" dan jadi cerita buruk sebuah peradaban ummat manusia yang kemudian digantikan dengan sungai-sungai yang indah, bersih lagi elok. Saya tak tahu ..... apakah foto ini memenuhi kelayakan untuk memenangkan hadiah PULITZER ("Nobel"-nya dunia photography) ....... Oppps !







Sumber foto : www.google.com


Ditolak Singapura, Bocah Jenius Ainan Celeste Cawley ke Malaysia

Re-Write : Imla W. Ilham, S.Ag

Singapura sepatutnya bangga memiliki seorang bocah dalam ilmu kimia. Sayangnya, pemerintah negara-kota itu tampak belum mengizinkan bocah bernama Ainan Celeste Cawley untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang terlalu tinggi untuk usianya, yaitu program sarjana. Saat masih berusia 7 tahun, Ainan sudah bisa mengerjakan soal-soal pelajaran kimia untuk murid sekolah menengah. Kini, di usia 10 tahun putra pasangan gado-gado Irlandia-Melayu itu siap menapaki jenjang pendidikan sarjana. Masalahnya, otoritas di Singapura tak kunjung mengizinkan anak seumur Ainan untuk mengikuti program pendidikan tinggi, kendati bocah itu sudah terbukti jenius. Orang tua Ainan jelas kecewa dengan sistem pendidikan di Singapura, yang dianggap masih bersikap kaku.

"Kami selama hampir tiga tahun terus bergulat dengan sistem di sana. Namun, akhirnya kami merasa sistem di sana sangat tidak fleksibel dan tidak bersedia membuat pengecualian untuk mengakomodasi Ainan secara memuaskan," kata ayah Ainan, Valentine Cawley, saat menggelar jumpa pers di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin 4 Januari 2010. Itulah sebabnya, orang tuanya mengirim Ainan untuk pindah ke Malaysia. Kebetulan, sistem pendidikan di Negeri Jiran itu tidak kaku dan ada perguruan tinggi yang mau menerima dia belajar. Kini, menurut harian The Straits Times, Ainan sejak awal pekan ini menjadi mahasiswa Universitas HELP. Di kampus swasta yang terletak di Kuala Lumpur itu, Ainan menjalani program studi selama lima tahun.

Koran Malaysia, The New Straits Times, mengungkapkan bahwa kedua orang tua Ainan sebelumnya telah bertemu dengan Presiden Asosiasi Anak-anak Berbakat Nasional, Zuhairah Ali. Ternyata, Ali mengizinkan Ainan belajar di negaranya. Tidak seperti di Singapura, proses administrasi untuk penempatan Ainan belajar di universitas Malaysia hanya butuh waktu seminggu. "Kami sangat terkejut oleh keramahan dan cepatnya respon yang diberikan bagi Ainan di Malaysia. Padahal, tadinya kami mulai terbiasa dengan respon yang sangat lambat di Singapura," tutur Cawley. Dia memilih Universitas HELP bagi putranya karena dikenal sebagai kampus yang menerapkan standar yang tinggi dengan biaya yang terjangkau. Para staf universitas juga tampak memahami kebutuhan dan situasi yang dialami Ainan. Kendati jenius, dia tetap dipandang sebagai anak-anak.

Insert : Foto Ainan Celeste Cawley/dikutip dari vivanews.com/6 Januari 2010

Rabu, 30 Desember 2009

Pembelaan dan Integritas

Oleh : Imla W. Ilham

Kita ingat nabi Isa 'Alaihissalam difitnah sebagai anak haram dari perzinahan Siti Maryam (dalam tradisi Kristiani : bunda Maria), kemudian nabi Yusuf dituduh sebagai pemerkosa Siti Zulaikha, istri sang raja, Socrates dianggap oleh penguasa Athena Yunani kala itu telah merusak anak muda; dengan pemikiran-pemikiran "cerahnya", yang mulia Nabi Muhammad SAW. yang terus menerus dikatakan majnun (gila). Namun ingatkah kita bagaimana sejarah menuliskan sikap mereka ketika mendapati itu semua? Socrates sama sekali tak melakukan pembelaan padahal ia mampu, Nabi Muhammad SAW. tetap bergeming ketika menyuapi seorang pengemis buta yang selalu bercerita di sela-sela makannya bahwa Muhammad, sosok yang tak dikenalnya, adalah tukang sihir licik dan pembohong. Mereka sama-sama tak melakukan pembelaan.


Sikap mereka ini bagi saya merupakan bentuk sikap proaktif. Suatu sikap yang didasarkan pada keyakinan yang teguh bahwa kehormatan atau reputasi itu tidak berada di luar, namun di dalam diri. Karena sifatnya yang di dalam, jadi pihak luar tak kuasa untuk menjamah, mencoreng atau berbuat sesuatu yang akan merusak kehormatannya. Jadilah harga harga diri, kehormatan, dan reputasi mereka senantiasa terlindungi.


Apakah mereka hanya diam? Mungkin sikap dan tindakannya yang tak “melawan” dan tidak berusaha mengklarifikasi kabar fitnah dari orang lain itu kita baca sebagai tindakan diam. Namun sebenarnya, mereka berbicara banyak. Mereka menandingi musuh-musuhnya dengan gigih dan kuat. Bukan dengan klarifikasi, retorika, dan pengaduan. Namun dengan konsistensi dalam integritasnya.

Terinspirasi dari www.insanitis.com

Senin, 21 Desember 2009

Mulailah Belajar Berhenti Merokok

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Satu hal yang ingin saya garis bawahi, bahwa saya sangat menghormati dan menyayangi suami saya. Itu pasti. Ia imam saya dan dalam kondisi apapun yang terjadi padanya, saya harus menjadi "solusi terbaik" bagi nya. Saya adalah soulmate-nya. Dalam kondisi apapun. Banyak hal-hal yang saya kagumi darinya. Berbagai hal banyak yang saya pelajari darinya. Beberapa perubahan kontributif dalam diri saya, ia-lah yang banyak memegang andil. Di antara banyak kelebihan yang saya kagumi dari diri seorang Muhammad Ilham - ayah dari anak-anak saya - ada beberapa hal yang harus saya koreksi. Bukan menentang, tapi mengingatkan. Dua hal yang berbeda. Diantara beberapa perilakunya yang menurut saya tidak kontributif bagi potensi talenta dan fisiknya, satu per satu sudah mulai berubah. Namun ada satu yang sampai hari ini belum bisa saya atasi dari dirinya yaitu MEROKOK. Saya tahu, kebiasaan ini sudah dilakukannya sebelum menikah dengan saya. Walau bukan perokok berat, tapi bagi saya merokok tidak produktif bagi dirinya dan lingkungan. Rata-rata satu hari ia menghabiskan satu bungkus rokok Surya 16. Ketika saya minta ia berhenti merokok, ia akan berdiplomatis ..... dan biasanya saya kalah. Ia pintar menyusun kata-kata dan berargumentasi. Tapi, ia mengakui pada saya bahwa merokok adalah seseuatu yang tidak baik, dan ia berjanji akan mengurangi ...... ya, mengurangi.


Walau proses pengurangan tersebut tidak begitu signifikan, tapi yang jelas, sebagai istri saya selalu mengingatkannya. Ini adalah ibadah, wujud cinta saya pada keluarga. Akhir-akhir ini, saya tidak mengajaknya diskusi tentang rokok, tapi saya lebih suka mengumpulkan beberapa fakta (baik artikel ataupun gambar) tentang rokok, dan biasanya akan saya berikan padanya dalam suasana "diam", tanpa bicara ...... dan ia baca dan lihat. Biasanya ia akan bilang : "terima kasih ...... saya akan terus belajar untuk berhenti merokok, back up terus saya dengan arif bijaksana". Gambar dibawah ini adalah beberapa diantara gambar-gambar yang pernah saya perlihatkan pada suami saya tentang "apakah penting bagi manusia merokok ?" (saya up-load dari beberapa sumber terutama www.google.com).


Minggu, 20 Desember 2009

Buat IFA & ADEK : "Pelangi Ciptaan Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Pelangi Pelangi/Alangkah Indahmu/Merah Kuning Hijau/Dilangit yang Biru/Pelukismu Agung/Siapa gerangan ?/ ...... Pelangi ... Pelangi ..... Ciptaan Tuhan. Demikian bait nyanyi anak-anak yang dari ibu saya masih kecil hingga anak saya juga masih kecil, nyanyi "Pelangi" ini masih diminati. Sungguh fenomenal, dalam bahasa yang sederhana, mudah dicerna dan memposisikan Allah SWT. sebagai sang-maha kreator dengan "bukti" kreasi yang pantas dikagumi oleh semua orang dalam semua tingkat dan level umur serta strata. Apalagi, bagi anak-anak, melihat pelangi adalah suatu "kekaguman" luar biasa atas fenomena alam. Demikian halnya saya waktu kecil serta anak-anak saya (IFA-ADEK), yang kagum bila melihat pelangi. Mata terkadang tidak berkedip, dan .... tanpa disadari mereka akan bertanya dengan lugu-polos : "Ibu, siapa sih yang membuat pelangi itu". "Allah Azza wa Jalla, Nak !, Tuhan Seru Sekalian Alam". Dan, anak-anak saya tidak akan bertanya lagi ..... "sami'na wa atho'na". Dari "contoh" alam, akhirnya saya mudah menceritakan ke-mahabesar-an Allah SWT.


Foto : Http./www.harunyahya.com/

Sabtu, 19 Desember 2009

Sebuah Fantasi : "Kota Terapung"

Re-Write : Imla W. Ilham, S.Ag
(disadur dari eriricaldo.com)

Pernah membayangkan kota terapung di laut ? Jauh dari keramaian dan keruwetan kota, melainkan seperti wonderland impian masa kanak-kanak dan tentu saja sejalan dengan konsep desain kota masa depan yang mesti ramah lingkungan. Seorang desainer mencoba menuangkan ide kota terapung itu dan memenangkan sebuah kontes desain mengenai kelautan.


"The Swimming City" didesain oleh Andras Gyorfi, bisa jadi adalah solusi terbaik untuk penggemar petualangan di laut atau mungkin bagi banyak orang yang memimpikan terbebas dari keruwetan hidup di kota untuk menikmati hidup yang simple di laut.


Gyorfi - pemenang pertama kontes desain Seastead, berhasil menuangkan ide itu dengan baik. Desainnya meliputi fasilitas rekreasi seperti kolam renang yang luas, amphitheater outdoor, helipad, dan dermaga. Konsep “The Swimming City” dengan nuansa warna soft earth dan taman di atas atapnya, seperti mimpi masa kanak-kanak seperti halnya kebutuhan masa kini untuk hidup ramah dengan lingkungan. Di tiap sudutnya, kota yang menyenangkan ini penuh dengan detil arsitektur yang bikin surprise. Tiap area dari wonderland terapung ini bisa dengan mudah diakses melalui jalan-jalan setapak yang cantik, demikian juga jendela-jendela bangunannya yang bentuk dan ukurannya bervariasi menambah karakter uniknya.

Untuk sekarang, kita hanya bisa membayangkannya saja, entah kapan konsep kota petualangan dan eksplorasi bebas stress ini akan diluncurkan.


Rabu, 16 Desember 2009

Stres pada Anak-Anak

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala PAUD "Unggulan Sumatera Barat" Citra Al Madina Padang)


Stres bukan hanya dialami orang dewasa dengan segala macam dan jenis ragam persoalan. Pada diri anak-anak, juga sering ditemui kondisi stres. Tanda-tandanya antara lain anak sering murung, marah-marah tanpa sebab, hilang nafsu makan, dan enggan bersosialisasi. Namun, apabila kita melihat anak kita yang masih kecil sering stres, ini bukan berarti ia memiliki "track" stres untuk selanjutnya. Artinya, anak yang "berbakat" stres, kelak akan jadi mudah stres.Ada dua sumber stres pada anak, yakni nature/alami dan nurture/pengasuhan. Faktor alami bisa karena genetik atau kelainan biologis. Misalnya terjadi gangguan neurotransmitter pada saraf. Gangguan ini membuat yang bersangkutan sejak lahir akan mudah merasa cemas atau stres berlebihan, terutama bila pemicunya muncul. Sementara yang termasuk faktor pengasuhan adalah akibat pola asuh yang salah, penyimpangan interaksi keluarga atau kehidupan keluarga yang penuh dengan konflik.

Bila pola asuh orangtua positif, seperti mendukung dan mendorong anak untuk selalu aktif, memenuhi kebutuhan anak tanpa memanjakan, mengajarkan tanggung jawab dan bentuk-bentuk pengasuhan yang positif lainnya, bisa saja sampai akhir hayat mental si anak berkembang sehat. Sebaliknya, meskipun tak punya "bakat" untuk gampang stres, bila pola asuhnya tidak tepat semisal memberikan pro-teksi berlebihan, selalu meng-kritik anak, atau terlalu memanjakan, lama-lama si anak jadi tak aman dan tak mampu memahami dirinya sendiri. Hal ini menjadi "bibit" rasa rendah diri, minder, dan rasa tak berguna yang dapat berkembang menjadi gangguan mental. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat, hasilnya menunjukkan 70% gangguan mental pada anak lebih disebabkan pola pengasuhan yang salah ditambah dengan peranan lingkungan yang tidak mendukung anak untuk berkembang sehat secara mental.

Ketika mendapati tanda-tanda stres pada anak, orangtua harus mencari tahu penyebabnya agar dapat memberikan solusi yang tepat bagi perbaikan mentalnya. Untuk diketahui, kemampuan kognitif atau pola berpikir anak usia sekolah sudah berkembang pesat tetapi belum banyak diimbangi dengan kemampuan mentalnya. Pada saat menemui masalah, ia cenderung melakukan penyelesaian dengan jalan pintas. Dalam hal ini anak sudah bisa berpikir secara terencana tetapi tujuannya masih jangka pendek. Beda halnya dengan orang dewasa yang sudah bisa memperhitungkan segala sesuatunya untuk jangka panjang.

Minggu, 06 Desember 2009

IFA : "Ayah Suka Menonton Berita dan Orang Bagigiah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Malam itu, kami sekeluarga sedang berkumpul dan melakukan kegiatan santai di rumah. Suami saya sedang membaca sambil merokok (sebuah kebiasaan yang hingga hari ini saya GAGAL melarangnya). Bungsuku - ADEK - sedang berimprovisasi menjadi seorang penyanyi India (mungkin siang tadi ia menonton Film India bareng (pengasuh) Tante Fera-nya di TPI). Saya dan suami serta tante-nya tidak ambil pusing dengan kegiatan improvisasi ADEK, saya biarkan ia "lepas" tanpa mengatur dan melarang. Nampaknya, ia sangat menikmati dan saya melihat dari hari ke hari, daya imajinatif ADEK semakin tumbuh berkembang. Alhamdulillah Ya Allah. Sementar Sulungku - IFA - berada dalam "bimbingan" saya. Biasanya, pada setiap malam saya terus mendampingi IFA untuk belajar (sebuah tugas personal yang diberikan oleh suami : komitmen kami dahulu ketika baru punya anak, "Pendidikan TK dan SD anak-anak kami diserahkannya kepada saya segala yang bersangkutan dengan kebijakan, karena saya dianggapnya lebih expert pada bagian itu, semntara untuk pendidikan SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi, suami saya menganggap itu adalah ranahnya"). Karena itulah, setiap saya mendampingi IFA belajar, suami saya tidak ikut nimbrung atau mengomentari, kecuali apabila saya dan IFA menyakan sesuatu kepadanya.

Remedial membaca dan berhitung serta Iqra' selalu saya rutinkan pada IFA. Alhamdulillah, dalam usianya yang 6 tahun dan baru kelas I, IFA sudah bisa membaca tanpa mengeja - walau sedikit lambat. Sementara untuk kemampuan berhitung, capaian IFA bagi saya sudah cukup lumayan untuk anak seukuran dia. Demikian juga dengan Iqra', beliau sudah sampai pada Iqra' IV (biasanya setiap sore ia belajar mengaji di Musholla samping rumah kami). Insya Allah, tahun besok, IFA saya rencanakan masuk Les Bahasa Inggris untuk Anak-Anak (ayahnya berencana les Bahasa Inggris ini akan kontiniu diikuti IFA hingga seterusnya). Suami saya tidak mengharapkan IFA harus Juara I atau II di kelas, tapi baginya IFA ke depan menjadi anak yang memiliki kepintaran dalam bidangnya dan memiliki banyak Skill-keahlian (untuk yang ini : saya menurut saja). Namun kegiatan-kegiatan edukatif untuk IFA ini saya susun tanpa mengurangi waktunya untuk bermain dengan teman-temannya. Porsi ini saya jaga. Bahkan, ada masanya saya justru memaksa IFA untuk bermain dengan teman-temannya.

Kembali ke cerita di atas, malam itu, sebagaimana biasanya, IFA mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru SD-nya. Sambil melipat kain, saya dampingi IFA. Tugasnya tersebut tertuang dalam satu lembar kertas HVS yang telah diketik dengan komputer (huruf kapital) dengan Judul : "APAKAH KESUKAAN ANGGOTA KELUARGA?". Dalam List-Pertanyaan tersebut, mayoritas mempertanyakan, Apakah kesukaan Kamu (maksudnya : IFA). List ini kemudian memberikan ruang jawaban (garis titik-titik). Nampaknya IFA mampu untuk menjawab dan menulis jawaban itu dengan baik. Ada 5 pertanyaan di sana. Tiga pertanyaan untuk IFA, satu untuk kesukaan Ibu dan satu lagi kesukaan Ayah. Untuk pertanyaan 1-4, nampaknya biasa-biasa saja, tanpa ada yang bisa membuat saya dan suami ketawa. Namun, untuk pertanyaan yang ke-5, justru jawaban IFA membuat suami saya tertawa terbahak-bahak. Pertanyaannya : "Buatlah 2 Tontonan TV yang disukai Ayah ?". Setelah dibaca IFA, kemudian saya biarkan ia untuk berfikir sejenak, selanjutnya IFA mulai menjawab dan menulis sambil bersuara : "Ayah Ifa Suka Menonton Berita dan Orang Bagigiah". Untuk jawabannya yang pertama, saya dan suami senyum-senyum simpul, tapi untuk yang kedua (Orang Bagigiah), membuat suami saya tertawa dan terpana. "Masak Ayah suka menonton Orang Bagigiah," kata suami saya pada IFA. IFA kemudian menjawab, "Iya, IFA sering lihat Ayah menonton acara Orang Bagigiah di TV". Akhirnya, suami saya dengan lambat minta penjelasan, apa yang dimaksud dengan acara Orang Bagigiah (baca : Orang yang saling berdebat, bersitegang urat) tersebut di TV yang sering ditonton suami saya versi IFA itu. Rupanya .................. menonton acara dimana para tokoh-komentator berdebat seperti Today's Dialog dan Indo-Barometer (dua tontonan yang disukai suami saya). Diam-diam IFA memperhatikan kesukaan suami saya ini. Suami saya pun manggut-manggut.

Jumat, 04 Desember 2009

Tak Semua Hal Harus Dilayani ..... yang Penting Teruslah Berbuat !

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Karena letih menjadi rakyat biasa, maka suatu hari, seekor babi hutan membuat sebuah keputusan "fenomenal" ..... ia memproklamirkan diri menjadi raja hutan. Tanpa pikir panjang, ia kemudian bangkit dari kubangan tempat ia beristirahat, menuju singa, raja binatang buas dan menantangnya untuk bertempur. Tentu saja singa hanya memandang sekilas kepada makhluk bau ini, mengabaikannya tanpa ekspresi emosi, walaupun sang babi menggugat "otoritas" dan "kedaulatan politik"nya. Singa kemudian berlalu tanpa perlu membalas tantangannya.

Cerita ini, walaupun sederhana dan pendek, justru memberikan pelajaran bagi kita bahwa orang yang bijaksana itu tidak menghabiskan waktu mereka hanya untuk melayani gangguan orang-orang bermental rendah.

Engkau, blogger.
apa hebatnya?
memang engkau menulis bermacam - macam hal seolah engkau tahu segala
tapi apa hebatnya berwacana?
berwacana saja?

sejak aku menulis kali pertama
aku sadar sebenarnya
memang tak hebat menjadi blogger
namun lihatlah,
yang suka memancing, mereka memancing
yang suka menongkrong, mereka menongkrong
yang suka membaca, mereka membaca
yang suka menonton, mereka menonton

maka apa salahnya bagi mereka yang suka menulis untuk menulis?
apa hebatnya menjadi blogger?
tak ada! kutegaskan.


tapi aku bersumpah
pasti
ada manfaatnya menjadi blogger

semua ada masanya
sekarang berwacana
esok berkarya

atau
sekarang berwacana
sekarang pula berkarya